Universitas Brawijaya Kembangkan Kampung di Kota Malang Ini Menjadi Kampung Biogas

Universitas Brawijaya Kembangkan Kampung di Kota Malang Ini Menjadi Kampung Biogas
info gambar utama
Peran universitas dalam mengembangkan masyarakat di sekitarnya merupakan bagian dari pengabdian. Berbagai universitas dan perguruan tinggi di Indonesia pun kemudian membuat berbagai program untuk melibatkan mahasiswa dengan kehidupan masyarakat. Seperti yang dilakukan oleh Universitas Brawijaya di kota Malang yang menginisasi Kampung Biogas di Kampung Sanan.

Sebagaimana dilansir Prasetya UB (13/2) kampung Sanan yang selama ini terkenal sebagai sentra oleh-oleh kripik tempe ternyata juga memiliki potensi lain yakni limbah organik yang bisa diolah menjadi gas. Lewat Program Doktor Mengabdi, Universitas Brawijaya berusaha memanfaatkan limbah kotoran sapi.

Menariknya, meski kampung Sanan dikenal sebagai kampung tempe, di kampung ini terdapat sekitar 600 ekor sapi. Sapi-sapi tersebut ternyata banyak dipelihara oleh warga karena sapi tersebut banyak mengonsumsi sisa produksi kedelai yang digunakan untuk memproduksi tempe.

Mengetahui fakta ini, Wakil Rektor IV Universitas Brawijaya Dr. Ir. Moch Sasmito Djati, MS. mengatakan, "melalui teknologi biogas inilah kami ingin memanfaatkan limbah kotoran sapi agar tidak terbuang percuma. Sehingga bisa bermanfaat lagi bagi warga untuk penerangan maupun memasak. Selain itu, kotoran yang tersimpan dalam digester juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk organik."

Sementara itu, Rektor Universtias Brawijaya Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS. menjelaskan bahwa Program Doktor mengabdi ini merupakan program rintisan yang dilakukan oleh Universitas Brawijaya. Lewat program ini diharapkan perguruan tinggi akan bisa dekat dengan masyarakat sehingga kampus tidak hanya tentang mengajar dan meneliti tetapi juga mengabdi pada masyarakat.

Peninjauan kandang-kandang sapi oleh Rektor (Foto: Humas UB)
info gambar

"Tahun kemarin ada sekitar 72 Program Doktor Mengabdi semacam ini dengan anggaran hingga mencapai 4 miliar. Meskipun program ini dikhususkan untuk lingkungan di sekitar Kota Malang, program ini juga pernah dilakukan di perbatasan Indonesia," ujar Bisri.

Sedangkan untuk Kampung Biogas Sanan ini nantinya akan dialokasikan anggaran sebesar Rp 70 juta. Diharapkan nantinya juga terdapat anggaran tambahan dari sponsor atau CSR yang berkaitan dengan teknologi biogas seperti Petrokimia.

Bisri berharap kampung ini akan benar-benar mampu menjadi kampung wisata yang terkenal di Indonesia atau bahkan dunia internasional. "Harapan saya dengan komitmen dan kebersamaan, kampung ini bisa menjadi kampung Biogas beneran yang bersih, sehat dan bermanfaat secara maksimal serta bisa menjadikan Sanan sebagai kampung wisata seperti halnya Kampung 3G Glintung yang telah menasional bahkan menginternasional," ucapnya.

Peran Universitas Brawijaya dalam mengembangkan masyarakat di kota Malang memang telah dilakukan beberapa kali. Seperti Kampung Glintung Go Green (3G) yang telah dilakukan sejak tahun 2016. Kampung ini telah menjadi kampung percontohan dalam hal pengelolaan sampah dan ramah lingkungan. Kampung ini bahkan telah meraih penghargaan internasional.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini