Arsitektur Kampung Laweyan dan Aktivitas Batiknya

Arsitektur Kampung Laweyan dan Aktivitas Batiknya
info gambar utama

Seperti disebutkan di artikel sebelumnya bahwa Kampung Laweyan terkenal dengan sebutan kampung Batik Laweyan. Tidak hanya menarik wisatawan dengan produksi batiknya, arsitekturnya tak kalah menarik untuk dikunjungi dan dipahami; yang kemudian akan membuat anda paham bagaimana sesungguhnya seluruh komponen di kampung ini saling mendukung satu sama lainnya.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar

Saat saya berkunjung ke Kampung Batik Laweyan, kebetulan saya dan teman-teman lainnya diajak berkeliling oleh dua orang mas-mas yang bertindak sebagai pemandu. Dari dua mas-mas inilah saya mendapatkan berbagai informasi lengkap mengenai Kampung Batik Laweyan yang ada di Kota Solo ini.

Saat memasuki lorong-lorong perkampungan, tembok-tembok tinggi terasa sekali mengapit lorong-lorong tersebut. Di balik tembok-tembok tersebut rupanya banyak ditemui industri rumahan yang bergerak di bidang tekstil khususnya Batik. Tak hanya bertembok tinggi, rumah yang juga memiliki fungsi sebagai galeri pembuatan batik tersebut juga luas, beberapa pintu tampak terbuka saat saya dan teman-teman melewatinya lantas terlihat betapa luasnya bagian dalam rumah tersebut.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar

Mas-mas yang memandu perjalanan saya dan teman-teman kali ini menjelaskan bahwa rumah-rumah yang ada disini memiliki tembok yang tinggi dengan dua tujuan; tujuan keamanan karena banyak warga kaya raya yang memiliki harta benda dan tidak ingin harta bendanya dicuri; dan untuk menjaga rahasia dari motif modifikasi supaya tidak ditiru oleh competitor lainnya. Bahkan, dari ketakutan tersebut kemudian berdirilah sebuah kelompok ronda yang menjadi cikal bakal Sarikat Dagang Islam yang dipelopori oleh KH Samanhoedi.

Salah satu sudut tembok yang tinggi di Kampung Batik Laweyan | Foto: Vita Ayu Anggraeni
info gambar

Kebanyakan warga di Kampung Laweyan ini merupakan keluarga dari satu sama lain; hal tersebut dapat dilihat dari ada atau tidaknya pintu butulan di antara rumah ke rumah yang lain. Rumah yang memiliki pintu butulan berarti memiliki hubungan keluarga dengan pemilik rumah dimana pintu butulan tersebut menyambung.

Berbicara keamanan, karena pada zaman dahulu belum ada bank konvensional seperti sekarang ini, rata-rata masyarakat kampung Laweyan menyimpan harta bendanya di tempat penyimpanan khusus. Bagi mereka lokasi yang paling aman adalah ruangan khusus di bawah tanah, bunker.

Satu-satunya bunker yang masih tersisa di kawasan Kampung Batik Laweyan | Foto: Vita Ayu Anggraeni
info gambar

Konon bunker-bunker tersebut sudah ada sejak jaman Kerajaan Pajang, namun sayangnya kini hanya tinggal tersisa satu buah bunker yang masih bisa dikunjungi, bahkan saya sempat turun ke bawahnya, meskipun sudah tidak difungsikan sebagaimana fungsi awalnya.

Sebuah bunker yang masih ada tersebut berada di rumah inti milik pak Muryadi, seorang pria paruh baya kelahiran 1948.

Perabot vintage di rumah inti pak Muryadi | Foto: Vita Ayu Anggraeni
info gambar

Sempat berdiskusi sebentar, saya ketahui bahwa pak Muryadi ini sudah tinggal di rumah ini sejak ia lahir dimana dulunya rumah ini merupakan peninggalan orang tua beliau.

Pak Muryadi di depan gerbang rumahnya | Foto: Vita Ayu Anggraeni
info gambar

Di depan rumah pak Muryadi terdapat gerbang yang sesungguhnya merupakan tipikal pintu gerbang rumah-rumah di kawasan Laweyan. Uniknya, hampir di setiap gerbang terdapat sebuah pintu kecil tambahan.

Kedua pintu tersebut memiliki fungsi yang sama untuk memasuki atau keluar dari rumah, namun berbeda atas siapa penggunanya. Pintu utama digunakan oleh sang pemilik rumah dan tamu atau keluarga, sedangkan pintu kecil digunakan oleh para pekerja atau buruh di rumah tersebut. Jelas sekali terlihat perbedaan status sosialnya.

Salah satu pintu gerbang yang memiliki pintu utama dan pintu kecil di Kampung Batik Laweyan | Foto: Vita Ayu Anggraeni
info gambar

Namun hal tersebut bukan masalah bagi para pekerja atau buruh karena hal tersebut juga merupakan salah satu cara untuk menghormati atasannya. Kebanyakan buruh yang dulunya bekerja di Kampung Laweyan ini merupakan warga desa sebelah yang menjadi buruh batik di Kampung Laweyan.

Masih saat menyusuri lorong lainnya, saya melihat seperti bilik kecil di lantai dua yang menjorok ke luar, kemudian saya ketahui bilik di lantai dua tersebut memiliki fungsi sebagai tempat sholat. Masih berhubungan dengan aktivitas utama di kampung ini; produksi batik, para buruh batik disediakan tempat untuk sholat di bilik tersebut untuk menghemat waktu perjalanan jika harus ke masjid mengingat zaman dahulu belum ramai sepeda motor.

Semua perjalanan di Kampung Laweyan ini ditempuh dengan berjalan kaki lho, seolah merasakan bagaimana zaman dahulu yang juga kemana-mana ditempuh dengan berjalan kaki. Kaki saya yang biasanya mengandalkan kendaraan pribadi atau ojek online untuk commuting ini pun rasanya meronta-ronta.

Kamar hotel di The Nyaman Hotel, Solo | Foto: Vita Ayu Anggraeni
info gambar

Untungnya lokasi saya menginap tidak begitu jauh dari Kampung Laweyan, ya kira-kira 9 menit perjalanan menggunakan mobil. Sebegitu sampai di hotel, saya menghempaskan badan di atas empuknya kasur hotel yang nyaman senyaman namanya.

Solo, selalu tidak pernah gagal membuat pengunjungnya merasa nyaman dan aman, seperti di rumah.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini