Zohri, Rio, dan Senjata Buatan Pindad

Zohri, Rio, dan Senjata Buatan Pindad

© Athleticsweekly.com

Tidak semua media di dunia ini memuat berita-berita yang positif dari negeri kita, karena itu tidak semua orang di negara-negara lain mengetahui Indonesia walaupun negeri kita ini memiliki jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, memiliki ribuan pulau, jarak dari sabang sampai merauke seperti jarak London ke Rusia, seperti pantai barat (West Coast) sampai pantai timur (East Coast) di Amerika Serikat.

Sebaliknya berita yang tragis seperti terbaliknya kapal di danau Toba baru-baru ini di tayangkan beberapa kali di stasiun-stasiun tv internasional. Rakyat Amerika Serikat yang tidak tahu Indonesia baru tahu tentang negeri kita ini setelah ada peristiwa tsunami di Aceh yang menelan lebih dari 200 ribu jiwa. Oleh sebab itu seringkali orang meng-under estimate tentang prestasi dan potensi kita.

Misalnya senjata buatan Pindad awalnya diragukan negara-negara besar, dan baru terkejut ketika TNI kita berkali-kali menang kompetisi menembak internasional di Australia mengalahkan tentara negara-negara maju dengan menggunakan senjata buatan sendiri- dari Pindad. Dan banyak lagi contoh tentang orang negara lain belum “ngeh” tentang potensi Indonesia.

M. Zohri pelari tercepat 100 meter U-20 dunia di Tampere Finlandia sepertinya mengingatkan dunia bahwa Indonesia memiliki potensi dan prestasi dan perlu di perhitungkan dalam kompetisi-kompetisi dunia, dan Indonesia bukan hanya tentang kapal fery terbalik atau gunung meletus saja. Ketika Zohri menang di Finlandia itu sepertinya panitia penyelenggara, penonton dan komentator TV terkejut “kok bisa menang” si M. Zohri ini - padahal dia pada saat start-berada di lintasan paling pinggir, jalur yang tidak menguntungkan dibanding lintasan tengah yang ditempati pelari-pelari andalan Amerika Serikat Anthony Schwart dan Eric Harrison.

Mereka terkejut sesaat. Dan Zohri tidak peduli apakah penonton bersorak atau tidak dengan kemenangannya, setelah sujud syukur lalu berlari-lari melewati penonton yang “ketenggengen” (Jawa= terkesima) – dengan senyum penuh bangga karena dia menang mewakili bangsanya dan menunjukkan bahwa Indonesia bisa.

Kasus M. Zohri seperti Rio Haryanto pembalap F1 asal Solo yang tidak diunggulkan untuk menang pada kejuaraan GP3 seri kedua di Turki tahun 2010, sehingga pihak panitia lari pontang panting mencari bendera merah putih dan lagu kebanggsaan Indonesia untuk acara pengalungan medali kemenangannya. Panitia sepertinya tidak mempesiapkannya karena mungkin asumsinya “toh Indonesia kalah”. Sampai-sampai kabarnya pihak penyelenggara me-download lagu Indonesia Raya dari Youtube dan meminjam bendera milik pembalap Polandia yang membawa benderanya Putih Merah yang kalau di balik menjad menjadi Sang Saka Merah Putih.

M. Zohri “mengingatkan” dunia – untuk mempersiapkan bendera merah putih dan lagu Indonesia Raya bila ada kompetisi dunia di berbagai bidang seperi lari, matematika, fisika, robot, kapal bertenaga surya, paduan suara, menembak dsb, karena Indonesia bisa menang. Zohri juga mengingatkan kita sebagai bangsa untuk mempersiapkan bendera merah putih bila ada event seperti itu, kita jadi malu karena tidak mempersiapkan, sampai pelatih Amerika Serikat Mario Wilson dalam postingnya mengatakan “Someone should’ve given him a Polish flag then reverse it” ketika menyaksikan Zohri kebingungan mencari bendera Indonesia setelah dia menang.

M. Zohri juga mengingatkan kita akan semangat kebangsaan. Ketika dia berangkat dari desanya di Lombok NTB ke Finlandia untuk mengikuti kejuaraan lari dunia ini, di benaknya tidak terbesit pikiran “kalau aku menang rumahku nanti di renovasi pemerintah”, “aku dapat beasiswa”, “aku dapat jutaan rupiah dari Kemenpora dan Pengusaha” dsb dsb. Yang ada di benaknya hanya lari sekencang-kencangnya untuk menang demi kejayaan nama Indonesia di kancah internasional”. M. Zohri tidak perlu mengatakan di depan TV “Aku Pancasila, Aku Indonesia”; semangat dia untuk menang demi Indonesia sudah menunjukkan nasionalisme nya dia.

Kita jadinya seperti panitia, penonton dan komentator TV di kejuaraan lari dunia ini, nggak “ngeh” atas prestasi Zohri, baru “ngeh” setelah video kemenangannya viral, atau video tentang kondisi rumah Zohri yang berlantai tanah dan berdinding “gedek” (Jawa= anyaman kayu/bamboo) juga viral. Baru kita berbondong-bondong memberi apresiasi, kita juga berkelit seperti politisi ketika di kritik kenapa tidak mengetahui kondisi rumah Zuhri dengan menjawab sekenanya - “sebenarnya sebelum Zuhri berangkat kita sudah merencanakan merenevoasi rumahnya”.

M. Zohri juga mengingatkan pada kita semua agar kalau kita keluar negeri untuk berbagai tujuan seperti acara diplomatik, sekolah, ikut kompetisi bahkan sebagai penonton pun kita harus menyiapkan hal-hal tentang Indonesia, bendera, poster, foto-foto budaya dan hasil pembangunan negeri selama ini, T-Shirt dari berbagai daerah dsb, biar orang dari negara lain tahu tentang Indonesia Di ajang piala sepakbola dunia di Rusia, ada penonton dari Malaysia yang memakai baju tradisionalnya- dan mengatakan pada wartawan agar dunia tahu Malaysia; penontoh Mexiko, Brazil bahkan Spanyol menyelenggarakan acara budaya mereka di jalan-jalan kota Moskow.

Indonesia dulu dibidang kejuaraan internasional sudah dikenal dunia, ketika saya kecil tahun 60 an di Surabaya saya ikut menonton pertandingan PSSI melawan tim sepakbola Uni Sovyet – ingat saya Dynamo atau Spartak. Kita bangga PSSI ternyata mampu melawan tim dunia. Saya juga ikut merinding ketika ikut-ikutan orang –orang kampung mendengar radio RRI dan bersorak gembira tentang kemenangan tim bulu tangkis Indonesia di ajang Thomas Cup. Saya juga bangga ketika Rudy Hartono orang Surabaya yang bertempat tinggal di Jl. Basuki Rakmat dekat Tunjungan Surabaya jadi juara bulutangkis dunia berkali-kali.

Sekarang Indonesia dikenal lagi diajang lomba dunia lewat M. Zohri. Dia beserta para juara internasional lainnya anak-anak bangsa Indonesia dibidang lomba Robot, Matematika, Fisika, Perahu tenaga surya, Paduan Suara, Bulutangkis, Menembak dsb dsb telah mengingatkan pada dunia bahwa INDONESIA BISA JUARA.

Terima Kasih Zohri.

Pilih BanggaBangga52%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang4%
Pilih Tak PeduliTak Peduli4%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi30%
Pilih TerpukauTerpukau9%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Yogyakarta Jadi Tujuan Pertama Obor Asian Games di Indonesia Sebelummnya

Yogyakarta Jadi Tujuan Pertama Obor Asian Games di Indonesia

Perolehan Medali Sementara ASEAN School Games 2019 Selanjutnya

Perolehan Medali Sementara ASEAN School Games 2019

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.