Sejarah Kurban yang Terkadang Terlupakan

Sejarah Kurban yang Terkadang Terlupakan
info gambar utama

Kawan GNFI, Hari Raya Iduladha lazim juga dikenal sebagai Hari Raya Kurban yang diperingati setiap tanggal 10 Zulhijah. Usai melakukan Salat Iduladha pada hari itu, umat muslim sejatinya melakukan penyembelihan hewan kurban, berupa kambing, sapi, domba, dan unta.

Penyemblihan hewan kurban juga bisa dilakuan tiga hari setelahnya yang dikenal sebagai hari tasyrik (11-13 Zulhijah).

Kurban merupakan salah satu ibadah dalam Islam yang hukumnya Sunah Muakadah, yakni ibadah yang sangat dianjurkan untuk dijalankan.

Karena merupakan ibadah yang sangat dianjurkan, Nabi Muhammad SAW pun memberi peringatan kepada umat muslim yang memiliki harta berlebih, tetapi enggan berkurban.

Seperti yang tertuang dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

''Barang siapa yang memiliki kelapangan (harta), sedangkan ia tidak berkurban, janganlah dekat-dekat mushala kami,'' (H.R. Ahmad, Ibnu Majah, dan Hakim).

Ibadah islam tertua

Ibadah kurban merupakan salah satu ibadah tertua dalam ajaran islam. Sebagai ibadah tertua, tentunya kurban juga tak hanya terjadi pada zaman Nabi Ibrahim AS yang kala itu diperintahkan untuk menyembelih purtanya, Nabi Ismail AS.

Jauh sebelum itu, ternyata ibadah kurban juga pernah dilakukan pada masa-masa nabi sebelumnya. Berikut kisahnya.

Kurban Qabil dan Habil

Pada zaman Nabi Adam AS, kurban dilaksanakan oleh putra-putranya, yaitu Qabil dan Habil. Saat itu kurban dilakukan bermula dari masalah perebutan calon istri, Iqlima.

Saat itu Qabil mengeluarkan kurban dari hasil pertaniannya, dan dipilihlah buah-buahan yang sudah busuk dan jelek sebagai persembahannya.

Sementara Habil mengeluarkan kurban dari hasil peternakannya, dipilihlah hewan-hewan yang gemuk dan sehat.

Kurban Habil yang kemudian diterima oleh Allah SWT karena niatnya yang tulus dan ikhlas. Sedangkan kurban Qabil ditolak, karena mengeluarkan sebagian harta untuk berkurban karena terpaksa.

Kejadian ini tergambar dalam surah Al-Maidah ayat 27, sebagaimana Allah SWT berfirman;

''Ceritakanlah mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil).''

Ia berkata (Qabil); “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil; ''Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.''

Kurban Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS

Pada zaman Nabi Ibrahim AS, kurban dijalankan oleh Nabi Ibrahim AS sendiri. Ketika itu Nabi Ibrahim AS mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putra kesayanganya, Nabi Ismail AS.

Tentu perintah ini menjadi ujian yang amat berat. Nabi Ibrahim AS kemudian membincangan soal perintah Allah SWT--yang disampaikan melalui mimpi--tersebut pada Nabi Ismail AS.

Dengan keteguhan hati Nabi Ismail AS kemudian berkata, seperti yang tertuang dalam surat Ash Shaffaat ayat 102;

''Wahai bapakku kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar.''

Dalam proses penyembelihan itu, akhirnya Allah SWT menggantikan kurban Nabi Ibrahim dengan seekor domba.

Kurban 100 ekor unta Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW juga melakukan kurban pada saat melaksanakan Haji Wada di Mina. Secara umum, Baginda Rasul selalu melakukan kurban setiap tahun.

Kala itu Rasulullah SAW menyembelih 100 ekor unta, 63 ekor disembelih dengan tangannya sendiri dan sisanya disembelih oleh Ali bin Abu Thalib. Keseluruhan hewan kurban tersebut disembelih setelah salat Iduladha dilaksanakan.

Dalam surah Al-Hajj ayat 36 juga dijelaskan tentang jenis hewan yang dijadikan kurban, tujuan dari berkurban, tata cara menyembelih hewan kurban, waktu memakan daging kurban, dan orang-orang yang dapat memakan daging kurban.

Ilustrasi Iduladha
info gambar

Secara umum, seperti ditulis laman Umma, ada tiga ayat Alquran yang meyarankan umat muslim untuk melakukan kurban, yakni;

  • Surah Al Hajj ayat 34-35;

''Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka.''

  • Surah Ash-Saffat ayat 102-107;

''Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata; “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!''

Ia (Ismail AS) menjawab; ''Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Dan Kami panggillah dia: ''Hai Ibrahim,sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.''

  • Surah Al Hajj ayat 34 dan 36;

''Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),''

''Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.''

Kurban dan ragam hikmahnya

Sebagai ibadah yang sangat dicintai Allah SWT, sebagian ulama seperti Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa berkurban hukumnya wajib bagi setiap Muslim yang memiliki kecukupan harta.

Karena selain untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, berkurban adalah ibadah yang di dalamnya terkandung hikmah.

Seperti dituliskan Madani, Syaikh Wahbah Azzuhaili menyebutkan dalam kitabnya Alfiqhul Islami Wa Adillatuhu soal beberapa hikmah ibadah kurban.

Pertama, sebagai ungkapan rasa syukur atas berbagai macam nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kita umatnya. Nikmat Allah yang telah kita nikmati selama hidup tentunya begitu banyak sehingga kita tidak akan mampu untuk menghitungnya.

Salah satu cara untuk mensyukuri berbagai nikmat yang tak terhitung itu adalah adalah dengan melakukan ibadah kurban.

Kedua, sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat kehidupan yang diberikan oleh Allah dari tahun ke tahun. Nikmat hidup merupakan nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah. Karenanya salah satu cara mensyukuri hidup yang penuh nikmat ini adalah dengan berkurban.

Ketiga, selain menjadi bukti syukur nikmat, berkurban juga sebagai media penghapus dosa yang telah kita lakukan, baik dosa karena melakukan perbuatan maksiat atau karena meninggalkan kewajiban.

Demikian kawan, semoga kita menjadi umat-umat Allah SWT yang selalu taat menjalankan perintahnya, selain memedulikan sebagian umat dengan cara berbagi kebahagiaan bersama di hari raya ini.

Selamat menjalankan ibadah kurban, kawan. Semoga berkah.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini