Kisah Pemburu Harta Karun VOC yang Tersebar di Perairan Indonesia

Kisah Pemburu Harta Karun VOC yang Tersebar di Perairan Indonesia
info gambar utama

Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki kekayaan bawah air. Salah satunya adalah benda-benda berupa keramik, emas batangan, uang logam, guci, gerabah, piring, gelas, mangkok dan patung dari sisi kapal karam.

Dinukil dari National Geographic yang dimuat Kompas mencatat adanya 7 kapal kuno yang tenggelam di perairan Indonesia bagian barat, terutama Selat Malaka pada abad 17 sampai abad ke 20.

Beberapa kapal itu adalah Diana (Inggris), Tek Sing dan Turiang (China), Nassau dan Geldennalsen (Belanda), Don Duarte de Guerra (Portugis), serta Ashigara (Jepang), Ini belum termasuk kapal-kapal dagang abad 3 hingga 15.

Sementara itu, pada tahun 1986, dunia digemparkan dengan peristiwa penemuan 100 batang emas dan 20.000 keramik Dinasti Ming dan Ching dari kapal VOC Geldennalsen yang karam di perairan Kepulauan Riau pada Januari 1751.

Melacak Dana Revolusi: Ketika Pemerintahan Soeharto Berburu Harta di Luar Negeri

Penemu harta karun tersebut adalah Michael Hatcher, warga Australia, yang menyebut dirinya sebagai arkeolog maritim. Hatcher merupakan salah satu pemburu kapal yang dapat menemukan lokasi kapal karam berdasarkan catatan perjalanan.

“Para pemburu harta karun itu dapat menemukan lokasi kapal karam berdasarkan catatan perjalanan kapal-kapal tersebut yang tersimpan di berbagai museum atau pembuktian atas laporan dan cerita dari mulut ke mulut warga pesisir di lokasi terdekat,” kata Kepala Sub Pengendalian dan Pemanfaatan Direktorat Peninggalan Bawah Air Departemen Kebudayaan dan Pariwisata R Widiati pada 2009 silam.

Menggegerkan publik

Cerita petualangan dan temuan Hatcher itu dipublikasikan oleh Hamish Hamilton Ltd dalam The Nanking Cargo (1987). Nangking Cargo adalah sebutan kargo kapal VOC Geldennalsen yang berisi barang-barang berharga hasil transaksi perdagangan VOC.

Tentunya yang paling terkejut atas penemuan Hatcher ini adalah pemerintah Indonesia. Bagaimana tidak, barang-barang yang dilelang Hatcher di balai lelang Belanda, Christie, senilai 15 juta dollar AS.

“Waktu itu, Pemerintah Indonesia merasa kecolongan lantaran Hatcher mengambil harta karun secara ilegal atau tidak seizin pemerintah,” katanya.

Kisah Menteri Agama dalam Pusaran Perburuan Dana Amanah Soekarno

Dimuat dari Tempo, Presiden Soeharto bahkan saat itu sudah ikut memberikan perhatian dan lantas menugasi Menlu Mochtar Kusumaatmadja untuk menyelesaikan. Walau saat itu muncul perdebatan apakah Hatcher mendapatkan harta itu di perairan Indonesia.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Belanda, Te B Oekhorst, menyatakan De Geldermalsen ditemukan di perairan internasional. Selain itu, dirinya mengklaim pemerintah Belanda telah memberitahukan soal lelang itu kepada pemerintah Indonesia.

“Di samping itu, tentu saja kami merupakan pewaris yang sah dari kongsi dagang VOC,” tuturnya.

Pembelajaran masa kini

Widiati menegaskan pemerintah Indonesia tak ingin lagi kehilangan harta karun bawah air. Karena itu mereka berupaya menyosialisasikan perlindungan temuan bawah air kepada pemerintah daerah dan masyarakat pesisir.

Baginya benda-benda peninggalan bawah air ini tidak sekadar mempunyai nilai ekonomis, melainkan juga nilai edukatif dan pelestarian. Hal ini jelasnya bila benda tersebut keluar negeri, Indonesia tidak lagi memiliki peninggalan bersejarah.

Diucapkan oleh Widati, meski benda itu diam, tetapi mereka bisa memberikan informasi tentang sejarah perdagangan antarnegara melalui laut, teknologi, pembuatan benda, budaya, dan kemajuan suatu negara atau kerajaan.

Kekayaan Sriwijaya dan Polemik Temuan Harta yang Dijual Warga ke Kolektor

“Benda-benda peninggalan bawah air itu termasuk benda cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya,” katanya.

Sementara itu Profesor Pierre-Yves Manguin, arkeolog maritim asal Prancis menyatakan penemuan itu merupakan gambaran Indonesia merupakan sebuah bangsa yang membangun politik dan ekonomi melalui maritim.

“Dari temuan-temuan yang mengisahkan sejarah dan budaya bangsa-bangsa pelaut, Pemerintah Indonesia seharusnya belajar arti penting laut bagi perkembangan sebuah bangsa, bukan malah menganaktirikan laut,” kata Manguin.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini