Meniti Jalan Penulis, Ini 5 Kunci Utama Menulis

Meniti Jalan Penulis, Ini 5 Kunci Utama Menulis
info gambar utama

No one is posting their failure.

Ya, saya sangat setuju dengan pernyataan tersebut. Salah satu media sosial saya berteman dengan banyak narablog, dan seringkali ketika menang, mereka mem-posting kemenangan mereka tersebut.

Tidak salah sih, karena dengan posting tersebut saya jadi bisa membaca tulisan mereka untuk mempelajari bagaimana membuat pola tulisan yang bagus.

Tetapi di sisi lain, saya tidak memungkiri bahwa posting mereka tersebut membuat saya sering tidak sabar berada di jalan penulis ini. Saya ingin segera membuahkan hasil dan menikmati hasil tersebut.

Titik Nol

Saya lupa, bahwa setiap orang pasti pernah menjadi titik 0 (nol). Mereka yang sering menang lomba tersebut, pasti pernah menjadi seorang pemula, terbata-bata dalam menulis.

Pernah ikut lomba dan kalah, dan tentu saja mereka tidak pernah memberitahukan hal itu ke 'dunia'. Tetapi entah kenapa saya sering melupakan hal ini, bahwa keahlian itu pasti berawal dari menjadi amatir terlebih dahulu. Tidak ada yang tiba-tiba langsung menjadi ahli. Semua pasti butuh proses.

Teringat nasihat bijak yang sering digaungkan oleh seorang kawan. Bahwa seekor kupu-kupu bisa menjadi sangat indah setelah ia melewati fase kepompong yang sangat menyiksa.

Bahwa untuk menjadi mutiara, seekor kerang harus rela menahan sakit yang berkepanjangan karena pasir yang mengendap di tubuhnya. Ya, memang di dunia ini tidak ada yang instan untuk menjadi seseorang dengan keahlian tinggi.

5 kunci utama menulis

Saya pernah mengirimkan sebuah kisah pribadi tentang menjadi seorang working mom untuk disertakan dalam kompetisi buku antologi yang diadakan oleh sebuah penerbit mayor. Dua minggu kemudian, saat diumumkan, ternyata kisah saya lolos untuk dibukukan.

Di bulan berikutnya, saya mengikuti dua lomba menulis yang diadakan oleh dua media berita yang berbeda. Tetapi sayangnya, saya kalah di kedua lomba tersebut.

Dari tiga kompetisi yang telah saya ikuti (baik menang maupun kalah), ditambah dengan membaca tulisan dari para pemenang lomba, saya jadi mengevaluasi bagaimana agar dapat membuat tulisan yang 'enak dibaca'.

Dari evaluasi tersebut, saya dapat menyimpulkan lima hal yang menjadi kunci dalam menulis, yaitu sebagai berikut :

Luruskan niat, utamakan berbagi hikmah

Maksud luruskan niat di sini adalah kita menulis bukan karena mengejar hadiah, pujian, jumlah likes, atau komentar.

Pengalaman saya, ketika saya berambisi untuk mendapatkan hadiah dari suatu lomba menulis, tulisan saya menjadi tidak tulus. Fokus saya adalah bagaimana membuat tulisan yang berkesan.

Memang itu bagus, tetapi akhirnya hikmah yang ingin saya sampaikan malah kurang menonjol, sehingga tulisan saya tidak lolos.

Jadi, saat kita akan membuat sebuah tulisan, niatkan untuk berbagi hikmah, pengetahuan, gagasan, menanamkan nilai pada yang lainnya, bukan sekedar cerita keren tapi tak bermakna.

Banyak membaca

Membaca adalah investasi kita untuk menulis. Jika tidak ada yang dibaca, hampir dapat dipastikan kita akan kekurangan ide. Tulisan kita akan menjadi kurang kaya.

Maksud kurang kaya di sini adalah tidak mendalam, tidak ada gagasan baru yang ditawarkan. Ini adalah evaluasi saya ketika mengikuti lomba menulis di sebuah media berita. Dibandingkan dengan tulisan para peserta lain, tulisan saya terlihat begitu biasa.

Selain menambah kosakata, membaca tulisan orang lain juga dapat memperkaya pengalaman kita untuk membuat tulisan yang berkualitas, sehingga ‘feeling menulis’ kita menjadi semakin terasah.

Membaca

Perbanyak riset

Jika akan menulis yang temanya agak 'berat', seperti seputar ke-Indonesia-an, diperlukan banyak riset. Bagi saya, tema ini agak berat karena membutuhkan banyak data.

Data yang ditulis tidak bisa sekadar "katanya", melainkan sudah terbukti, ada penelitiannya, dan terukur. Akan lebih bagus jika menampilkan data yang berbentuk infografis.

Menulis dengan hati, bukan karena terbebani

Pengalaman saya, menulis dengan rasa terbebani terjadi ketika saya menulis mendekati waktu tenggat akhir (deadline). Saya pernah memaksakan diri untuk menulis satu hari sebelumnya. Akhirnya, saya sendiri merasa agak tertekan, karena merasa terjepit waktu.

Akibatnya, yang keluar adalah hormon adrenalin, bukan hormon oksitosin. Dalam kondisi hormon adrenalin lebih banyak akan membuat otak sulit untuk mengeluarkan ide-ide yang brilian.

Bebeda ceritanya jika menulis dua minggu sebelum deadline. Tentunya akan menghasilkan tulisan yang lebih baik, dibandingkan menulis satu hari atau bahkan satu malam sebelumnya.

Pasalnya, dengan semakin banyak waktu yang dimiliki, saya jadi memiliki waktu lebih banyak untuk memikirkan bagian mana yang akan diangkat, konflik mana yang akan ditulis, dan self-editing yang cukup.

Menulis dengan hati dapat juga berarti melibatkan seluruh emosi kita saat menulis sesuatu. Saat emosi terlibat, kita jadi dapat menjabarkan lebih rinci suatu gambaran keadaan.

Contohnya, saya ingin menunjukkan kemarahan dan kekesalan saya. Maka saya menulis sebagai berikut :

Saking marahnya, suara saya jadi bervolume maksimal. Mungkin satu ruangan kantor mendengar suara saya. Tetapi saya masa bodoh. Setelah puas mengomel dengan suara penuh, kepala saya tiba-tiba terasa sakit. Ah, rupanya tadi saya berada di puncak amarah, akumulasi kekesalan dari sikap dia. Dan sepertinya marah saya hingga ke ubun-ubun, karena seluruh energi saya terkuras. Sekarang badan saya jadi terasa agak lemas.

Dari tulisan di atas dapat tergambar jelas kemarahan saya, karena memang saat menulis itu, ada emosi yang turut bermain.

Sering latihan menulis

Saya sering mendengar bahwa kontribusi bakat dalam kesuksesan itu hanya 1%. Sisanya? Kerja keras. Artinya, kita harus sering mengasah kemampuan menulis kita.

Satu atau dua kali menang lomba menulis belum tentu sama dengan tulisan kita sudah bagus. Perbanyak menulis dan membandingkannya dengan tulisan orang lain akan membuat kita jadi lebih paham tentang bagaimana menghasilkan tulisan yang bagus.

Kira-kira lima hal di atas yang dapat dijadikan kunci untuk memperbaiki kualitas tulisan. Jika pun kita ingin menguji kualitas tulisan dengan mengikuti lomba menulis lalu kalah, jangan patah arang atau surut untuk menulis.

Saya percaya, jika kita benar-benar menulis untuk menyentuh hati orang lain, pastinya akan ada hati yang tersentuh, meski hati juri belum tersentuh, hehe. Itu adalah cara saya untuk mengapresiasi diri, tetapi tentu saja saya tetap harus belajar dari kekalahan tersebut.

Karena penulis sejati adalah mereka yang tak pernah menyerah untuk menghasilkan tulisan yang menyentuh banyak orang.


Sumber: pengalaman pribadi. Tulisan ini sekaligus untuk mengingatkan diri saya, agar terus menulis

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini