Baru-baru ini warganet Indonesia dihebohkan dengan sebuah masakan dalam kompetisi MasterChef UK yang disebut kurang "crispy". Padahal masakan yang dimaksud adalah masakan khas dan paling juara di Indonesia yakni rendang yang memang dikenal dimasak sedikit basah. 

Komentar juri, yang bernama Gregg Wallace tentu saja mengundang komentar dari berbagai pihak yang mengetahui tentang rendang. Tidak lama kemudian, juri lain John Torode berkicau soal rendang yang juga tidak kalah aneh. Ia meragukan bahwa rendang ayam yang dibuat oleh Zaleha Kadir Olpin asal Malaysia adalah masakan orisinal dan hanya dianggap sebagai makanan adaptasi. Tak pelak, warganet dari empat negara, Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei bereaksi. Mereka beramai-ramai menanggapi perbincangan tentang rendang dengan tanda pagar #notcripsy (tidak renyah).

Reaksi warganet ini tentu saja menarik, karena masakan rendang sendiri terkenal dari tanah Melayu. Berbagai pihak berusaha menyebutkan orisinalitas asal masakan ini, namun wilayah asalnya masih di sekitar rumpun melayu seperti Minangkabau, Mandailing, Dayak maupun yang di luar negeri seperti di Singapura, Serawak maupun Sabah. Jenis rendang bermacam-macam, di Indonesia rendang sering dikaitkan dengan rendang daging yang berasal dari Minangkabau. 

 

Ein Beitrag geteilt von Good News From Indonesia (@gnfi) am

Nama rendang sendiri dipercaya berasal dari kata merandang yang artinya adalah memasak lama dalam bahasa Minang. Memasak lama ini bahkan menjadi ciri khas rendang. Seperti dikutip dari Tirto.id, Sri Owen dalam buku Food in Motion: The Migration of Foodstuffs and Cookery Techniques Volume 2 (1983) menuliskan, "Ini adalah satu-satunya jenis makanan yang melewati proses merebus hingga menggoreng tanpa interupsi, karenanya proses memasaknya amat panjang." Rendang sendiri merupakan masakan olahan yang sejatinya memiliki inti pada racikan bumbu dari berbagai rempah seperti bawang putih, bawang merah, cabe merah, dedaunan, jahe dan laos. 

Sementara secara catatan sejarah masakan rendang berdasarkan buku karya Fadly Rahman, Jejak Rasa Nusantara mulai populer pada awal abad 20an. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa kepopuleran rendang mencuat ketika orang-orang Eropa begitu antusias dengan resep masakan rendang. Kala itu resep rendang begitu terkenal melalui sebuah surat kabar perempuan asal Minangkabau, Soenting Melajoe yang terbit pada tahun 1912. Meski mulai populer di tahun tersebut, rendang dinilai telah ada sejak abad ke-8. 

Diceritakan, rendang pada masa itu dikenal sebagai masakan yang nikmat dan memiliki daya awet yang berbeda dari masakan daging pada umumnya. Selain itu rendang juga bernutrisi, tahan lama tanpa pendingin, serta tidak harus dipanaskan. Karena alasan ini di kalangan orang Sumatra Barat telah dijadikan makanan bekal untuk sebuah perjalanan jauh seperti untuk bekal haji ke Mekkah. Namun berbeda dengan saat ini rendang yang umumnya menggunakan daging sapi, rendang di masa itu masih banyak dimasak menggunakan daging kerbau. Sementara rendang buatan Zaleha adalah ayam rendang yang juga tidak kalah populer. 

Tampaknya alasan ketahanan pula lah yang kemudian dalam buku yang sama Fadly Rahman menyebut bahwa rendang sempat digunakan sebagai bekal ransum peperangan di masa pendudukan Jepang tahun 1940an di Indonesia bersamaan dengan Nasi Goreng. 

Reputasi rendang semakin menjulang saat Indonesia melempar program diplomasi gastronomi "Rendang Diplomacy" pada 2010 yang kemudian diikuti oleh polling CNN Travel untuk menentukan makanan terlezat di dunia pada tahun 2011. Hasilnya, rendang berhasil menempati peringkat pertama diantara 50 makanan terlezat di dunia lainnya. Masakan olahan daging tersebut mengungguli masakan terkenal dunia lainnya seperti Sushi dan Ramen dari Jepang, Tom Yam dari Thailand, Fried Chicken dan Cheese Burger dari Amerika Serikat. Polling serupa juga dilakukan lima tahun kemudian pada 2016 dan 2017, lagi-lagi rendang menempati peringkat pertama. 

Predikat tersebut tentu saja membuat popularitas rendang meningkat pesat. Mayoritas restoran masakan Indonesia di luar negeri menjual dan memperkenalkan rendang sebagai primadona. Tentu saja kepuleran rendang menjadi semacam diplomasi gastronomi yang ciamik bagi Indonesia maupun Malaysia. 

Tidak heran bila kemudian respon warganet terhadap komentar para juri MasterChef tentang rendang membuat reputasi sang juri dipertanyakan. Padahal kompetisi tersebut merupakan kompetisi memasak yang populer dan terkenal memilik juri bereputasi. 

Terlepas dari keributan soal rendang "crispy" tersebut, saya merasa bahwa reputasi rendang yang dipersepsikan begitu baik ternyata belumlah benar-benar mendunia atau mungkin sang juri yang memang buruk. Namun dari situasi ini rendang mendapatkan momentum untuk semakin populer sebagai masakan kebanggaan. Sebuah kebanggan yang sedari dahulu adalah masakan yang dibuat dengan semangat penuh cinta untuk para perantau dan pejuang yang tentu saja tidak crispy. 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu