Lupa Sandi?

Indonesia Bukan (Hanya) Tempat Pariwisata dan Jalan-Jalan

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Indonesia Bukan (Hanya) Tempat Pariwisata dan Jalan-Jalan

Negeri ini memiliki 13.466 dari 17 ribuan pulau yang terdaftar dan terletak di lingkaran api Bumi wilayah Pasifik. Fakta tersebut tentu saja membuat realitas yang tidak terpungkiri bahwa Indonesia memiliki alam yang terbilang "wah". Pesisir pantai membentang di mana-mana, gunung aktif maupun tidak aktif menjulang tinggi disetiap pulau. Mustahil bila kawan mengatakan bahwa alam Tanah air itu tidak layak dikunjungi. 

Itu sebabnya, hampir setiap saat ulasan pariwisata di Indonesia tidak jauh-jauh dari pariwisata alam yang beragam. Mulai dari puncak gunung, hingga bawah lautan yang sangat berwarna. Semuanya disampaikan dengan rasa bangga. Tapi tahukah kita bahwa Indonesia itu bukan hanya sekadar tempat pariwisata dan jalan-jalan. 

Alam nusantara yang begitu kaya rupanya juga memberikan dampak pada manusia yang hidup di dalamnya. Lebih-lebih, manusia Indonesia dituntut untuk bisa bertahan hidup dengan medan yang sangat beragam sehingga menghasilkan intelektualitas dan kreatifitas yang sangat beragam. Salah satu hasilnya adalah kebudayaan khas diberbagai wilayah di Indonesia yang sangat bervariasi. 

Jumlah suku bangsa saja, di negeri ini terdapat paling tidak 1.340 suku bangsa menurut data BPS tahun 2010. Dari suku bangsa kita akan menemukan kebudayaan-kebudayaan yang amat beragam. Bahasa misalnya, dari data yang juga dirilis BPS, Indonesia dihuni oleh 1.158 bahasa daerah (atau 742 bahasa berdasarkan Ethnologue: Languages of the World) yang dituturkan oleh setiap-setiap masyarakat. Dan ini menempatkan Indonesia sebagai negara kedua dengan bahasa terbanyak yang digunakan di dunia. Indonesia hanya kalah dari Papua Nugini.

Baca Juga
Kepala suku pesisir Papua, Suku Kamoro, saat festival Sentani 2016 (Foto: Bagus DR / GNFI)
Kepala suku pesisir Papua, Suku Kamoro, saat festival Sentani 2016 (Foto: Bagus DR / GNFI)

Menilik intelektualitas kearifan lokal di negeri ini pun tidak jarang membuat kita terkejut karena rupanya beberapa masyarakat di negeri ini telah mengetahui banyak hal jauh sebelum dunia modern mampu mengungkap. Belum lagi soal kreatifitas, tidak hanya tentang pengetahuan tetapi juga dalam hal ekspresi diri seperti seni yang tiada henti-henti memukau dunia.

Terdapat pula kreatifitas dalam hal kuliner yang juga terus menerus membuat dunia tergiur akan kelezatannya. Meski saat ini adiboga asli nusantara belum ditemukan namun kreatifitas hasil adaptasi dari berbagai peradaban kuliner dunia di Indonesia telah terkenal di dunia internasional, rendang, nasi goreng, bakso dan bermacam jenis sambal, hanyalah beberapa contoh saja.

Interaksi manusia dengan alam nusantara pun membuat dunia berdecak kagum. Manusia laut suku Bajo

di Sulawesi, pelestarian lingkungan di kalangan suku Baduy dan masih banyak lagi bentuk-bentuk kebijaksanaan pada alam yang dilakukan oleh masyarakat negeri ini. 

Kekayaan-kekayaan tersebut tentu saja patut dibanggakan dan diperkenalkan terus menerus. 

Memang, sah-sah saja bila kawan membanggakan Indonesia lewat keasyikan tempat pariwisatanya maupun destinasi jalan-jalannya. Tapi bukankah lebih menarik bila kawan juga meluangkan waktu sedikit lebih lama untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar di setiap destinasi?

Mengamati dan menerima wawasan baru, bahwa negeri ini memiliki berbagai macam hal yang tidak terduga. Cerita-cerita baru yang selalu menjadi inspirasi bagi kawan semua dalam menjalani hidup. 

Karena memang saya dan kawan sekalian bukanlah pengelana di negeri ini. Ini adalah tanah air tempat kita dilahirkan dan atau hidup bersama. Sebagaimana Widji Tukul mengatakan

"Ini Tanah Airmu. Kita bukan turis di sini."

Menjadi bangga dan percaya diri. Kembali menjadi Indonesia sejati.

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi22%
Pilih TerpukauTerpukau44%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Pencerita yang tiada habisnya. Mencari makna untuk cipta karya. Pembelajar yang kerap lapar. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas