Filosofi Klepon yang Ternyata Indonesia Banget

Filosofi Klepon yang Ternyata Indonesia Banget
info gambar utama

Beberapa hari terakhir ini, Klepon menjadi cukup populer di sosial media nasional. Gambar-gambar jajanan berwarna hijau berbungkus parutan kelapa ini menghiasi linimasa banyak orang.

Penulis tak akan menjelajah lebih jauh terkait hal tersebut, dan akan lebih fokus pada serba serbi makanan manis ini.

Filosofi klepon

Klepon ternyata memiliki filosofi dan mengandung pelajaran moral. Klepon juga dikatakan melambangkan kesederhanaan yang terlihat dari bahan-bahan sederhana yang digunakan untuk membuatnya.

Warna hijau pada klepon yang berasal dari daun suji pandan yang melambangkan kesejahteraan dan kesuburan. Itu menggambarkan pulau-pulau di Indonesia yang menempati tanah-tanah yang subur dan banyak ditumbuhi pepohonan hijau.

Pelajaran moral lainnya yang ada pada klepon adalah mengajarkan kepada kita ketika makan jangan dengan mulut terbuka atau sambil berbicara.

Makna itu akan sangat terasa ketika kita memakan klepon dengan mulut yang harus tertutup dan tak berbicara saat mengunyah. Karena bila kita bicara saat mengunyah, isi klepon yang merupakan gula aren cair akan muncrat keluar dari mulut kita.

Sederhana bukan, tapi sesuai dengan kultur dan budaya Indonesia.

Sejarah klepon

Secara umum, klepon adalah jajanan pasar tradisional khas Indonesia yang terbuat dari tepung ketan, berbentuk bulat dengan warna dominan hijau. Pada bagian dalamnya diisi dengan irisan gula merah, sementara bagian luarnya ditaburi kelapa parut.

Ketika dikunyah, sensasi muncrat dari gula jawa itu memberikan ciri tersendiri dari kudapan ini.

Dalam buku Indisch leven in Nederland (2006) milik J. M. Meulenhoff, di sana tertulis bahwa kue klepon sudah ada sejak tahun 1950-an.

Konon kue ini diperkenalkan pertama kali oleh seseorang asal Pasuruan, Jawa Timur. Saat itu, klepon jadi menu yang ditawarkan di restoran Indonesia-Belanda dan etnis Tionghoa.

Di Beberapa provinsi di Indonesia, sebut saja Sumatra dan Sulawesi, klepon juga dikenal dengan nama Onde-Onde. Sementara di Jawa dan bagian lain di Indonesia, onde-onde adalah kue jajanan pasar yang dibuat dari tepung beras dan berisi adonan kacang hijau.

onde-onde dan klepon
info gambar

Tampilan onde-onde secara umum berbeda dengan klepon. Kue itu berwarna krem atau coklat dengan taburan wijen di sekujur kue.

Cara memasak klepon dan onde-onde pun berbeda. Klepon dimasak dengan cara dikukus, sementara onde-onde digoreng.

Jika onde-onde dan lazim disajikan dengan beberapa jajanan pasar goreng lainnya, seperti kue cucur atau kue cincin (di betawi), maka klepon karib kita lihat bersanding dengan kue putu ayu yang memiliki metode yang sama saat dimasak.

kue putu dan klepon
info gambar

Klepon Jawa dan klepon Bali, apa bedanya?

Mengutip Taste Atlas, klepon berasal dari Jawa. Sementara itu, hidangan yang sama juga ada di Sumatra, Sulawesi, dan Malaysia dengan nama onde-onde atau buah melaka. Dengan kata lain, nama klepon telah mendunia sebagai kudapan khas nusantara.

Namun ternyata, di Bali ada juga kue serupa yang lazim disebut dengan Jaja klepon. Sama seperti klepon yang ada di Jawa, kue berbentuk mungil ini terbuat dari tepung ketan dengan isian gula merah cair di dalamnya. Untuk bagian luarnya, juga ditabur dengan parutan kelapa.

klepon jawa dan klepon bali
info gambar

Meski begitu ada ada beberapa perbedaan mencolok antara klepon Bali dan klepon Jawa yang biasa ditemui.

Seperti dijelaskan Svarga News, soal bentuk dari kedua kudapan ini nyatanya berbeda. Jika klepon Jawa berbentuk bulat seperti onde-onde, sedangkan klepon Bali bentuknya sedikit oval dan meruncing di kedua ujungnya.

Meski isinya sama-sama gula merah, namun ketika digigit, klepon Bali terasa lebih kenyal dan lebih tipis kulitnya sehingga gula di dalamnya langsung muncrat ke seluruh rongga mulut.

Hal lain yang menjadi perbedaan adalah cara memasaknya. Jika klepon Jawa dimasak dengan cara dikukus, sedangkan klepon Bali dimasak dengan cara merebusnya.

Baca juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Mustafa Iman lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Mustafa Iman.

MI
AH
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini