Pulau Rubiah Aceh, Surga Bawah Laut dan Pusat Karantina Haji Pertama Era Kolonial

Pulau Rubiah Aceh, Surga Bawah Laut dan Pusat Karantina Haji Pertama Era Kolonial
info gambar utama

Pulau Rubiah merupakan salah satu keindahan alam di pulau tak berpenghuni yang berada Kota Sabang Provinsi Aceh tepatnya di sebelah barat laut dari Pulau Weh. Pulau ini akan membuat Kawan terpesona serta takjub akan keindahan bawah lautnya, keelokan pemandangannya yang eksotis dan sejarah tempat ini.

Pulau Rubiah memiliki perairan yang sangat bersih dan jernih dan ombaknya yang tenang dengan suasana yang sangat membuat siapa saja akan nyaman dan betah untuk berlama-lama berada di pulau ini. Sehingga, jangan heran jika yang berkunjung ke sini bukan hanya para wisatawan lokal saja namun juga para wisatawan mancanegara sering menikmati keindahan Pulau Rubiah ini. Apa menariknya Pulau Rubiah? Berikut ulasannya!

1. Pulau Rubiah di Aceh: Tempat Sejarah sebagai Karantina Haji di Sumatera sejak Era Hindia-Belanda

Makam Ummi Sarah Rubiah | travellinkinfo.com
info gambar

Penamaan Pulau Rubiah diambil dari nama tokoh kebanggaan masyarakat Aceh yaitu Siti Rubiah yang merupakan tokoh penyebaran agama Islam di Aceh. Di mana Siti Rubiah merupakan istri dari Tengku Ibrahim seorang ulama yang bergelar Tengku Iboih dan mereka tinggal di Pulau Weh, di Iboih Pidie.

Karena perbedaan Paham mereka memutuskan untuk berpisah, dan membagi dua kekayaannya beserta tempat tinggal, di mana Tengku Ibrahim tetap tinggal di Iboih dan Siti Rubiah tinggal di samping Pulau Iboih. Beliau pun tinggal sampai akhir hayatnya, sehingga diberilah nama pulau ini Pulau Rubiah.

Karantina Haji di Pulau Rubiah Sabang | suaramasjid.com
info gambar

Bukan hanya itu, dahulunya wisata Aceh ini merupakan pusat karantina pertama untuk jamaah haji dari Aceh, Sumatera dan daerah sekitarnya. Gedung karantina haji ini dibangun sekitar tahun 1920 pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Bagi setiap orang yang hendak berangkat dan tiba dari tanah suci melalui jalur laut, wajib untuk karantina selama 40 hari di sini karena ditakutkan membawa penyakit.

Dilansir dari website Kementerian Agama, bangunan ini sudah tidak terawat walaupun begitu bangunan tua tersebut menyimpan sejumlah bukti sejarah tentang perhajian dan penerapan karantina di tanah air pada masa Hindia Belanda. Sebab itu, karantina haji bukan istilah baru di Indonesia. Di masa Hindia Belanda, jemaah haji yang akan berangkat dan pulang dari Makkah akan menetap dulu di pusat karantina selama lebih kurang 1 bulan.

Baca juga: 5 Objek Wisata Seru di Aceh

2. Pulau Rubiah Menjadi Rumah Terumbu Karang

objek wisata aceh di pulau rubiah
info gambar

Meski tidak berpenghuni kini Pulau Rubiah disulap menjadi wisata Aceh yang wajib untuk dikunjungi bagi para wisatawan yang sedang berlibur ke Aceh. Kawan yang memiliki hobi snorkeling tentu rugi jika tidak mengunjungi wisata Aceh yang terkenal dengan keindahan alam bawah lautnya ini. Terdapat 14 dari 15 biota laut yang dilindungi di Indonesia berada di pulau ini.

Untuk melakukan diving dan snorkeling, para wisata hanya dibolehkan untuk menyelam hingga 15 meter saja. Nah, bagi tidak membawa perlengkapan diving dan snorkeling, Kawan bisa menyewanya kepada pihak pengelola untuk berenang bersama ikan tropis dan terumbu karang dengan warna - warna yang sangat indah dan memesona.

Baca juga: Masjid Baiturrahman Aceh: Arsitektur Saksi Sejarah Pembakaran Belanda hingga Tsunami

3. Beragam kegiatan menarik di Pulau Rubiah Aceh

Bukan hanya diving dan snorkeling saja, ada beberapa kegiatan menarik bisa Kawan nikmati di Pulau Rubiah ini di antaranya:

  • Naik Perahu

Kegiatan yang paling menyenangkan adalah naik perahu berkeliling menyusuri Pulau Rubiah yang sangat eksotis. Kawan dapat menyewa perahu pada pihak pengelola dan memilih perahu dengan alas kaca, sehingga dapat menikmati keindahan bawah laut Pulau Rubiah dari atas perahu yang sedang melaju.

  • Pasir Pantai

Pasirnya yang bersih karena pulau ini terjaga dengan baik dan masih alami, tentu akan membuat Kawan menjadi nyaman saat bermain pasir. Bahkan ombak di pulau ini juga cukup tenang, sehingga aman untuk berenang.

  • Penginapan

Meski tidak berpenghuni, pulau ini hanya dikhususkan untuk wisata Aceh saja. Kawan bisa menginap di sini, karena ada beberapa penginapan dengan kamar yang cukup nyaman walau kecil yang dapat di sewa dengan fasilitas yang cukup. Di pulau ini juga terdapat beberapa warung kecil, untuk membeli kebutuhan Kawan.

Baca juga: Mencoba Wisata 12 Jam di Kota Banda Aceh, Cocok untuk Solo Travelling!

Referensi:

disbudpar.acehprov.go.id | nativeindonesia.com |haji.kemenag.go.id/

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Deka Noverma lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Deka Noverma.

DN
RP
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini