12 Macam Bahasa Daerah Aceh yang Digunakan Penutur Lokal di Tanah Rencong

12 Macam Bahasa Daerah Aceh yang Digunakan Penutur Lokal di Tanah Rencong
info gambar utama

Bahasa Aceh adalah bahasa daerah yang diucapkan penutur asli suku-suku Aceh dan pendatang, yang menjadi alat komunikasi keseharian, baik di wilayah Aceh pesisir maupun daerah yang berbatasan dengan daerah lain seperti Sumatera Utara atau Sumatera Barat.

Bahasa Aceh menjadi bahasa identitas budaya masyarakat setempat. Apabila Kawan GNFI berasal dari Aceh tak ada salahnya berupaya melanggengkannya dalam keseharian agar bahasa daerah tersebut tidak punah.

Kekayaan Aceh pun bukan hanya dari keanekaragaman flora dan fauna endemiknya saja, seni berbahasa dengan ragam dialek yang luar biasa banyaknya turut memperkaya budaya yang ada di bumi Serambi Mekah ini.

Dilansir dari Peta Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menurut hasil studi sejak tahun 1991—2019 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 718 bahasa daerah. Penelitian ini diperoleh berdasarkan pengamatan dari 2.560 daerah. Angka ini bahkan tidak termasuk dialek dan subdialek.

Banyaknya suku setempat, serta faktor asimilasi maupun akulturasi dengan bahasa suku lain di luar wilayah Aceh, menjadikan bahasa lokal pun berkembang jauh lebih banyak dari yang bisa kita bayangkan.

Bagi Kawan yang ingin tahu apa saja macam-macam bahasa Aceh, sekelumit informasi berikut hanya sebagian saja yang bisa diulas. Kalau begitu, apa saja jenis bahasa daerah di Aceh?

1. Bahasa Aceh

Bahasa aceh
info gambar

Bahasa Aceh (tutur Aceh) merupakan bahasa terbanyak yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat di berbagai wilayah Aceh. Tak heran karena bahasa inilah yang menjadi lambang identitas Aceh keseluruhan. Setidaknya bahasa Aceh digunakan sekitar dua juta orang di Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Uniknya, bahasa ini juga dituturkan sejumlah masyarakat di daerah Kedah, Malaysia.

Menurut catatan sejarah, bahasa Aceh termasuk salah satu bahasa daerah yang besar di antara bahasa-bahasa daerah lain di Indonesia. Pasalnya, ada keterkaitan antara bahasa Aceh dengan bahasa-bahasa Cham yang kini masih eksis di Vietnam, Kamboja, dan Hainan di Tiongkok.

Tak hanya itu, bahasa Aceh juga dekat dengan bahasa lain, seperti bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Ada banyak kosakata Bahasa Aceh yang merupakan pinjaman dari bahasa Arab, bahasa Melayu, bahasa Indonesia, bahasa Sanskrit, bahasa Persia, bahasa Tamil, bahasa Belanda, bahasa Portugis, bahasa Inggris dan berbagai bahasa Mon-Khmer di kawasan Asia Tenggara.

Semua suku di Aceh memahami bahasa Aceh meski terdapat perbedaan pengucapan kata di sebagian kabupaten. Di bagian pesisir timur umumnya memakai logat Aceh yang lebih halus dibandingkan pesisir barat yang lebih kasar.

Dialek bahasa daerah Aceh meliputi dialek Mesjid Punteut, dialek Panthe, dan dialek Baet Lambuot dengan penutur mayoritas di kawasan Sabang, Aceh Besar, dan Pidie.

Baca juga: 5 Upaya untuk Menjaga Kelestarian Bahasa Daerah

2. Bahasa Gayo

Bagi masyarakat yang menggunakan tutur Gayo, bahasa Gayo memiliki perbedaan kosakata dan dialek seperti dalam ragam bahasa Gayo Lut, Gayo Lues, Gayo Deret, Lokop, dan Kalul. Setidaknya terdapat 4 variasi dialek, mencakup dialek Kuta Lintang, Kaloi, Remesan, dan Sarah Raja.

Tutur Gayo tersebar di wilayah Aceh, termasuk di daerah Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Kabupaten Bener Meriah serta Kabupaten Gayo Lues.

3. Bahasa Alas

Bahasa Alas merupakan bahasa daerah etnis di Tanah Alas (Aceh Tenggara). Bahasa ini terdiri dari tiga dialek, meliputi dialek Hilir (Kecamatan Bambel), dialek Hulu (Kecamatan Badar), dan dialek Tengah (Kecamatan Babussalam dan Lawe Alas).

Perbedaan dari ketiganya adalah dialek Hulu yang terkesan paling halus, Hilir paling kasar. Sedangkan dialek Tengah ada di antaranya.

Bahasa Alas berhubungan dengan ragam bahasa lain, misalnya bahasa Kluet (dituturkan oleh suku Kluet di Aceh Selatan), bahasa Singkil-Julu (Aceh Singkil), serta bahasa Batak Karo (suku Batak Karo) dan bahasa Batak Pakpak (suku Batak Pakpak).

4. Bahasa Leukon

Bahasa Leukon dituturkan masyarakat di Pulau Simeulue, yakni di daerah Desa Langi dan Desa Lafakha di Kecamatan Alafan.

Selain bahasa Leukon, masyarakat setempat memakai bahasa lain, seperti bahasa Jamee, bahasa Devayan, atau bahasa Sigulai.

5. Bahasa Jamee

Bahasa Aceh
info gambar

Bahasa Jamee merupakan bahasa yang sejarahnya dibawa oleh para tamu perantau daerah Minangkabau dan Mandailing. Kata jamee bermakna 'tamu'. Tak heran jika bahasa Jamee (bahasa Aneuk/bahasa Baiko) ini mirip dengan bahasa Padang.

Bahasa Jamee kebanyakan tersebar di pesisir barat dan wilayah selatan dari Provinsi Aceh. Terutama di daerah Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, dan sebagian kecil Aceh Barat (Pulau Simeulue dan Singkil).

Baca juga: Generasi Muda Berperan, Lestarikan Bahasa Daerah

6. Bahasa Singkil

Bahasa Singkil digunakan di Kabupaten Aceh Singkil yang wilayahnya berupa daratan dan lautan. Wilayah ini merupakan pemekaran Kabupaten Aceh Selatan di tahun 1999.

Bahasa Singkil mirip dengan bahasa Pakpak, tetapi masyarakat Singkil tidak bersedia menyebut bahasa yang dituturkan sebagai bahasa Pakpak. Selain bahasa Singkil, masyarakat Kabupaten Aceh Singkil juga berkomunikasi dengan bahasa Haloban dan bahasa Pakpak.

7. Bahasa Haloban

Bahasa Haloban merupakan bahasa yang dituturkan etnis Haloban yang bertempat tinggal di sekitar Kecamatan Pulau banyak, Kabupaten Aceh Singkil. Tutur Haloban termasuk bagian dari dialek Devayan yang digunakan untuk berkomunikasi di daerah Pulau Simeulue.

8. Bahasa Devayan

Bahasa Devayan adalah bahasa sehari-hari yang sering dituturkan oleh masyarakat suku Devayan di Pulau Simeulue. Masyarakat Devayan tergolong minoritas karena tinggal di tengah pulau di tengah Samudera Hindia. Daerah yang menggunakan bahasa Devayan meliputi Kecamatan Teupah Barat, Teupah Selatan, Kecamatan Simeulue Timur, Simeulue Tengah, hingga daerah Teluk Dalam.

9. Bahasa Temiang

Bahasa Temiang adalah salah satu bahasa keseharian yang menjadi media berkomunikasi penduduk Kabupaten Aceh Temiang dengan sesamanya. Bahasa ini begitu khas dan kental dengan dialek Melayu sebagai hasil akulturasi budaya.

Bahasa Aceh Temiang memiliki variasi, yakni bahasa Temiang Hulu dan bahasa Temiang Hilir. Perbedaan keduanya terletak dialek pengucapan huruf akhirnya.

Sebagai contoh, suku Temiang Hulu memakai huruf "O" di akhir kata. Sementara suku Aceh Temiang Hilir memakai huruf "E" di akhir kata.

10. Bahasa Sigulai

Bahasa Sigulai adalah bahasa yang bisa ditemui sebagai alat berkomunikasi masyarakat lokal Aceh. Tepatnya di sekitar Kecamatan Simeulue Barat, Alafan, dan Salang.

11. Bahasa Kluet (Kluat)

Bahasa Kluet adalah bahasa yang sering dituturkan oleh suku Kluet yang tinggal di sebagian daerah di Aceh Selatan. Bahasa ini termasuk anak dari Bahasa Gayo dan Bahasa Alas.

Bahasa Kluet memiliki tiga ragam dialek, meliputi dialek Manggamat, dialek Paya Dapur, dan dialek Krueng Kluet. Sekilas sejumlah kata dalam bahasa Kluet menyerupai bahasa Batak Karo.

Mayoritas penutur bahasa Kluet bertempat di kawasan yang dihuni Suku Kluet di Kabupaten Aceh Selatan. Hal ini mencakup Kecamatan Kluet Utara, Kecamatan Kluet Timur, Kecamatan Kluet Selatan, dan Kecamatan Kluet Tengah.

Baca juga: Sejarah Bahasa Indonesia dan Ejaannya dari Masa ke Masa

12. Bahasa Pakpak

Bahasa Pakpak adalah bahasa yang dituturkan suku Batak Pakpak dari Sumatera Utara. Bahasa ini juga digunakan berkomunikasi oleh masyarakat yang menghuni wilayah selatan Aceh yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Utara.

Asimilasi kedua kultur berbeda ini tak meninggalkan jati diri masing-masing. Sehingga bahasa Pakpak menjadi bagian dari bahasa yang dituturkan masyarakat Aceh terutama di daerah Kabupaten Singkil dan Kota Subulussalam.

Ureueng Aceh tentu bangga dengan identitasnya. Maka sebaiknya, dengan senang hati pula melestarikan kekayaan budaya Bahasa Aceh yang beragam.

Referensi: kumparan.com | kompas.com | Kamus Basa Aceh Thesaurus

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FN
KO
RP
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini