Legenda Banta Seudang dari Aceh, Perjalanan Seorang Anak Menyembuhkan Raja yang Buta

Legenda Banta Seudang dari Aceh, Perjalanan Seorang Anak Menyembuhkan Raja yang Buta
info gambar utama

Mendengar kata Aceh, tentu banyak yang mengenal daerah ini sebagai daerah penghasil kopi dan punya bentang alam yang indah. Selain itu, mungkin ada pula yang melihat kekhasan Aceh sebagai daerah istimewa dengan otonomi khususnya.

Tapi, sudahkah kamu mengenal soal kebudayaan Aceh? Atau paling tidak mengetahui sedikit saja? Layaknya daerah lain, tentu Aceh juga kaya akan warisan kebudayaan. Namun, yang akan kita bahas kali ini adalah mengenai folklor atau cerita rakyatnya.

Ada salah satu kisah legenda dari Aceh yang bernama Banta Seudang. Menurut cerita, ia adalah seorang anak dari raja Aceh yang berusaha untuk mencarikan obat untuk ayahnya. Bagaimana kisah lengkapnya?

Legenda Selat Sunda dan Gunung Krakatau, Tercipta dari Kemarahan Seorang Raja

Sang raja yang buta dan turun takhta sementara

Dikisahkan bahwa pada zaman dulu di Nanggroe Aceh Darussalam, terdapat seorang raja yang dicintai oleh rakyatnya.

Raja ini juga memiliki permaisuri sebagai pendamping hidupnya dan suatu ketika sang permaisuri hamil dan hendak melahirkan. Saat ketika bayinya hendak lahir ini bersamaan ketika sang raja sedang berburu ke hutan.

Namun nahas, ketika di tengah perburuannya ia tidak bisa melihat rupa dari anak laki-lakinya, terjadi kecelakaan yang membuat kedua matanya tercolok ranting tidak bisa melihat lagi. Anak laki-laki itu dinamai Banta Seudang.

Sejak kejadian itu, sementara adik kandung sang rajalah yang kemudian memegang takhta kerajaan. Sementara adik raja ini berkuasa, Banta Seudang pun terus tumbuh menjadi anak yang cerdas.

Kemudian, Banta Seudang terpikirkan sesuatu mengenai siapa yang membiayai kehidupan mereka. Karena sejak kecil ia mengetahui sang ayah matanya sudah buta dan tidak bisa bekerja. Lalu, ibunya pun memberitahu bahwa si pakcik atau adik sang ayahnya yang membiayai kehidupan mereka.

Banta Seudang pun memahaminya dan menganggap sang pakcik sebagai raja adalah orang yang baik hati.

Singkat cerita, Banta Seudang dan ibunya pergi untuk menghadap sang raja. Tujuannya adalah untuk meminta agar Banta Seudang bisa bersekolah. Namun, permintaan tersebut ditolak mentah-mentah oleh sang raja sambil mencibir mereka sebagai orang yang tidak tahu diri.

Mendengar respon sang raja yang demikian, ibunya pun teramat sedih karena sudah seharusnya Banta Seudang bersekolah karena umurnya sudah cukup. Banta Seudang kemudian menenangkannya dan sejak saat itu ia bertekad untuk mencari obat untuk menyembuhkan penyakit ayahnya.

Ritual Mangkuk Merah: Panggilan Perang Maut Masyarakat Dayak

Perjalanan Banta Seudang mencari obat

Ilustrasi | Dennis van De Water (Shutterstock)
info gambar

Kemudian, Banta Seudang pun berkelana melintasi alam selama berbulan-bulan. Suatu ketika, ia sampai di hutan lebat dan menemukan sebuah balai. Kemudian, ia beristirahat. Tetapi, ia juga berpikir bagaimana bisa ada balai di tengah hutan yang lebat.

Tak lama, ada orang-orang dengan jubah putih datang ke balai untuk melakukan salat Ashar berjamaah. Usai salat, mereka pun menghilang dengan sekejap. Ternyata mereka adalah arwah waliyullah, namun Banta belum mengetahuinya.

Supaya mereka tidak menghilang, ia pun memutuskan menunggu sampai maghrib untuk memegang tangan sang imam ketika mereka datang. Rencananya pun ia jalankan hingga sang imam memahami apa tujuan dari Banta Seudang. Akhirnya, Banta pun diperintahkan untuk mengikuti seekor gajah putih dan menaikinya.

Lalu, ia bertemu dengan Mak Toyo, juru kunci dari taman milik raja yang berkuasa. Yang mana, sang raja punya 7 anak gadis yang hobi mandi di kolam yang ada di taman tersebut. Katanya, di kolam itu ada bunga bengkawali yang bisa menyembuhkan kebutaan.

Ketika hari Jumat tiba, semua putri raja datang ke taman tersebut untuk mandi. Setelah mereka selesai, Mak Toyo segera menepukkan tangannya di air kolam selama tiga kali. Tak lama, bunga bengkawali pun muncul dan diberikan ke Banta Seudang.

Namun, tanpa diketahui Mak Toyo, Banta Seudang sebelumnya telah menyelinap ke taman dan mengambil baju terbang salah satu putri raja sehingga ia tidak bisa pulang dan harus menginap di rumah Mak Toyo.

Ketika menginap, ternyata putri raja ini jatuh suka dengan Banta dan akhirnya mereka pun menikah. Kemudian, mereka pun kembali bersama-sama untuk kembali ke kediaman Banta Seudang untuk memberikan bunga bengkawali.

Setelah sampai, Banta kemudian merendam bunga tersebut di semangkuk air dan air rendamannya diusapkan ke wajah sang ayah

Secara ajaib, ayahnya pun bisa melihat kembali dan akhirnya kekuasaan kerajaan kembali ke tangannya. Seluruh warga pun turut senang karena raja yang mereka cintai bisa kembali berkuasa.

Misteri Kijang Emas yang Diburu Keberadaannya di Pegunungan Meratus

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini