Indonesia pada Desember tahun lalu berhasil menyelenggarakan ajang tahunan demokrasi sedunia, Bali Democracy Forum (BDF) yang ke-10. Meskipun sempat diwarnai ketidakpastian akibat erupsi Gunung Agung di Bali, acara tetap secara efektif diadakan di Serpong, Banten pada 7-8 Desember 2017. Forum ini tidak hanya dihadiri oleh perwakilan dari berbagai negara, tetapi juga para pemuda-pemudi dan mahasiswa-mahasiswi yang perhatian terhadap perkembangan demokrasi dunia. Salah satu mahasiswi tersebut adalah Maryna Kyrylchuk yang berasal dari Ukraina dan menjadi chairwoman pertama kalinya untuk Bali Democracy Student Conference (BDSC), sebuah konferensi pemuda yang masih terkait dengan BDF.

Maryna yang ternyata merupakan mahasiswi aktif Universitas Padjajaran (UNPAD) Bandung itu mengungkapkan bahwa demokrasi adalah hal yang penting untuk masyarakat dunia saat ini. Tidak hanya untuk negara seperti Indonesia tetapi juga untuk negara asalnya, Ukraina yang memang saat ini sedang masih mengalami gejolak politik. 

"Saya telah berpartisipasi di banyak even seperti ini, namun kali ini topiknya berbeda dan tentang demokrasi yang sangat penting untuk masyarakat. Sehingga saya telah memutuskan bahwa kami para mahasiswa bisa ambil bagian dalam even ini. Dan dengan Voice of Youth kami menunjukkan betapa pentingnya deomkrasi untuk banyak negara dan juga untuk menyebarkan demokrasi dan budaya demokratis di seluruh dunia," ujar perempuan 25 tahun itu.

Maryna Kyrylchuk (Foto: Bagus DR/GNFI)
Maryna Kyrylchuk (Foto: Bagus DR/GNFI)

Voice of Youth yang dimaksud oleh Maryna adalah sebuah dokumen yang telah berhasil dirumuskan oleh 150 mahasiswa-mahasiswi dari 61 negara di dunia yang berpartisipasi dalam BDSC. Dokumen bertema "From campus to Democracy" ini berisi rekomendasi-rekomendasi hasil pertemuan para mahasiswa tersebut dan dipresentasikan dalam sesi terakhir Bali Democracy Forum pada 7 Desember yang lalu. 

"Laporan ini merupakan isu-isu yang kami diskusikan saat diskusi panel, rekomendasi dari para pemuda untuk pemuda lainnya, juga untuk pemerintah tentang ekspektasi kami dan solusi terkait dengan penerapan demokrasi. Kami menggaris bawahi pentingnya para pemuda dan mahasiswa untuk dilibatkan dalam proses demokrasi di setiap negaranya masing-masing dan di tingkat global," kata Maryna.

Beberapa rekomendasi tersebut antara lain adalah tentang bagaimana para mahasiswa akan dapat meningkatkan kualitas demokrasi melalui pendidikan; mengajak para pemuda untuk menggunakan sosial media dan teknologi secara efektif sehingga menjadi alat yang kuat untuk menyebarkan informasi dan semangat demokrasi; dan para mahasiswa harus terus memotivasi dan menginspirasi para generasi muda untuk lebih baik dalam melakukan aktivisme melalui program pengembangan komunitas. 

Maryna pun mengungkapkan bahwa dirinya terkesan dengan para pemuda yang berpartisipasi dalam BDSC. Menurutnya mereka adalah para pemimpin yang memiliki kemampuan berbicara di depan publik yang baik, dan mahir berdebat dan berdiskusi. "Mereka juga sangat termotivasi untuk merepresentasikan negaranya masing-masing. Mereka pun sangat tertarik untuk menyusun dokumen Voice of The Youth bersama-sama," jelasnya.

Sebagai chairwoman BDSC tentunya perempuan yang tengah menempuh studi pasca sarjana Manajemen Bisnis di UNPAD tersebut tidak hanya memimpin jalannya penyusunan Voice of Youth tetapi juga mempresentasikannya di hadapan para delegasi VIP BDF ke-10. "Mulanya saya tidak mengetahui bahwa saya harus membaca dokumen itu di hadapan para delegasi VIP. Saya begitu khawatir, namun saya terus didukung dan kemudian siap untuk menunjukkan bahwa ini adalah kesempatan kami untuk menunjukkan pada para pemimpin dunia bahwa kami para pemuda ingin dilibatkan dalam proses demokrasi dalam komunitas kami dan kami menginginkan peran yang aktif dalam topik-topik dan keputusan yang berdampak pada kehidupan kami," ungkap Maryna. 

Maryna saat memimpin jalannya diskusi penyusunan The Voice of Youth (Foto: Bagus DR/GNFI))
Maryna saat memimpin jalannya diskusi penyusunan The Voice of Youth (Foto: Bagus DR/GNFI))

Maryna yang juga mahir menari Tari Jaipong itu juga mengutarakan pendapatnya bahwa dirinya berharap proses demokrasi tidak hanya berhenti di atas kertas dan hanya sampai pada pidato-pidato, tetapi juga melibatkan mereka yang aktif di masyarakat. Menurutnya para pemuda adalah bagian dari proses demokrasi, dan even seperti BDSC dipandang mampu mengubah masyarakat. 

Sementara saat ditanya tentang bagaimana BDSC seharusnya di masa mendatang, Maryna berharap bahwa BDSC di berikutnya akan tetap melibatkan para mahasiswa dan diberikan waktu yang lebih untuk konferensi. "Paling tidak dua hari agar ada waktu lebih untuk berbagi pengalaman dan ide," sarannya. 

Maryna pun berpesan untuk para pemuda bahwa para pemuda jangan takut untuk mengalami kegagalan, namun ia mengingatkan bahwa para pemuda adalah pembangun masa depan sebagai bagian dari masyarakat. "Para pemuda harus selalu terhubung, tertarik dan termotivasi oleh para pemimpin sebagai bagian dari proses demokrasi di masyarakatnya masing-masing. Sebab setiap orang memiliki kesempatan untuk mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik," pesannya. 

"Saya berharap kita bisa terus berkomunikasi dengan para peserta BDSC dan bertemu lagi di even lainnya," katanya.

Para mahasiswa-mahasiswi peserta Bali Democracy Student Conference 7-8 Desember 2017 (Foto: Bagus DR/GNFI)
Para mahasiswa-mahasiswi peserta Bali Democracy Student Conference 7-8 Desember 2017 (Foto: Bagus DR/GNFI)

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu