Penelusuran Ilmiah Soal Keberadaan Kota ‘’Hilang’’ Saranjana

Penelusuran Ilmiah Soal Keberadaan Kota ‘’Hilang’’ Saranjana

Ilustrasi © Jules Bss/Unsplash

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Masyarakat Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, semakin percaya tentang keberadaan Kota Saranjana setelah kejadian tahun 1980-an silam. Kala itu pemerintah setempat dikagetkan oleh kedatangan sejumlah alat berat pesanan dari Jakarta yang ditujukan ke alamat Kota Saranjana.

Padahal Kota Saranjana tidak termasuk ke dalam administrasi Kabupaten Kotabaru. Bahkan kenyataannya Kota Saranjana tidak pernah ada di pemetaan pulau Kalimantan.

Mengandalkan teknologi, Kawan GNFI juga tidak akan menemukannya di aplikasi Google Maps.

Bahasan soal Saranjana yang hingga kini masih misteri keberadaannya sebenarnya memang tidak bisa dilepaskan dari aspek sejarah lisan. Oleh sebab itu tak heran kalau keberadaan kota ini seolah-olah berada di antara fakta dan mitos.

‘’Kalau ditanya ke orang (Kabupaten) Kotabaru, pasti mereka tahu soal Saranjana. Atau paling enggak mereka pernah dengar,’’ ungkap sejarawan Universitas Lambung Mangkurat, Masyhur, dalam perbincangannya dengan Kumparan pada Januari 2019 silam.

Meski begitu, Masyhur menjelaskan, keberadaan Saranjana bisa dilihat dari aspek historis melalui metode penelitian sejarah. Mulai dari metode heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi.

Saranjana di Peta Buatan Solomon Muller

Saranjana di Peta Solomon Muller
Saranjana di peta buatan Solomon Muller tahun 1845 Dok. Solomon Muller/Kumparan

Pada tahun 1845, seorang naturalis—atau orang yang mengadakan penyelidikan khusus mengenai binatang dan tumbuhan—keturunan Jerman, Solomon Muller, mencantumkan Kota Saranjana di dalam peta buatannya.

Petanya berjudul Kaart van de Kust-en Binnenlanden van Banjermasing behoorende tot de Reize in het zuidelijke gedelte van Borneo. Yang artinya peta wilayah pesisir dan pedalaman Borneo.

Peta tersebut diterbitkan secara resmi oleh Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen dalam lembaga yang disebut Reizen en onderzoekingen in den Indischen Archipel (Lembaga Penerbitan Peta Nusantara).

Dalam petanya tersebut, Muller menuliskan sebuah wilayah bernama Tandjong Sarandjana yang dituliskan dengan T. Sarandjana. Lebih tepatnya Saranjana diperlihatkan berada di sebelah selatan Pulau Laut.

‘’Berbatasan dengan wilayah Pulau Kerumputan dan Pulau Kijang,’’ ungkap Masyhur.

Jika ada yang meragukan Muller dalam membuat peta, maka sepertinya penilaian itu kurang pantas. Sebab Muller merupakan anggota Dinas Kehutanan Hindia Belanda kala itu. Dia pun sudah mendapatkan pelatihan membuat peta dari Museum Leiden, Belanda.

Kedatangannya ke Nusantara saat itu karena perintah untuk penelitian flora fauna di beberapa wilayah Nusantara.

Bukti lain tentang kapabilitas Muller juga terlihat bahwa hingga sekarang Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kerap melakukan penelitian maupun analisis dengan mempertimbangkan catatan Muller yang terkenal di era 1840-an itu.

Saranjana di Kamus Belanda

Kamus Karya Pieter Johannes Veth
Sampul kamus karya Pieter Johannes Veth © Catawiki.com

Keberadaan Saranjana yang diyakini memang ada di Indonesia selanjutnya dibuktikan dengan sebuah kata Saranjana pada kamus Belanda yang berjudul Aardrijkskundig en Statistisch Woordenboek van Nederlandsch Indie: Bewerkt Naar de Jongste en Beste Berigten karya Pieter Johannes Veth.

Kamus tersebut diterbitkan resmi di Amsterdam oleh Lembaga Penerbitan di Amsterdam bernama P.N. van Kampen pada 1869.

Dalam kamus tersebut, Veth menuliskan begini, ‘’Sarandjana kaap aan de Zuid-Oostzijde van Poeleoe Laut, welk eiland aan Borneo s Zuid-Oost punt is gelegen.’’

Yang artinya, ‘’Sarandjana, tanjung di sisi selatan Poeloe Laut (Pulau Laut) yang merupakan pulau yang terletak di bagian tenggara Kalimantan.''

Menanggapi hal tersebut Masyhur mengemukakan tiga kemungkinan.

Pertama, bahwa benar Saranjana berada di wilayah Kabupaten Kota Baru, Kalimantan Selatan.

Kedua, jika mengacu pada penjelasan Veth, maka kemungkinan Saranjana berada di Teluk Tamiang, Pulau Laut.

Ketiga, Saranjana merupakan wilayah yang berada di bukit kecil yang terletak di Desa Oka-Oka, Kecamatan Pulau Laut Kelautan, Kalimatan Selatan. Jika melihat dari letak geografisnya, Masyhur tak menafikan bahwa bukit tersebut akan terlihat indah karena berbatasan langsung dengan laut.

‘’Namun, tempat ini dianggap angker oleh penduduk sekitar,’’ pungkasnya kepada Kumparan.

Kajian Sebuah Kota yang Hilang

Pulau Kalimantan
Kota ''hilang'' Saranjana berada di salah satu wilayah Kalimantan Selatan © Map Maker David/Twitter @mapmakerdavid

Setelah peristiwa tahun 1980-an tersebut, belum ada lagi kisah yang menyadarkan masyarakat bahwa Saranjana merupakan salah satu kota yang benar-benar ada.

Selama ini masyarakat kerap melakukan banyak spekulasi dari beberapa selentingan atau cerita dari mulut ke mulut saja. Mulai dari bahwa kota tersebut merupakan kota peradaban yang ditempati oleh jin, sampai mitos kota mistis yang beredar di masyarakat.

Sebelum Saranjana, ada beberapa wilayah di seluruh dunia yang juga menghilang dan dianggap wilayah gaib dengan segala hal mistik yang beredar. Seperti Pulau Hy Brasil di sebelah barat Irlandia, Antilia di Samudra Atlantik, Pulau Sarah Ann bagian New York, Pulau Tuanahe bagian Kepulauan Cook.

Di era modern sekarang pun pulau atau kota hilang itu masih kerap terjadi. Seperti pada tahun 2018 terdapat tiga wilayah yang hilang, yakni Desa Tebunginako di Kiribati, pulau kecil di Hawaii, dan sebuah pulau tak berpenghuni di lepas pantai Jepang.

Ahli geologi di Pusat Ilmu Pengetahuan Pesisir dan Lautan Pasifik Amerika Serikat, Santa Cruz, California, Curt Storlazzi, menjelaskan bahwa menghilangnya wilayah-wilayah tersebut diakibatkan oleh erosi pantai di daerah tropis.

Dia mengatakan bahwa naiknya permukaan laut dapat mendesain ulang garis pantai dengan menghasilkan gelombang yang lebih besar. Nantinya hal tersebut akan menambahkan lapisan sedimen di beberapa tempat sekaligus sehingga menyebabkan erosi dan banjir besar.

Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2013 silam juga pernah mengeluarkan laporan bahwa permukaan air laut bisa naik antara 1,5 kaki sampai 3 kaki pada 2100 mendatang. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan bahan emisi besar-besaran yang dapat menaikkan permukaan air laut.

Bahkan ilmuwan percaya, kenaikan air laut itu bisa mencapai 6,5 kaki pada akhir abad ini.

Nampaknya, teori tersebut juga bisa terjadi pada ‘’Saranjana yang Menghilang’’. Mengingat Indonesia adalah salah satu negara tropis dengan garis pantai terpanjang di dunia.

Kawan GNFI dari Kalimantan, ada yang punya cerita rakyat seru lainnya tentang Saranjana?

--

Baca Juga:

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga57%
Pilih SedihSedih14%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau29%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Kisah Pesepeda Indonesia, Jelajahi Himalaya hingga Galang Aksi Sosial Sebelummnya

Kisah Pesepeda Indonesia, Jelajahi Himalaya hingga Galang Aksi Sosial

Sejarah Hari Ini (15 Juli 1985) - Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama Selanjutnya

Sejarah Hari Ini (15 Juli 1985) - Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Dini Nurhadi Yasyi
@dininuryasyi

Dini Nurhadi Yasyi

fiksidini.wordpress.com

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.