Legenda Buaya Putih Kali Bekasi, Kisah Gadis Jagoan Silat dan Pemuda Misterius

Legenda Buaya Putih Kali Bekasi, Kisah Gadis Jagoan Silat dan Pemuda Misterius
info gambar utama

Bekasi memang dikenal sebagai daerah penyangga ibu kota. Lokasinya sendiri berbatasan langsung di sebelah timur Jakarta untuk Kota Bekasi. Sementara untuk daerah Kabupaten Bekasi pun masih tidak terlampau jauh.

Perlahan, daerah ini pun semakin tumbuh menjadi daerah industri dan perdagangan dengan semakin banyaknya perusahaan yang mendirikan pabrik-pabrik, sehingga daerah ini juga menjadi tujuan bagi para pencari kerja.

Kalau secara budaya, memang Bekasi juga masih ada yang kental kebudayaan Betawi di bagian barat. Namun di daerah yang termasuk kabupaten Bekasi, ada pula yang mulai terpengaruh kebudayaan Sunda.

Dari kebudayaan yang berkembang di masyarakat ini, pada zaman dahulu terdapat pula sebuah legenda yang menjadi cerita turun temurun dari masyarakat Bekasi. Legenda ini menceritakan tentang adanya sosok buaya putih yang kerap ditemui di Kali Bekasi.

Legenda Buaya Putih Sang Penunggu Setu Babakan Jakarta dan Cinta Tak Direstui

Anak perempuan juragan yang ahli silat

Ilustrasi gadis ahli silat | Odua Images (Shutterstock)
info gambar

Diceritakan bahwa dahulu terdapat seorang saudagar kaya dengan titel “juragan”yang memiliki seorang putri yang cantik. Mereka tinggal di daerah tepi Kali Bekasi.

Tidak sekedar cantik, anak sang juragan ini juga sangat ahli dalam bela diri silat. Saking ahlinya, bahkan gadis ini juga memiliki berbagai jurus andalan yang menjadi senjata pamungkasnya bila memang kemampuan silatnya diperlukan untuk melawan orang-orang yang bertindak di luar batas.

Setelah usianya semakin bertambah, gadis-gadis yang seusianya bisanya sudah memiliki suami, sementara ia masih belum menikah. Sang ayah juga ingin putrinya memiliki suami yang benar-benar sesuai, mengingat bahwa keluarganya bisa dikatakan sebagai keluarga terpandang.

Sebagai upaya agar sang putri mendapatkan suami yang sesuai, si juragan ini kemudian melakukan sayembara. Aturannya, bagi yang bisa mengalahkan putrinya dalam duel silat, maka orang tersebutlah yang nantinya akan menjadi suami dari sang gadis.

Setelahnya, banyak lelaki yang tertarik untuk menerima tantangan dari sayembara ini agar menjadi suami dari anak juragan yang dikagumi oleh orang banyak. Bahkan, orang-orang yang tergolong sebagai pendekar silat banyak yang mengikuti sayembara tersebut.

Namun, semua pria yang ikut dalam sayembara tersebut bisa ditumbangkan oleh sang gadis. Dari awal sayembara dengan adu silat itu dimulai hingga hari sudah semakin gelap, tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkannya. Bahkan, stamina si gadis juga masih mumpuni.

Tak lama, muncul seorang pemuda yang tak diketahui dari mana asalnya. Tanpa berlama-lama ia langsung mencoba menantang putri juragan tersebut untuk melakukan adu silat.

Tanpa disangka, orang inilah yang cukup membuat sang gadis kewalahan. Gerakannya, lincah, cepat, dan sulit untuk ditebak. Bahkan, ia juga menggunakan kuda-kuda dan jurus yang belum banyak diketahui orang sebelumnya.

Dengan penuh usaha untuk mengalahkan pemuda tersebut, akhirnya sang putri pun kalah dalam pertandingan tersebut dan pemuda inilah yang terpilih untuk menikah dengannya.

Cerita Si Jampang, Sang "Robin Hood" Lain Asal Betawi

Pelaksanaan pernikahan yang meriah

Setelahnya, pihak keluarga pun segera menyiapkan pesta yang penting bagi sang gadis karena inilah hari di mana akhirnya ia menikah juga. Sementara calon suami beserta keluarganya menyiapkan berbagai seserahan untuk diberikan.

Ketika hari dimana si pemuda ini berjanji akan memberikan seserahan, ia tak kunjung datang. Sang gadis pun terus menunggu sembari menatap ke arah jendela hingga melamun.

Di tengah lamunannya tersebut, tanpa sadar calon suaminya beserta keluarganya pun muncul dengan tiba-tiba tanpa pertanda apapun. Hal ini agak mengganjal, namun karena terlalu bahagia, sang gadis pun segera menyambutnya. Kemudian, pesta pun dilakukan dengan meriah selama tujuh hari tujuh malam.

Setelah menikah, kehidupan mereka sangatlah bahagia hingga mereka memiliki seorang anak. Tetapi di hari kelahiran anak laki-lakinya, sang suami meminta istrinya untuk membicarakan suatu hal.

Legenda Naga Baru Klinting di Balik Keindahan Danau Rawa Pening Semarang

Suami dan alam asalnya

Ilustrasi Kali Bekasi | Detective Kancil (Google Maps)
info gambar

Di perbincangan tersebut, sang suami mengakui bahwa dirinya adalah Raja Buaya Putih yang menguasai Kali Bekasi. Mulanya, gadis yang menjadi istrinya tersebut tidaklah mempermasalahkan hal tersebut.

Tetapi, suasana berubah ketika sang suami menceritakan bahwa di alamnya terdapat raja siluman yang jahat. Sementara syarat untuk mengalahkannya adalah dengan menggunakan kekuatan dari anak yang memiliki darah keturunan manusia.

Artinya, anak mereka harus dibawa ke alamnya. Mendengar hal tersebut, sang istri kemudian menangis hebat sampai tidak mau bicara dan akhirnya mengurung diri. Sang suami pun memang menyesali hal tersebut, sebab sangat sulit untuk sang ibu berpisah dengan anaknya.

Hingga akhirnya, ia pun keluar rumah dan berjalan menuju Kali Bekasi. Melihat suaminya pergi, sang istri juga berpikiran bahwa suaminya sudah berusaha untuk mempertahankan kebahagiaan mereka sebagai suami istri selama ini. Dengan tekad yang bulat, ia pun akhirnya menghampiri sang suami dan menyerahkan anaknya.

Sang suami mulanya agak tidak rela dan kembali menanyakan kepada istrinya apakah ia benar-benar yakin dengan keputusannya. Istrinya pun kembali menegaskan bahwa ia merelakan bila anaknya dibawa ke alam lain, asalkan sang suami mau merawatnya dengan baik dan penuh kasih sayang.

Sebagai suami, pria tersebut menyanggupi kemauan istrinya, sebab anak tersebut adalah keturunan mereka dan ia juga tidak mau menelantarkannya. Dengan penuh keyakinan, ia akan terus menjaganya hingga tumbuh besar.

Setelah adanya kesepakatan antara mereka berdua, sang istri kemudian memeluk anak serta suaminya dengan erat sambil berlinang air mata sebelum mereka berdua pergi.

Akhirnya pria tersebut pun pamit pada istrinya dan segera pergi ke Kali Bekasi dan merubah wujud tubuhnya menjadi buaya putih, sementara sang anak berada di atas punggung sang ayah. Sang anak dan ayah tersebut pun terus menjauh hingga tak terlihat lagi dari pandangan sang istri dan akhirnya menyelam ke dasar sungai.

Sejak kepergian anak dan suaminya tersebut,sang istri terus mendatangi Kali Bekasi dan berjanji untuk menjaga agar. Tak cuma itu, ia juga mengimbau kepada anak buah dan masyarakat sekitar untuk tetap menjaga kebersihan kali dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Legenda Selat Sunda dan Gunung Krakatau, Tercipta dari Kemarahan Seorang Raja

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini