Lupa Sandi?

Dari Angkasa, Bandara ini Akan Terlihat Laksana Hamparan Batik

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Dari Angkasa, Bandara ini Akan Terlihat Laksana Hamparan Batik

Rancangan desain Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo sudah mulai dikenalkan pada khalayak luas. Nantinya, bandara ini akan dibangun dengan mempertimbangkan nuansa khas Yogyakarta. Dari angkasa, penumpang pesawat bisa melihat bangunan terminal layaknya hamparan kain batik bermotif kawung.

Bandara Internasional Yogyakarta akan memiliki konsep yang memadukan keselerasan sentuhan budaya Jawa dengan konsep modern dan internasional. “Desain Bandara Internasional Yogyakarta ini dipilih melalui sebuah kompetisi. Namun desain tersebut baru sekedar fisik semata, sehingga perlu ada roh yang mencirikan konsep yang benar-benar Yogyakarta. Khususnya sebagai penanda Bandara Internasional Yogyakarta adalah Yogyakarta. Desain itu hanya raga, roh ada di dalamnya. Nah, roh khusus Yogyakarta itu seperti apa? Ini yang akan kami wujudkan,” kata Airport Planning Group Head Angkasa Pura Airports Yudhaprana Sugarda.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Salah satu yang ingin dituangkan dalam konsep bandara ini yaitu sebuah ruh untuk memberi pengalaman kepada pengunjung ketika masuk hingga keluar bandara. Bukan sekadar dari bentuk arsitektur tetapi semangat agar bandara ini selalu melekat di hati penumpang, baik operasional, security, layanan, dan juga hal lainnya. Bandara bukan bangunan ikonik yang harus mengadopsi sebuah proses transfer penumpang antarmoda. “Jadi, bandara bukan hanya menjadi tujuan akhir. Sebagai sebuah gerbang, Bandara Internasional Yogyakarta harus mencerminkan sebuah ‘kori agung’ sebuah kawasan. Kami ingin mempresentasikan bandara ini sebagai gerbang atau Kori Agung Ngayogyakarto Hadiningrat,” jelasnya.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Menurut Benyamin, karena bandara akan menjadi pintu gerbang Yogyakarta, maka ia harus mewakili identitas seluruh penghuni di dalamnya dan memberikan latar pengalaman baru bagi para tamunya. Untuk itu, bandara ini memiliki nuansa filosofi dan arsitektur yang kental akan warna budaya Jawa. Dari sisi arsitektur, menghadirkan rengkuhan unik pesona batik dan memadukan dengan green concept serta integrasi teknologi modern, baik operasional dan pelayanan.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Bandara Internasional Yogyakarta juga akan menjadi semacam galeri seni. Nuansa seni budaya Jawa digunakan untuk mereduksi tingkat stres penumpang. Diantaranya dengan merepresentasi desain Serat Ronggowarsito, pujangga besar Jawa abad ke-19.

Selain itu, desain interior yang memadukan nuansa Pantai Glagah dan Gumuk Pasir dihadirkan sebagai interprestasi tentang Yogyakarta bagian selatan. Di sela-selanya akan diselipkan simbol bunga wijaya kusuma yang bemakna budaya Yogyakarta yang sudah terbangun ribuan tahun lalu dan terus ada di masa yang akan datang jika generasi penerus tetap menjaga dan memperkaya budaya tersebut. Interiornya juga bakal dibuat seolah bertutur. Contohnya tulisan ‘sugeng rawuh’ atau selamat datang. Ada pula cerita soal kerakyatan, potensi desa, dan kesenian warga setempat.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Penggunaan produk lokal seperti tegel kunci penuh motif juga rencananya akan menambah suasana khas Yogyakarta. “Ada artwork berupa lampu-lampu berpola batik motif truntum yang akan bergerak mengarahkan penumpang ke arah tertentu. Artwork ini secara semiotik dapat mengarahkan penumpang. Dengan demikian, meskipun ada petunjuk berupa tulisan, tapi penumpang bisa tahu ke arah tanpa perlu membaca itu,” urai Benyamin.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Pada bagian atap bandara akan didesain dengan motif batik kawung, yang merupakan simbolisasi pencapaian menuju hakikat Ketuhanan Yang Mahaesa. Desain batik kawung juga memiliki makna titik pertemuan empat sudut penjuru mata angin. Dengan berbagai desain yang direncanakan itu, Bandara Internasional Yogyakarta didesain untuk mencapai satu titik tujuan agar pengguna bisa merasakan sensasi baru tanpa kehilangan akar budaya. 

[Arif Haryanto - Angkasa Pura Airports]

Pilih BanggaBangga62%
Pilih SedihSedih3%
Pilih SenangSenang9%
Pilih Tak PeduliTak Peduli2%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi2%
Pilih TerpukauTerpukau21%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie