Misteri Pantangan Gunakan Seragam Militer ketika Kunjungi Makam Keramat Lubang Buaya

Misteri Pantangan Gunakan Seragam Militer ketika Kunjungi Makam Keramat Lubang Buaya
info gambar utama

Kelurahan Lubang Buaya di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur dikenal sebagai lokasi tujuh Pahlawan revolusi yang dibunuh pada 1965. Tetapi sebelumnya, nama Lubang Buaya telah digunakan sebelum peristiwa berdarah tersebut.

Sosok almarhum Mbah Datuk Banjir merupakan pencetusnya. Ulama yang memiliki nama asli Pangeran Syarif Hidayatullah memberikan nama daerah itu karena perjalannya ke Jakarta untuk berdakwah pada abad ke 7 Masehi.

Datuk Banjir sendiri dimakamkan di Jalan Kramat, dekat kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Makam keramat ini ramai dikunjungi para peziarah tetapi memiliki beragam pantangan untuk yang datang.

Misteri Pemakaman Trunyan, Kuburan Paling 'Wangi' di Bali

“Misalnya mau datang kemari nggak boleh pakai seragam, khususnya tentara dan polisi. Setahu saya yang dilarang itu seragam aparat. Bukan nggak boleh, tetapi dianjurkan jangan memakai seragam,” ucap Yanto Wijoyo keturunan kesembilan Mbah Datuk Banjir yang dimuat Tribunnews.

Yanto tidak mengetahui persis alasan dari Datuk Banjir memberikan pantangan tersebut. Tetapi dirinya menduga hal itu tidak lepas dari perjuangan leluhurnya sebagai pejuang saat mengusir penjajah.

“Mungkin karena terjadi perang, kekejaman segala macam dipesan seperti itulah. Kalau (pantangan ziarah) yang umum ya kan istilahnya kalau perempuannya lagi datang bulan kan nggak boleh ziarah. Kalau di sini ya pantangan ketika ziarah nggak boleh pakai seragam atribut kedinasan aparat,” ujarnya.

Ondel-ondel yang takut lewat

Bukan hanya para peziarah, rombongan ondel-ondel pun memilih memutar dan mencari rute lain untuk menghindari Jalan Kramat. Ternyata ada alasan mengapa ondel-ondel dan semua yang memakai topeng menghindari makam Datuk Banjir.

Yanto mengisahkan bahwa terdapat sumpah dan pantangan bagi yang bertopeng menginjakkan kaki dekat makam keramat tersebut. Hal ini terkait kisah Datuk Banjir yang memiliki anak lelaki yang tampan luar biasa.

“Mbah (Datuk Banjir) punya anak lelaki, ganteng, sampai direbutin banyak orang,” katanya yang dimuat Liputan6.

Misteri Makam Tua di Tengah Jalan Purwokerto yang Tak Bisa Dipindah

Ketampanan inilah yang membuat Nyi Ronggeng suka hingga membelah anak Datuk Banjir. Anak bujang Datuk Banjir tewas dengan kondisi terbelah dua. Ketika membelah pemuda tersebut, Nyi Ronggeng tersebut mamakai topeng.

Semenjak itu, kata Yanto, setiap ada topeng di sekitar makam keramat akan terbelah dua. Kalau topeng itu dipakai dan dibawa oleh seseorang, maka si pemakai dan pembawa bisa kesurupan dan jatuh sakit.

“Pernah ada yang nekat gelar pertunjukkan pakai topeng. Baru saja mulai, sudah langsung sakit, ada yang teriak-teriak di bagian belakang,” kisahnya.

Bisa celaka

Kompleks makam Datuk Banjir terletak tidak jauh dari monumen Lubang Buaya, Jakarta Timur. Ada dua jalan setapak menuju makam itu. Satu jalan agak lebar, namun harus menyusuri dinding pembatas kolam pancing.

Bila memasuki kompleks makam, dua patung harimau kecil akan menyambut peziarah. Tetapi ketika berziarah ke makam keramat ini tidak boleh asal. Karena jika coba-coba melanggar, peziarah akan celaka.

Yanto misalnya bercerita pernah seorang perempuan datang berziarah, dan tiba-tiba kakinya jeblos ke lantai keramik. Menurutnya, kaki perempuan ini terjeblos sedalam betis sembari menunjuk lantai tersebut.

Misteri Kapten Jas yang Dikeramatkan di Museum Taman Prasasti

Sementara itu tata cara berdoa, Yanto tak menyebut soal pantangan. Tetapi bila ingin berdoa dan bertawasul ke Datuk Banjir Lubang Buaya, Yanto siap membimbing mengucapkan doa-doa khusus

“Doa ini sudah diajarkan turun temurun, saya ndak bisa menyebutkannya, tapi kalau memang ingin berdoa, mari saya bimbing,” ujarnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini