Bukan Betawi, Inilah Bahasa Lokal di Kepulauan Seribu

Bukan Betawi, Inilah Bahasa Lokal di Kepulauan Seribu
info gambar utama

Kepulauan Seribu adalah sebuah daerah yang terdiri atas gugusan pulau-pulau yang berlokasi di lepas laut teluk Jakarta.

Wilayah ini terkenal sebagai salah satu tujuan pariwisata yang memberikan keindahan panorama lautan, pantai yang bersih, serta wisata bawah lautnya.

Secara administratif, daerah ini termasuk ke dalam wilayah DKI Jakarta, yang dari hal kebudayaan dan sejarahnya sangat kental dengan suku Betawi. Namun, dengan daerah yang terpisah dari daratan utama kota Jakarta, apakah bahasa orang-orang di kepulauan ini juga menggunakan bahasa Betawi?

Jawabannya adalah berbeda. Tentunya, dengan kehidupan serta latar belakang masyarakat yang tak seperti masyarakat di Jakarta, ada berbagai hal yang membedakan masyarakat di pulau seribu ini, termasuk dari segi bahasanya.

Lalu, memangnya apa bahasa yang digunakan oleh Kepulauan Seribu ini?

3 Aktivitas Seru yang Bisa Kamu Coba di Kepulauan Seribu!

Bahasa Orang Pulo

Sebagian masyarakat, bahkan yang tinggal di daerah Jakarta mungkin belum mengenal lebih jauh mengenai bagaimana latar belakang dari masyarakat Kepulauan Seribu ini. Padahal, mereka juga sebenarnya masihlah satu provinsi.

Bahasa masyarakat di pulau ini dikenal sebagai bahasa Orang Pulo. Penamaan ini sendiri merujuk dari sebutan orang-orang di daerah tersebut yang artinya adalah orang pulau.

Kalau melihat dari segi geografis, memang lokasinya dekat dengan Banten dan Jakarta. Namun ketika mendengar orang asli Kepulauan Seribu berbicara, maka bahasanya terdengar berbeda dengan masyarakat dari kedua daerah tersebut. Meskipun begitu, terdapat pula serapan-serapan bahasa bahasa Betawi dan Banten yang umum didengar ketika mereka berbicara sehari-hari.

Dulu, Kepulauan Seribu adalah sebuah daerah yang menjadi tempat singgah orang-orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Berbagai etnis mulai dari suku Mandar, Banjar, Tidung, Sunda, Jawa, hingga Bugis pun menyatu di tempat ini dengan tujuan yang beragam, entah itu melaut atau berdagang.

Dari mereka yang datang ke Kepulauan Seribu, sebagian ada yang tinggal di sana hingga mendapatkan keturunan. Dari beragamnya etnis tersebut, ibarat sebuah melting pot, maka terbentuklah kebudayaan yang baru sebagai Orang Pulo.

Potret Pulau Kecil di Kepulauan Seribu yang Gantungkan Pasokan Listrik dari PLTS

Karakteristik bahasa Orang Pulo

Bahasa yang satu ini biasanya hanya dituturkan ketika berada di pulau asal mereka, namun ketika melaut dan bertemu orang-orang di Jakarta, tentunya mereka akan berbahasa Indonesia. Hal inilah yang mungkin membuat orang kurang mengenal bahasa Orang Pulo.

Dari penggabungan berbagai karakteristik budaya, hal inilah yang akhirnya diadaptasi hingga sekarang. Sebagai contoh, gaya bicara mereka ini cenderung bersuara keras seperti orang Sulawesi. Lalu, karakteristik bahasa dari daerah lain juga turut menjadi basis dari bahasa Orang Pulo.

Selain itu, dialek atau logat yang berbeda juga bisa ditemukan di berbagai pulau yang ada di Kepulauan Seribu, di antaranya adalah dialek Pulo Tidung, Pulo Panggang, Pulo Kelapa, Pulo Pramuka, dan Pulo Untung Jawa.

Misalnya orang di Pulau Pramuka gaya bicaranya cenderung naik turun sementara di Pulau Untung Jawa memiliki banyak pengaruh dari gaya bicara orang Betawi.

Bersumber dari penelitian berjudul Language Diversity Between Tangerang Coastal Society With Pulau Seribu Society As A Form Of Diversity In Indonesia, ada beberapa ciri khas kebahasaan dari bahasa Orang Pulo ini.

Perbedaan pertama bisa dilihat dari adanya glottal stop atau hilangnya huruf ‘k’ dan ‘t. Seperti kata ‘hanyut’ yang menjadi hanyu', ‘laut’ menjadi lau', ‘belok’ menjadi blengko', atau kunyit menjadi kunyi'.

Kedua adalah huruf ‘u’ yang berubah menjadi ‘o. Contohnya adalah ‘mau’ yang menjadi mao, ‘timur’ menjadi timor, ‘tidur’ menjadi tidor, atau ‘pohon’ menjadi pokok.

Yang ketiga tentunya adalah dari segi kata-kata yang digunakan. Salah satu yang kerap diucapkan adalah mundur-maju yang disebut sebagai atret-potret.

Beberapa kata lain dalam bahasa Orang Pulo adalah lontong isi yang disebut dengan selingkuh, kamar yang disebut sebagai pangkeng, istirahat yang disebut sebagai pangkeng, godot yang artinya menyulam benang, hingga pengentotan yang artinya adalah utang yang tak kunjung dibayar.

Begitulah sekilas pembahasan mengenai bahasa dari masyarakat Pulau Seribu. Kata-katanya ini mungkin bisa disalahtafsirkan bagi orang, khususnya masyarakat Jakarta. Tetapi, hal tersebutlah yang menjadi keunikan dari bahasa ini sebagai bahasa lokal.

Pulau-pulau Ramah Kantong di Kepulauan Seribu

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini