Sejarah Hari Ini (6 Juli 1949) - Sukarno-Hatta Kembali dari Pengasingan

Sejarah Hari Ini (6 Juli 1949) - Sukarno-Hatta Kembali dari Pengasingan
info gambar utama

Pasca kemerdekaan Indonesia, Belanda kembali ingin berkuasa.

Tepat pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer II bersandi Operatie Kraai atau Operasi Gagak di ibu kota Indonesia saat itu yakni Yogyakarta.

Dalam peristiwa itu, Sukarno dan Hatta beserta petinggi RI yang lain ditangkap Belanda.

Siang hari pada 22 Desember 1948, atas perintah Kolonel Dirk Reinhard Adelbert van Langen penguasa perang Belanda, pesawat pengebom B-25 milik Angkatan Udara Belanda mengangkut para pemimpin republik untuk diasingkan.

Sukarno, Hatta, dan Sjahrir saat ditawan pasukan Belanda di bawah pimpinan Kolonel Van Langen (Arsip Nasional Belanda)
info gambar

Setelah mendarat di lapangan udara Kampung Dul (sekarang bandar udara Depati Amir), Pangkalpinang, para pemimpin republik baru mengetahui mereka diasingkan di Pulau Bangka.

Dari situ, Pulau Bangka pun menjadi satu bagian penting dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Masa pengasingan proklamator Soekarno-Hatta bersama para pemimpin bangsa lainnya pada kurun waktu 1948-1949 menentukan arah perjalanan bangsa hingga saat ini.

Akan tetapi, pada awalnya tidak seluruh pemimpin republik diasingkan di Bangka.

Ada pun rombongan Presiden Sukarno, Sutan Syahrir, dan Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim terus diterbangkan lagi menuju Medan, Sumatra Utara, yang kemudian diasingkan ke Brastagi dan Parapat.

Soekarno dan Agus Salim di pengasingan. Berjalan di sepanjang Danau Toba dekat Prapat
info gambar

Sementara itu, Wakil Presiden Mohammad Hatta, Suryadi Suryadarma (Kepala Staf Angkatan Udara), Assaat (Ketua KNIP) dan Abdul Gaffar Pringgodigdo (Sekretaris Negara) tetap di Pangkalpinang terus dibawa ke Bukit Menumbing, Muntok, dengan dikawal truk bermuatan tentara Belanda dan berada dalam pengawalan pasukan khusus Belanda, Corps Speciale Troepen.

Hatta di Bangka
info gambar

Barulah pada 6 Februari 1949, Sukarno dan Agus Salim juga diasingkan di Muntok.

Para tokoh republik menempati Wisma Ranggam yang dibangun pada 1927 oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Rumah ini merupakan tempat peristirahatan pegawai perusahaan timah.

Sambil menyantap hidangan, tokoh bangsa seperti Sukarno, Hatta, dan Syahrir mendiskusikan Majelis Permusyawaratan Federal atau Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO) di kediaman mereka di Bangka pada 15 Maret 1949.
info gambar

Sesuai perjanjian Roem-Royen, Kerajaan Belanda menarik pasukannya dari Yogyakarta pada 29 Juni 1949.

Tanggung jawab keamanan kota pun diserahkan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Setelah mendapatkan usul dari pimpinan United Nations Commission for Indonesia (UNCI) asal Amerika Serikat, Merle H. Cochran, Sukarno-Hatta dan tokoh RI yang lain bertolak dari Bangka ke Yogyakarta pada 6 Juli 1949.

Artikel berita Sukarno dan Hatta pulang dari pengasingan.
info gambar

"Pada tanggal 27 Juni 1949 kami mendengar berita radio yang mengatakan bahwa Sultan Hamengkubuwono pada tanggal 30 Juni akan mengambil alih kekuasaan di Yogya dari tangan Belanda. Diduga bahwa kami di Bangka akan kembali ke Yogya tanggal 5 atau 6 Juli 1949," kata Hatta dalam buku yang ia tulis yang berjudul Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi.

"Atas usul Cochran, kami berangkat dari Bangka kembali ke Yogya tanggal 6 Juli 1949," kenangnya.

Baca Juga:

Referensi: Kebudayaan.Kemdikbud.go.id | Nieuwsblad voor de Hoeksche Waard en IJsselmonde | Mohammad Hatta, "Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi" | Gagas Ulung, "Amazing Bangka Belitung" | Rosihan Anwar, "Sutan Sjahrir, True Democrat, Fighter for Humanity, 1909-1966"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini