Cerita Si Jampang, Sang "Robin Hood" Lain Asal Betawi

Cerita Si Jampang, Sang "Robin Hood" Lain Asal Betawi
info gambar utama

Layaknya berbagai etnis di Indonesia, tentunya masyarakat Betawi memiliki berbagai cerita rakyat atau legenda yang berkembang dan diceritakan turun temurun sejak zaman dulu hingga sekarang.

Dari sekian banyaknya cerita yang berkembanh, mungkin salah satu yang sudah banyak orang ketahui adalah mengenai Si Pitung, yang mana ceritanya memiliki berbagai versi dan ada yang memiliki bumbu-bumbu mitos setempat.

Cerita Si Pitung ini pula sangat lekat dengan nilai-nilai kepahlawanan dan juga dikenal sebagai tokoh dengan tindakan yang mirip dengan cerita Robin Hood dari Inggris. Yang mana, ia adalah seorang perampok ulung, namun hasil curiannya ia berikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Soal legenda tokoh yang memiliki kisah yang demikian, ada satu lagi cerita dari Betawi dengan tindakan yang serupa, yaitu legenda Si Jampang yang merupakan seorang jawara dan ahli dalam silat.

Lalu, bagaimana kisah dari Si Jampang ini?

Mengunjungi Rumah Si Pitung, Rumah Panggung Tradisional Betawi di Pesisir Utara Jakarta

Pemuda yang cerdas

Ilustrasi SIlat Betawi | Ropik Sinyo (Flickr)
info gambar

Diceritakan bahwa Si Jampang adalah seorang pemuda yang lahir di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Ibunya berasal dari etnis Betawi, sementara ayahnya berasal dari Banten.

Namun, sejak ia kecil kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Sehingga ia pun diasuh oleh pamannya dan tinggal di daerah Grogol, Depok. Secara sifat, Jampang kecil adalah anak yang cerdas dan ulet untuk mempelajari suatu hal.

Termasuk salah satu hal yang ia pelajari sejak kecil adalah ilmu silat. Tak cuma itu, ia juga sangat lihai dalam bermain golok. Semua ini ia pelajari setelah diperintahkan untuk berguru dengan guru silat yang sudah pamannya kenal di daerah Cianjur, Jawa Barat.

Hal ini juga mengingat karena Jampang adalah anak keturunan Banten, sehingga setidaknya harus menguasai silat. Tak cuma itu, selama di Cianjur, ia juga mempelajari berbagai hal, mulai dari bercocok tanam hingga manajemen diri. Setelah kembali ke Grogol Depok, ia juga belajar mengaji.

Sehingga, di masa mudanya, ia pun dikenal sebagai seseorang yang jago dalam silat dan juga memiliki watak yang baik sehingga bisa diterima sangat baik secara sosial dengan berbagai ilmu yang ia kuasai.

Bukan Betawi, Inilah Bahasa Lokal di Kepulauan Seribu

Merantau ke Kebayoran Lama

Setelah cukup dewasa, ia pun memutuskan untuk merantau ke tanah Betawi, tepatnya di daerah Kebayoran Lama. Di sini, ia tinggal bersama teman dari pamannya dan sehari-hari membantu untuk berkebun dan berdagang.

Di sinilah ia mulai melihat berbagai ketidakadilan yang membuat hatinya bergejolak. Saat itu, ada banyak centeng yang bertindak semaunya untuk menagih uang pajak. Agar mereka mendapat pelajaran, Si Jampang pun menggunakan keahlian silatnya untuk melawan mereka.

Sebab, sesuai dengan perkataan gurunya di Cianjur dulu, gunakanlah ilmu bela diri tersebut untuk melawan ketidakadilan.

Karena si Jampang pula, perlahan orang-orang yang bertindak sewenang-wenang ini sudah tidak ada lagi aksinya di Kebayoran Baru.

Tak lama sejak masa itu, ia bertemu dengan perempuan yang nanti menjadi istrinya.

Setelah ia menikah, Si Jampang dan istrinya pun memiliki anak. Mereka hidup bahagia dan Jampang sangat menginginkan anaknya agar menjadi pribadi yang saleh, sehingga anaknya masuk ke pesantren.

Legenda Buaya Putih Sang Penunggu Setu Babakan Jakarta dan Cinta Tak Direstui

Merampok orang-orang kaya

Ilustrasi | triosn (Flickr)
info gambar

Namun, semua ini berubah ketika istrinya meninggal dunia karena sakit. Si Jampang pun mulai merasa kehilangan dan hal ini memengaruhi pikirannya. Terlebih lagi, ia juga sangat jarang bertemu dengan anaknya karena jaraknya yang jauh.

Kesedihan ini semakin bertambah setelah ia melihat bahwa masyarakat Betawi semakin tertindas. Dengan keadaan yang demikian, ia pun memutuskan untuk membantu mereka agar kehidupannya bisa lebih terjamin.

Sejak saat itu, ia memutuskan untuk merampok orang-orang kaya dan membagikan hasilnya ke masyarakat yang membutuhkan. Tindakan ini ia lakukan terus menerus hingga anaknya mendengar berita soal ini.

Hal tersebut membuat anak Si Jampang malu dan memutuskan untuk berhenti dari pesantren.

Kekosongan hatinya karena ditinggal istri membuat ia ingin menikah lagi. Salah satu perempuan yang ia incar adalah Mayangsari, istri sahabatnya yang telah meninggal. Tetapi, Mayangsari menolak keinginan Si Jampang.

Cerita ditolak, dukun pun bertindak. Demi mendapatkannya, Si Jampang rela untuk pergi ke "orang pintar" sehingga akhirnya Mayangsari menerima ajak Jampang untuk menikah dengan syarat tertentu.

Setelah setuju dengan persyaratannya, ia melakukan perampokan di rumah seorang saudagar bernama Haji Saudi yang tinggal di Bekasi. Tetapi, sayangnya ia ditangkap oleh pihak keamanan Belanda. Pasca kejadian itu, ia pun dihukum mati.

Perginya sosok Si Jampang ini sangat membuat masyarakat yang membutuhkan merasa kehilangan. Tak ada lagi sosok pahlawan yang membantu kehidupan mereka sehari-hari.

Meskipun menuju akhir hayatnya Si Jampang melakukan hal yang kurang baik, tetapi setidaknya cerita dengan nilai kepahlawanan ini masih diteruskan secara turun temurun dengan berbagai versi sebagai bagian dari budaya masyarakat Betawi.

Mi Juhi khas Betawi, Kuliner Akulturasi Batavia yang Semakin Langka



Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini