Menikmati Racikan Rempah yang Tersaji dalam Kuliner Tahun Baru Imlek

Menikmati Racikan Rempah yang Tersaji dalam Kuliner Tahun Baru Imlek
info gambar utama

Pada tahun 1622, VOC yang menginjakkan kakinya di kota Batavia dan melakukan perjalanan panjang untuk memonopoli perdagangan di Hindia Belanda. Salah satunya adalah membangun kota baru di Batavia.

Kaya Akan Rempah Sejak Dulu, Indonesia Jadi Produsen Kayu Manis Terbesar di Dunia

Di kota ini pemerintahan VOC menjalin kerjasama dengan saudagar lada Tionghoa dari Banten bernama Souw Beng Kong yang kelak menjabat sebagai Kapiten. Setelahnya ada jabatan Letnan dan Mayor karena populasi penduduk Tionghoanya semakin banyak.

Adanya jabatan opsir ini kemudian memberi pengaruh kepada kehidupan masyarakat Tionghoa. Terutama dalam penggunaan unsur budaya Barat yang dipadukan dengan unsur budaya Nusantara dan Tiongkok dalam kehidupan sehari-hari.

“Akulturasi budaya pun terjadi sehingga membentuk budaya Tionghoa yang khas Indonesia,” tulis Ahli Antropologi, Diyah Wara Restiyati dalam Rempah dalam Kuliner Masyarakat Tionghoa di Jakarta.

Menduplikasi leluhur

Disebutkan oleh Diyah, di Batavia, masyarakat Tionghoa kemudian menduplikasi atau mengambil contoh dari apa yang dilakukan para opsir Tionghoa dan keluarganya, salah satunya dalam bidang kuliner.

Masyarakat Tionghoa terkenal membagi kuliner dalam tiga hal yakni ritual keagamaan, hari-hari khusus, dan keseharian. Kuliner tersebut tidak hanya sebagai kebutuhan pokok tetapi menandakan perbedaan kelas sosial dan ekonomi.

Hal yang menarik bagi Diyah adalah dalam ketiga fungsi kuliner tersebut ada rempah-rempah Nusantara yang dipakai untuk memasak. Hal ini terus dilestarikan oleh para keturunan Tionghoa di Batavia.

Jalur Rempah Indonesia di Daftar Warisan Budaya UNESCO

Misalnya Lie, penjual makanan khas Tionghoa di Jakarta biasa memakai rempah-rempah yang digunakan untuk membuat sayur atau lauk yaitu lada atau merica dan jahe. Hal ini masih diterapkannya hingga kini.

Sama halnya dengan Koh Aji, penulis kuliner peranakan Tionghoa yang mengatakan bahwa selain dua rempah tersebut, masyarakat Tionghoa di Jawa juga biasa menggunakan keluak, lengkuas, kencur, daun salam dan jinten.

Dikatakannya pada makanan khas Tahun Baru Imlek seperti pindang bandeng, masyarakat Tionghoa menggunakan sereh, lengkuas, bawang putih, daun salam dan kecap sebagai bumbu penyedap makanan.

“Pindang Bandeng merupakan makanan wajib tersedia pada perayaan tahun baru bagi masyarakat Tionghoa di Jakarta karena merepresentasikan harapan untuk kesuksesan dan ketekunan yang terus berlanjut sehingga menghasilkan kemakmuran,” ucapnya.

Berbagai rempah dalam Imlek

Koh Aji menyebut rempah juga bisa ditemukan dalam kue lapis legit yang menggunakan rempah Nusantara seperti kapulaga, kayumanis, cengkeh, adas manis, dan bunga pala. Ditambah bahan Eropa seperti telur, tepung terigu, dan margarin.

Dikatakannya bahan tersebut digunakan masyarakat Tionghoa sebagai representasi harapan untuk kemakmuran. Masyarakat Tionghoa juga menggunakan kue lapis untuk perayaan tahun baru dan pernikahan.

Pada kuliner sehari-hari juga ditemukan makanan seperti siomay yang menggunakan merica atau lada dan bawang putih sebagai rempah utama. Siomay sendiri kini telah menjadi makanan khas kota Bandung.

4 Bumbu Dapur Khas Indonesia Ini Bisa Obati Kanker. Apa Saja?

Menurutnya, masyarakat Tionghoa sudah terbiasa mencampur rempah-rempah seperti pekak, pala, kapulaga, bunga lawang dan kayu manis sebagai penyedap. Bumbu masyarakat Tionghoa juga menggunakan sari atau kaldu hewani.

Baginya penggunaan rempah-rempah Nusantara pada kuliner Tionghoa merupakan bukti nyata adanya akulturasi budaya. Hal ini bahkan sudah terjalin jauh sebelum adanya pembentukan negara Indonesia.

“Oleh karena itu, ketika membicarakan mengenai budaya Indonesia, maka yang ditampilkan merupakan budaya akulturasi tersebut,” paparnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini