Sejarah Kota Singkawang yang Mayoritas Penduduknya Keturunan Tionghoa

Sejarah Kota Singkawang yang Mayoritas Penduduknya Keturunan Tionghoa
info gambar utama

Kota Singkawang yang ada di Kalimantan Barat terkenal sebagai daerah dengan penduduk Tionghoa terbesar di Indonesia. Meskipun berada di tanah Kalimantan yang menjadi tempat dari masyarakat suku Dayak, mayoritas penduduk yang ada di kota ini adalah orang-orang keturunan Tionghoa.

Hal ini pula yang membuat Singkawang menjadi salah satu pecinan terbesar di Indonesia. Di sepanjang jalan kota, kita bisa melihat unsur-unsur Tionghoa yang sangat kental sekali.

Klenteng-klenteng pun turut menjadi salah satu bangunan yang cukup umu ditemui. Sehingga, kota ini juga punya sebutan sebagai Kota 1000 Klenteng.

Lalu, mengapa orang-orang keturunan Tionghoa adalah masyarakat yang paling besar di kota ini?

Mengenal Suku-suku Tionghoa yang Ada di Indonesia

Bermula dari datangnya para penambang Tionghoa

Kota Singkawang | Sony Herdiana (Shutterstock)
info gambar

Mari kita ketahui hal tersebut dari bagaimana sejarah Kota Singkawang pada zaman dahulu. Dulunya, daerah ini merupakan salah satu wilayah dari Kesultanan Sambas yang pusat pemerintahannya berada di daerah Kota Sambas yang jaraknya sekitar 80 kilometer dari Singkawang.

Oleh orang-orang Tionghoa, daerah ini disebut sebagai San Khew Jong. Yang mana, kata ‘san’ memiliki arti gunung dan hutan, ‘khew’ berarti mulut sungai, dan ‘jong’ artinya adalah laut. Penamaan tersebut sesuai dengan bagaimana kondisi geografis dari wilayah ini.

Pada saat itu, daerah yang masih disebut sebagai Desa Singkawang merupakan daerah persinggahan dari orang-orang yang bekerja sebagai penambang dan pedagang yang berasal dari Tiongkok.

Mereka ini sengaja dipekerjakan oleh Panembahan Mempawah pada tahun 1740. Setelahnya, pada tahun 1760 Sultan Mempawah pun juga mengundang penambang Tiongkok secara besar-besaran untuk bekerja di daerah Monterado. Secara etnis, orang-orang Tionghoa ini kebanyakan berasal dari suku Hakka/ Khek dan Tiochiu,

Singkawang ini selain menjadi tempat peristirahatan juga menjadi daerah transit untuk pengangkutan serbuk emas. Sehingga, perlahan Singkawang pun berkembang menjadi daerah perdagangan.

Kota Singkawang | Damian Pankowiec (Shutterstock)
info gambar
Filosofi Kue Mangkuk yang Tak Ketinggalan dalam Perayaan Imlek

Sebagaimana bukuDari Singkawang Menuju Kebhinekaan sebutkan, daerah ini adalah entreport sekaligus pelabuhan transit kapal-kapal yang mengangkut para penambang dari Tiongkok.

Selain itu, Singkawang juga menjadi pintu bagi mereka yang hendak ke daerah pedalaman Borneo Barat, yang mana daerah ini sangat kaya dengan emas.

Singkawang sebelumnya telah ditempati oleh orang-orang suku Dayak Salako. Mereka menyebutnya sebagai Sakawokng. Uniknya, penyebutan ini pun ternyata mirip dengan penamaan yang diberikan oleh masyarakat Tionghoa setelah mereka datang ke sini.

Seiring berjalannya waktu, orang-orang Tionghoa pun mulai membangun permukiman di sepanjang sungai-sungai di daerah ini, misalnya di sepanjang Sungai Singkawang, Sungai Raya, dan Sungai duri.

Perlahan mereka juga semakin beradaptasi dengan masyarakat Dayak yang cenderung tinggal di daerah pedalaman dan orang-orang Melayu yang ada di pesisir dan hidup berdampingan dengan baik di tengah perbedaan latar belakang tersebut.

Nilai-nilai untuk menghargai keragaman ini pun terus dipertahankan dari generasi ke generasi. Bahkan, Singkawan pun dinobatkan menjadi salah satu kota paling toleran di tahun 2021 oleh Setara Institute.

Ketika Toleransi Etnis Bertemu dalam Sepiring Lontong Cap Go Meh




Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini