Mengenal Tjipetir, ‘’Talenan’’ Indonesia yang Bikin Geger Eropa

Mengenal Tjipetir, ‘’Talenan’’ Indonesia yang Bikin Geger Eropa

Tjipetir pembuat geger masyarakat Eropa yang berasal dari Indonesia © Tom Quinn Williams/Tjipetir Mystery Facebook page

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Kisah ini berawal di musim panas 2012, disebuah pantai daerah Newquay, Cornwall, Inggris. Tracey Williams kala itu sedang mengajak anjingnya jalan-jalan menyusuri pantai.

Di tengah-tengah kenikmatan menghembus hawa musim panas, tiba-tiba Williams menemukan benda persegi berwarna hitam mirip talenan di antara gundukan pasir pantai.

Williams mendekati benda itu dan terdapat tulisan ‘Tjipetir’ dengan huruf kapital yang terukir besar simetris di tengah talenan itu.

Tracey Williams
Tracey Williams, orang pertama yang mengisahkan Misteri Tjipetir di akun fan page di Facebook © Tom Quinn Williams/Tjipetir Mystery Facebook page

Saat dia menyentuh benda itu ternyata teksturnya agak kenyal seperti karet, tidak seperti talenan yang ia tahu selama ini.

Tak jauh dari tempat ia menemukan Tjipetir pertama, Williams menemukan Tjipetir lainnya di bagian pantai lain beberapa pekan kemudian. Bentuknya sama persis masih persegi sempurna.

Dirundung rasa penasaran akhirnya Williams melakukan sebuah riset yang tadinya hanya untuk menghabiskan rasa penasarannya. Namun, setelah ia membagi ceritanya dan membuat akun fan page di Facebook-nya, penemuan ini lantas geger ke seantero Eropa.

Saat GNFI berusaha mencari fan page tersebut, ternyata Williams sudah menghapus laman tersebut.

Ditemukan di Setiap Negara Benua Biru

Hingga 2013, Williams tak menyangka bahwa ternyata bukan hanya dia yang menemukan talenan karet hitam itu.

Beberapa masyarakat negara di benua Eropa rupanya menemukan benda yang persis sama. Mereka ramai-ramai melaporkan dan menceritakan penemuannya pada laman tersebut.

Mereka semua datang dari negara-negara besar seantero Benua Eropa, yaitu dari Inggris (Wales dan Jersey), Shetland, Channel Islands, Jerman, Swedia, Denmark, Norwegia, Perancis, Belanda, Spanyol, dan Skotlandia.

Berikut dokumentasi beberapa di antara mereka saat menemukan Tjipetir di laman fan page Facebook Williams yang dikutip oleh BBC Internasional.

Tjipetir di Benua Eropa
Jan Jacob Westerbeek, menemukan Tjipetri di Bergen aan Zee, Belanda © BBC News/Facebook BBC News
Tjipetir di Benua Eropa
Friederike Wegert dan anak-anaknya menemukan Tjipetir di Borkum, Jerman © BBC News/Facebook BBC News
Tjipetir di Benua Eropa
Jose de Cora menemukan Tjipetir di San Cibrao, barat-laut Spanyol © BBC News/Facebook BBC News
Tjipetir di Benua Eropa
Corentin Perrin menemukan Tjipetir di Brem sur Mer, Prancis © BBC News/Facebook BBC News

Beberapa di antara mereka bahkan mengaku tidak hanya menemukan satu Tjipetir, melainkan karung dan gulungan karet yang ditemukan bersamaan dengan Tjipetir.

Satu diantaranya juga bahkan telah menemukan balok tersebut lebih dari 30 tahun yang lalu dan menggunakannya sebagai talenan ikan.

Sejak saat itu, kisah yang dimulai oleh Williams viral dan merebak di Eropa. Media seperti Daily Mail, Times, dan BBC Internasional berkali-kali memuat artikel tentang talenan misterius itu.

Bahkan media Prancis, Lefigaro memuat tulisan panjang tentang Tjipetir untuk menguak benda apa ini, datang dari mana benda ini, dan menguak kisah tersebarnya Tjipetir di benua Eropa.

Spekulasi dari Titanic Sampai Kapal Karam Milik Jepang

Kapal Miyazaki Maru
Kapal niaga Jepang, Miyazaki Maru, diduga yang pertama kali membawa Tjipetir sampai ke Eropa © uboat.net

Penemuan Tjipetir di berbagai dataran Eropa semakin membuat Williams penasaran. Dia yakin bahwa ada misteri yang belum terpecahkan dan ada kisah dibalik sebuah penemuan aneh ini.

Sampai akhirnya Williams menemukan spekulasi awal dari mana Tjipetir ini berasal. Ini dia sampaikan kepada BBC Internasional pada 2014 silam.

Setelah diteliti ternyata Tjipetir ini bukanlah balok yang terbuat dari karet melainkan dibuat dari gutta-percha. Sejak saat itu mulai beredar spekulasi bahwa kotak-kotak gutta-percha itu berasal dari puing Kapal Titanic yang karam Minggu malam 19 April 1912 silam.

‘’Sebuah media Prancis memuat artikel soal itu dan melaporkan bahwa Titanic membawa muatan gutta-percha. Aku mengecek data manifes kapal. Memang kapal itu membawa gutta-percha dan karet,’’ kata Williams dikutip BBC Internasional.

Seiring berjalannya waktu, hal tersebut hanya sebuah spekulasi media saja menurut Williams. Itu karena tidak ada tulisan Tjipetir di tengah balok seperti balok yang ia temukan bersama teman-temannya yang tersebar di Eropa.

Hingga akhirnya Williams menemukan jawaban yang membuat ia lebih yakin. Williams mengaku pernah ditelepon oleh seseorang yang tidak disebutkan identitasnya.

Seseorang itu menjelaskan tentang kisah kapal Jepang bernama Miyazaki Maru, sebuah kapal niaga yang tengah berlayar dari Yokohama menuju London pada 31 Mei 1917.

Di tengah perjalanan, kapal ini diserang oleh kapal selam milik Jerman, U-88, dan karam di 241,5 kilometer sebelah barat Kepulauan Scilly, yang terletak di antara Inggris dan Perancis.

Diketahui Miyazaki Maru memang benar tengah mengangkut balok karet Tjipetir untuk digunakan sebagai pembungkus kabel telegram bawah laut.

Lempengan karet yang dimuat kala itu seberat 8.520 ton yang ternyata berasal dari Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

‘’Temuan kami dengan benda-beda khusus ini mengarah ke bangkai kapal itu. Jadi, meskipun kami belum mengonfirmasi hal itu, Miyazaki Maru adalah kemungkinan yang paling kami sukai sebagai sumber balok yang terdampar itu,’’ ungkap Williams.

Sebenarnya, fakta ini semakin diperkuat kala otoritas Inggris juga pernah mengadakan penelitian tentang kapal Jepang tersebut.

Pabrik Tjipetir yang Mendunia Pada Masanya

Pabrik Cipetir
Kondisi Pabrik Cipetir sekarang yang berada di Desa Cipetir, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat © Wildan Topan/Sindo TV

Penelusuran kembali dilakukan oleh Williams sampai akhirnya dia benar-benar yakin bahwa Tjipetir ternyata dari Indonesia.

Pabrik gutta-percha atau dikenal dengan getah perca Tjipetir ternyata pernah mengalami masa kejayannya saat zaman kolonial Belanda. Bahan baku lempengan karet tersebut ternyata sudah merambah pasar internasional.

Pohon karet di Sukabumi pertama kali ditanam tahun 1887 oleh Belanda dan butuh 10-14 tahun sebelum bisa dipanen.

Dari penelusuran detikcom ditemukan ternyata pabrik Tjipetir masih ada hingga kini, meski namanya sudah tidak lagi menggunakan ejaan lama dan berubah menjadi Cipetir yang diambil dari nama desa tempat pabrik itu berdiri.

Pabrik Cipetir ini berada di area perkebunan milik PT. Perkebunan Nusantara VIII dan masih memiliki 30 orang karyawan pada 2012 lalu. Pabrik ini hanya akan beroperasi jika ada pesanan.

Ini karena permintaan akan getah perca Cipetir semakin berkurang seiring dengan kemajuan teknologi yang membuat banyak konsumen beralih ke bahan sintetik.

100 Tahun Terapung, 3 Kali Mengelilingi Dunia

Tjipetir
Balok Tjipetir yang ditemukan di Benua Eropa © Tom Quinn Williams/Tjipetir Mystery Facebook page

Fakta menarik lainnya terungkap kala Misteri Tjipetir mulai dibahas oleh Williams. Ahli kelautan Inggris, Curtis Ebbesmeyer mengungkap bahwa Tjipetir sudah terombang-ambing dan tersapu ke pantai-pantai pinggiran benua Eropa selama lebih dari satu abad.

Itulah sebabnya banyak orang yang menemukan Tjipetir di berbagai tempat. Penelitian Ebbesmeyer lebih lanjut menemukan bahwa bisa saja Tjipetir sudah mengelilingi dunia sebanyak tiga kali.

Dia mengutip Teori Hemispheric yang menjelaskan, ‘’Butuh 25 tahun untuk sebuah benda mengapung bisa mengelilingi dunia. Dan benda ini sudah cukup lama berada di laut untuk mengelilingi dunia sampai tiga kali,’’ kata Ebbesmeyer dikutip BBC Internasional.

Ebbesmeyer pun tertegun melihat kondisi Tjipetir yang masih sangat bagus bahkan dia yakin bahwa untuk umur 100 tahun kemudian pun Tjipetir masih dalam kondisi yang bagus seperti sekarang.

‘’Benda-benda ini mungkin salah satu bagian besar dari armada kapal yang orang masih bisa temukan 100 tahun dari sekarang,’’ katanya.

--

Baca Juga:

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga27%
Pilih SedihSedih3%
Pilih SenangSenang15%
Pilih Tak PeduliTak Peduli9%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi4%
Pilih TerpukauTerpukau40%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Sejarah Hari Ini (25 Juni 1938) - Kongres Bahasa Indonesia yang Pertama Sebelummnya

Sejarah Hari Ini (25 Juni 1938) - Kongres Bahasa Indonesia yang Pertama

Dibanderol Sejutaan, Xiaomi Boyong Redmi 9 Ke Indonesia. Vivo X Series Kapan? Selanjutnya

Dibanderol Sejutaan, Xiaomi Boyong Redmi 9 Ke Indonesia. Vivo X Series Kapan?

Dini Nurhadi Yasyi
@dininuryasyi

Dini Nurhadi Yasyi

fiksidini.wordpress.com

1 Komentar

  • Nola Tilar

    Komentar sedang dimoderasi

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.