Lupa Sandi?

"Indonesia is the future lho, Mas!"

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar

Saya tiba-tiba teringat, pada sekitar akhir Januari 2011, saya baru saja tiba  di kota New York. Naik bis selama 4 jam dari Washington DC, tujuan saya sederhana, hanya ingin memenuhi mimpi saya waktu kecil, yakni berunjung ke Central Park, tempat setting film Home Alone II. 

Pagi itu, jalanan di Broadway sepi sekali, tak seperti biasa, karena mungkin salju begitu tebal dan hawa begitu dingin, tak banyak orang yang lalu lalang kecuali yang naik kendaraan roda empat. Berjalan kaki di trotoar pun, bukan pekerjaan mudah karena sepatu saya selalu terperosok ke salju yang tebal.

Dari kejauhan saya melihat, ada sekelompok anak-anak muda yang memegang brosur sambil sesekali memberikannya kepada (sedikit) orang yang lewat. Saya tak yakin apa yang mereka coba bagikan, meski begitu, kasihan mereka, pikir saya, sudahlah tak banyak orang lewat, hawa begitu dingin pula. 

Saya berjalan mendekati mereka dan baru kemudian saya ketahui bahwa mereka adalah anak-anak muda yang tergabung dalam sebuah organisasi kemanusiaan, yang sedang mengumpulkan donasi untuk para korban gempa di Haiti. Seperti diketahui, Haiti dilanda gempa hebat setahun sebelumnya, dan di bulan-bulan terakhir 2010 dan awal 2011, masyarakat dilanda penyakit kolera yang menyebar dengan cepat. Itulah alasan mereka berjibaku mengumpulkan dollar demi dollar.

Baca Juga

Saya yang lama berkecimpung di bidang kemanusiaan,  merasakan betul perjuangan seperti itu. Saya rogoh beberapa dollar dari dompet, dan saya masukkan ke kotak yang tersedia. Anak-anak muda itu terlihat begitu bergembira, dan mengatakan "Hi, thanks. It's been a tough 2-days". Mereka kemudian bertanya "Where are you coming from?" Mereka sedikit kaget ketika saya bilang saya dari Indonesia. Gantian saya yang terkaget  ketika mereka kemudian mengatakan (dengan sopan) bahwa mungkin suatu hari mereka akan mengadakan penggalangan dana serupa untuk disumbangkan ke Indonesia. 

Saya menahan nafas sebentar dan berniat untuk sedikit sharing tentang kondisi Indonesia. Namun saya urungkan karena hujan salju kembali turun.

Namun tak pelak, pengalaman kecil itu membuat saya berpikir sepanjang pulang berjalan kaki ke hotel. 

Mereka adalah anak-muda muda yang umurnya tak jauh di bawah saya, yang bisa jadi lebih beruntung karena mereka hidup di sebuah negara besar dan maju seperti Amerika Serikat. Begitu terbatasnya berita-berita baik dari Indonesia tersiar di negara-negara luar, terutama di barat. Mungkin mereka ada yang masih menganggap bahwa orang Indonesia masih tinggal di pepohonan dan makan dari berburu hewan di hutan. Hahaha. 

Jauh di dalam hati saya, saya sebenarnya justru prihatin juga pada orang yang masih menganggap remeh Indonesia, yang tidak memahami dan menyadari betapa negeri ini sudah banyak berbenah dan berubah, negeri yang oleh banyak ekonom dunia akan masuk dalam kekuatan 7-10 besar dunia pada 2030, negeri yang oleh Jim O'neill dari Goldman Sachman dianggap bangsa yang paling berhasil tumbuh meski sekian lama dibawah era sentralistik, dan dianggap lebih pantas masuk dalam BRIC daripada Rusia. 

Alasan kenapa saya kembali menulis hal ini, setelah 6 tahun berlalu, adalah karena awal tahun 2017 ini,  Price Waterhouse Coopers kembali menempatkan Indonesia sebagai 'calon' negara dengan ekonomi terkuat di dunia, setelah China, AS, India, dan Jepang, pada 2030, yang berarti tinggal 13 tahun lagi. 

Indonesia, sedang berbenah | tripadvisor
Indonesia, sedang berbenah | tripadvisor

Banyak yang harus dibenahi di sana-sini memang, masih banyak tantangan dan hambatan yang perlu segera diatasi. Namun menurut saya, yang cukup mendesak untuk bisa kita benahi bersama adalah bagaimana membawa aura positif dalam hari-hari kita berbangsa Indonesia.  Cukup mengherankan energi sebagian dari kita yang tanpa lelah mencaci negeri sendiri, dan selalu mencari kesalahan dan kejelekannya. Banyak yang terkooptasi dengan kepentingan-kepentingan politik, saling dukung dan saling menyerang antar pendukung.  Aura 'gelap' ini sungguh sangat tidak menguntungkan siapapun, kecuali bagi mereka yang menginginkan Indonesia tak perlu terbang tinggi. 

Saya selalu meyakini bahwa bila kita selalu berpikir negatif, maka kita hanya berpikir jangka pendek, tak ada visi, tak ada rencana-rencana jangka panjang. Inilah yang akan menghindarkan kita dari budaya berinovasi dan bekerja keras. Bisa jadi, jika hal ini menulari makin banyak elemen bangsa, dan terbangun lingkaran setan pesimisme, saya tak yakin apakah prediksi-prediksi ekonom dunia tentang Indonesia akan benar tercapai. 

Sungguh, saya ingin sekali menulis besar-besar tulisan ini dan ditempel di dahi setiap orang--> "Indonesia is the future, lho Mas"!

Pilih BanggaBangga37%
Pilih SedihSedih3%
Pilih SenangSenang4%
Pilih Tak PeduliTak Peduli3%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi49%
Pilih TerpukauTerpukau3%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie