Didi Kempot dalam Perjalanan Musik Modern Jawa

Didi Kempot dalam Perjalanan Musik Modern Jawa

Poster film "Sobat Ambyar" yang diunggah di akun Instagram pada 23 Februari 2020. (Foto: Instagram @didikempot_official)

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Ketika Didi Kempot meninggalkan kita pada awal bulan ini, ia membuka mata betapa musiknya telah mampu melintasi jarak budaya dan generasi. Oleh Didi kempot, musik campursari tidak lagi identik dengan orang suku Jawa dan generasi yang relatif tua.

Milenial adalah salah satu segmen penggila “Lord” Didi, walaupun mungkin tidak terlalu fasih berbahasa Jawa. Akibat Didi, musik Jawa tidak hanya diperdengarkan di arisan keluarga trah-trah atau acara perkawinan, tapi juga menyeruak di spot konser musik kekinian seperti M Bloc dan The Pallas, Jakarta.

Tulisan ini mencoba menelusuri kembali musik modern Jawa secara ringkas. Disebut musik modern untuk membedakannya dengan musik tradisi, yakni gamelan atau gending.

Awalnya saya mau menyebutnya musik pop Jawa. Namun, dalam perjalanan menulisnya, saya menemukan bahwa tidak semuanya bisa disebut pop karena ada variasi genre yang cukup signifikan, yaitu keroncong, dangdut, rap, hingga hip-hop. Jadi, bolehlah saya menyebutnya musik modern sebagai kategori yang longgar.

Keroncong: Dari Portugis ke Cengkok Jawa

Bagaimana perjalanan musik asal Portugis menjadi salah satu musik yang identik dengan musik Jawa ini mungkin memerlukan penelusuran tersendiri. Ada juga ahli musik yang mengatakan keroncong adalah musik asli Indonesia karena sudah begitu jauh dari musik fado asalnya, akibat interaksi budaya di Nusantara sejak abad ke-16.

Gesang Martohartono
Gesang Martohartono, penggubah lagu abadi "Bengawan Solo". Pada 2017, pemerintah kota Solo secara resmi mengusulkannya menjadi pahlawan nasional. (Foto: tentang-sejarah.blogspot.com)

Gesang memberi sumbangan besar dalam pengembangan keroncong langgam Jawa walaupun tidak semua lagunya berbahasa Jawa. Keroncong yang semula cepat dan bernuansa mars menjadi lebih lambat (80 bit per menit) dan mendayu seperti yang kita kenal sekarang.

Karya monumental Gesang tentu saja “Bengawan Solo” yang ditulisnya pada 1940 ketika berusia 23 tahun. Konon, ia membutuhkan waktu enam bulan untuk merampungkan mahakaryanya itu. Selain itu, Gesang juga menulis lagu bernuansa perjuangan kemerdekaan, seperti “Jembatan Merah”.

Penggubah lagu yang punya andil besar dalam keroncong langgam Jawa adalah Andjar Any, yang pada 1954 menulis lagu “Yen ing Tawang Ana Lintang” dilanjutkan dengan lagu-lagu “Jangkrik Genggong” dan “Taman Jurug”.

Selain dari sisi musikalitas, pembeda keroncong langgam Jawa adalah teknik vokal yang dikenal dengan “cengkok”. Secara umum, cengkok adalah improvisasi vokal yang khas yang kemungkinan dipengaruhi gaya menyanyi lagu Jawa tradisional. Cengkok ini yang menunjukkan kelas penyanyi keroncong seperti Waldjinah dan Soendari Soekotjo.

Musik Pop Jawa 1970-an

Setelah era keroncong, jagat musik modern Jawa diramaikan oleh musik pop Jawa yang salah satunya dirintis oleh Koes Plus. Tentu pada era ini, musik keroncong tidak serta-merta hilang, tetapi berdampingan dengan genre baru musik Jawa.

Koes Plus harus dicatat sebagai salah satu musisi pertama yang membuat lagu dan rekaman musik modern Jawa dengan mengeluarkan album Pop Jawa Volume 1 dan Volume 2 pada 1974 (sumber lain menyebut album Vol 1 diterbitkan pada 1973).

Dari album Pop Jawa Vol 1 masyarakat Indonesia mendengar lagu “Tul Jaenak” yang masih terngiang di telinga sampai saat ini. Menurut Yok Koeswoyo, lagu itu merupakan sindiran halus terhadap zaman susah, terutama berhubungan dengan ontran-ontran pasca-G 30 S. Tercatat sampai 2000, Koes Bersaudara masih mengeluarkan album pop Jawa.

Koes Plus Album Pop Jawa Vol 1
Piringan hitam abum Pop Jawa Vol 1 Koes Plus.
(Foto: wongpoeri.blogspot.com)

Keroncong langgam Jawa akan bertemu dengan perkembangan musik pop Jawa 1970-an pada sosok Mus Mulyadi. Sebenarnya Mus Mulyadi adalah penyanyi pop yang sudah sukses bersama grup The Favourite yang juga diisi oleh musikus andal A. Riyanto dan Is Haryanto.

Di sela-sela kesibukannya, Mus Mulyadi mencoba merekam lagu keroncong. Salah satunya “Rek Ayo Rek” ciptaan Is Haryanto. Lagu Mus Mulyadi lainnya adalah “Dewi Murni”, “Kota Solo” dan “Dinda Bestari” yang ternyata meledak di pasaran, Akhirnya, Mus Mulyadi meninggalkan band dan fokus pada karier solo di lagu-lagu keroncong.

Is Haryanto yang sebelumnya bersama Mus Mulyadi dan A. Riyanto dalam band pop The Favourite akhirnya memfokuskan diri sebagai komposer lagu dan bekerja sama dengan banyak penyanyi.

Sebagian karyanya adalah lagu-lagu Jawa seperti “Randa Ngarep Omah” atau “Kapan Kowe Percoyo” selain lagu-lagu abadi “Hilang Permataku”, “Sepanjang Jalan Kenangan”, atau “Setulus Hatiku, Semurni Cintamu”.

Saking suksesnya Is Haryanto mengangkat suasana Surabaya dalam lagu “Rek Ayo Rek”, banyak yang mengira ini adalah lagu tradisional Surabaya, atau ditulis oleh orang Surabaya. Nyatanya, Is Haryanto adalah kelahiran Tegal dengan ayah asal Solo dan ibu dari Tegal.

Pada era ini kita juga mengenal lagu “Romo Ono Maling” ciptaan Titiek Puspa yang didendangkan Edy Silitonga.

Pada era 1980-an, tidak banyak lagu pop Jawa yang populer. Memasuki 1990-an, lagu “Gethuk” ciptaan Manthous yang dinyanyikan Nur Afni Octavia sempat mencuri perhatian. Siapa nyana, masyarakat akan bertemu lagi dengan Manthous sebagai perintis campursari Gunung Kidul beberapa tahun kemudian.

Campursari dari Manthous hingga Didi Kempot

Walau bisa merujuk pada konsep yang luas, campursari lebih dikenal merujuk pada penggunaan drum, simbal, elekton, dan alat musik diatonik elektronik ke dalam lagu-lagu berbasis gamelan. Jadi, instrumen elektronik menjadi pelengkap dari gubahan gamelan.

Model ini tampak pada lagu-lagu campursari yang dipelopori Manthous alias Anto Sugiartono, seniman musik kelahiran Playen, Gunung Kidul, Yogyakarta. Manthous berhasil memberi “nyawa baru” pada tembang “Nyidam Sari” yang ditulis Andjar Any, dengan memasukkan bunyi elekton yang khas pada bagian intro dan kemudian meningkahi dentingan siter, ditambah dentuman bass drum berbalas bunyi dengan rentak kendang.

Bagi sebagian pemusik, kehadiran gamelan adalah syarat mutlak campur sari. Artinya, sebenarnya musik elektronik hanyalah tambahan kemasan untuk memberi kesan modern dan variasi warna suara (timbre) selain dari instrumen musik tradisi.

Jadi, dengan definisi ini, apakah lagu Didi Kempot tidak bisa disebut campursari? Ketika Didi Kempot mulai muncul, waktu itu ada sitilah “congdut” alias keroncong dangdut. Namun, istilah ini tidak terlalu berkembang karena mungkin terlalu sempit sehingga hanya sedikit karya yang bisa masuk kategori ini.

Jika kita perhatikan lagu-lagu ciptaan Didi Kempot, kita tidak menemukan jejak gamelan yang solid. Mungkin hanya pada lagu “Cintaku Sekonyong-Konyong Koder” kita bisa melihat gendinglah yang menjadi struktur dari lagu itu.

Pada lagu “Stasiun Balapan” memang ada bebunyian kendang, tetapi rasanya itu lebih berfungsi menambah beat dari gendang dangdut yang ada.

Musik Didi Kempot adalah campuran yang unik dari kencrung keroncong, hentak dangdut, dan bangunan lagu pop. Pada lagu “Bojo Loro” malah kita bisa dengar potongan nada dan suara keyboard bernuansa Mandarin. Apakah itu campursari? Kami serahkan pada pembaca untuk menilainya.

Di luar soal musik, Didi konsisten mengangkat tema dan suasana lelaki yang meratap karena kehilangan, ditinggalkan, atau dilupakan sang kekasih. Tak heran kalau padanya ditabalkan gelar “The Godfather of Broken Heart”.

Manthous campursari meninggal dunia
Suasana pemakaman Manthous (10/03/2012) yang mirip pemakaman pejabat negara sebagai penghormatan dari pemkab Gunung Kidul kepada warganya yang telah mengharumkan nama kampung halamannya.
(Foto: Tribun Jogja)

Hip Hop Jogja

Masih dalam pembicaraan pertemuan musik Barat dan tradisi Jawa, dari kota budaya Yogya menyeruak hentakan dan celotehan khas hip hop yang—uniknya—diselingi dentang gamelan dan berbahasa Jawa.

Sontak, eksperimen ini menarik perhatian. Sebelumnya kita sudah mendengar rap dalam bahasa Indonesia yang dipelopori Iwa K. Rap bahasa Jawa juga pernah ditampilkan oleh kelompok G-Tribe di Yogya sekitar awal 1990-an, tetapi kelompok itu tidak berumur panjang.

Hip hop Jogja mulai terdengar pada 2003 ketika Marzuki alias “Kill the DJ” mulai memanggungkannya di acara-acara keseniannya Jogja. Kata Juki, ia mendapat inspirasi ketika mendalami musik elektronik di Perancis dan ingin membuat lagu dan bahasa Jawa dimiliki oleh masyarakat yang lebih luas. Dari situ ia merintis grup Angkringan Hip hop hingga akhirnya membentuk Jogja Hip hop Foundation.

Kebetulan, menurut Sindhunata, filsuf yang beberapa puisinya digubah menjadi lagu hip hop, struktur bahasa Jawa cocok dengan hip hop. Pusi Romo Sindhu yang sukses diobrak-abrik oleh JHF di antaranya “Ora Cucul Ora Ngebul” dan “Cintamu Sepahit Topi Miring”.

Akhirnya, momentum politik pula yang membawa hip hop Jogja dan JHF mendapat perhatian yang luas. Di tengah unjuk rasa mengenai keistimewaan Jogja, yang disebabkan oleh adanya RUU yang akan mengurangi keistimewaannya, terutama pada peran Kraton dalam pemerintahan, lagi Jogja Istimewa menjadi “lagu kebangsaan” bagi gerakan itu.

Jogja Hip Hop Foundation Jogja Istimewa
Jogja Hip hop Foundation dalam aksi mendukung keistimewaan Yogyakarta pada 2011.
(Foto: killtheblog.com)

Salah satu grup yang tumbuh dari tren hip hop Jogja adalah NDX a.k.a Familia yang memadukan hip hop, dangdut, dan lirik yang menyayat hati seperti Didi Kempot. Seolah berangkat dari pengalaman hidup para anggotanya, lagu-lagu NDX mengeksplorasi tema-tema cinta yang kandas akibat perbedaan kasta, teringat mantan, dan kekasih yang direbut teman sendiri.

Para anggota NDX memang merangkak dari bawah. Meninggalkan kampung halaman di Bantul, mereka mengadu nasib di kota Jogja menjadi tukang batu sampai tukang parkir. Di awal kariernya, mereka pernah bernyanyi mengiringi ibu-ibu yang sedang senam, atau dibayar sekadar nasi bungkus.

NDX a.k.a Familia juga dikenal menyanyikan lagu “Sayang” yang sama dengan yang dinyanyikan Via Vallen.

Salah satu cabang perkembangan campursari adalah dangdut koplo. Namun, dangdut koplo lebih mengacu pada musik dengan gendang dangdut yang lebih cepat dengan nuansa mirip kendang Banyuwangi dengan lagu-lagu berbahasa Indonesia. Tidak banyak lagu dangdut koplo berbahasa Indonesia yang menarik perhatian khalayak yang luas.

Beberapa Wajah Baru

Media sosial, khususnya YouTube, telah berhasil mendemokratisasi industri rekaman. Kini penyanyi baru tidak lagi harus mengemis pada produser dan pemilik studio rekaman.

Ukuran keberhasilan sebuah karya musik bukan lagi berapa keping cakram padat terjual yang nantinya dikonversi menjadi hadiah piringan emas atau platinum. Layaknya ukuran-ukuran di media sosial, yang kini menjadi patokan adalah berapa view, like, dan subscribe terhadap lagu itu.

Ada sejumlah penyanyi dan pemusik yang menjadi fenomena YouTube, seperti gitaris Alip Ba Ta alias Alief Gustakhiyat yang piawai memainkan gitar dengan teknik fingerstyle hingga mengundang respons dari komunitas musik internasional. Pria asal Ponorogo ini sehari-hari bekerja sebagai operator forklift di sebuah pabrik di kawasan Pulo Gadung.

Dalam era industri YouTube ini, wajah baru musik modern Jawa yang patut disebut adalah Denny Caknan dan Hendra Kumbara. Denny adalah pemusik asal Ngawi, Jawa Timur, yang meledak lewat lagu “Kartonyono Medot Janji” yang sudah meraup 140 juta lebih view. Akun Denny sendiri memiliki pengikut hingga 1,62 juta.

Denny sebelumnya pernah mengadu nasib di jalur pop, tetapi genre lagu yang diinspirasi oleh sang idola, Didi Kempot, yang membawanya ke ketenaran. Mirip dengan Didi, Denny menggunakan suatu tempat ikonik, yakni tugu Kartonyono sebagai lokus dari lagu sedihnya. Mungkin Denny berhasil mengaduk perasaan warga Ngawi sehingga lagunya itu makin populer.

Hendra Kumbara belum sefenomenal Denny Caknan. Lagu “Dalan Liyane” baru mendapat sekitar 8 juta views. Musiknya pun masih lebih kental nuansa pop dan belum terasa ada terobosan musikal yang berarti.

Mereka berdua memang wajah baru, dan masih butuh waktu untuk membutuhkan apakah karya-karya mereka akan diterima masyarakat luas dan lulus ujian waktu. Namun, pergeseran industri rekaman dan preferensi masyarakat yang semakin berorientasi ke digital bisa menjadi pijakan mereka untuk melompat lebih tinggi.

Berpulangnya Didi Kempot memang menyisakan lubang besar dalam belantika musik modern Jawa. Akan tetapi, jika kita percaya pada industri yang sehat, bintang besar akan tetap dikenang, seraya menjadi inspirasi bagi munculnya bintang-bintang baru.

Baca juga:

Sumber: Wikipedia | Kompas.com | Liputan6.com

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Perilaku Konsumtif di E-Commerce Selama Masa Pandemi Sebelummnya

Perilaku Konsumtif di E-Commerce Selama Masa Pandemi

Lebanon, Negara Ke-3 yang Mengakui Kemerdekaan Republik Indonesia Selanjutnya

Lebanon, Negara Ke-3 yang Mengakui Kemerdekaan Republik Indonesia

Dadi Krismatono
@dadika

Dadi Krismatono

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.