4 Arkeolog Indonesia Ini Dinobatkan Sebagai Ilmuwan Paling Berpengaruh di Dunia

4 Arkeolog Indonesia Ini Dinobatkan Sebagai Ilmuwan Paling Berpengaruh di Dunia
info gambar utama

Tim gabungan Australia-Indonesia yang dinakodai Mike Morwood dari Australia, bersama E.Wahyu Saptomo, Jatmiko, Rokus Duwe Awe, dan Thomas Sutikna, kala itu dibuat mati penasaran akan penemuan mereka.

Pada 2003 silam, di sebuah hotel di Kecamatan Ruteng, Flores, mereka memamerkan fosil gigi yang baru saja digali dari Gua Liang Bua kepada para koleganya. Disusul dengan penemuan tengkorak yang berukuran kecil di situs penggalian yang sama.

Alih-alih misteri terpecahkan karena akhirnya mereka menemukan spesies Homo floresiensis, namun mereka belum mencapai kesimpulan dan kesepekatan terkait dari mana asal usul manusia purba setinggi satu meter itu.

Meski penggalian ekskavasi baru dilakukan sampai ke Mata Menge, Cekungan Soa, yang berada 70 km dari timur Liang Bua, Morwood dkk mengatakan bahwa penemuan ini hanya menemui jalan buntu dari yang satu ke jalan buntu lainnya.

Baca Juga: Hobbit dan Mata Mengen, ''Manusia Purba'' Flores yang Menyulut Perdebatan Arkeolog

Hingga 10 tahun kemudian, Morwood meninggal akibat kanker, hingga kini memasuki abad ke-21, Homo florensiesis di Flores itu masih membuat arkeolog dunia penasaran dan malah menyulut perdebatan.

Pasalnya spesies ini disinyalir menjadi nenek moyang manusia modern. Namun masa sih mereka mengalami penyusutan dan kekerdilan?

Reuters: Si Ilmuwan Paling Berpengaruh di Dunia

Thomson Reuters
info gambar

Tanggal 6 Oktober 2014, Presiden Thomson Reuters, Basil Moftah, di kantornya di London, Inggris, mengumumkan kabar penting bagi Indonesia. Setelah melihat hasil penemuan Homo floresiensis yang terkisah dalam jurnal ilmiah Nature, publik dan para ilmuwan memuji dan mensyukuri penemuan baru itu.

Meski sempat menjadi perdebatan hebat di antara arkeolog dunia, namun penemuan itu memacu para arkeolog untuk terus haus akan rasa penasaran perihal kejelasan nenek moyang manusia modern sekarang.

‘’Keributan’’ itu justru membuat empat ilmuwan lokal Indonesia, E. Wahyu Saptomo, Jatmiko, Rokus Duwe Awe, dan Thomas Sutikna, dinobatkan lembaga Thomson Reuters sebagai ilmuwan paling berpengaruh di dunia. Pasalnya publikasi ilmiah empat ilmuwan Indonesia ini kerap dikutip dalam kurun waktu 11 tahun pasca penemuan itu terjadi.

Keempatnya kini bertengger dalam daftar The World’s Most Influential Scientific Minds 2014 oleh lembaga yang secara khusus menangani persoalan kekayaan intelektual dan ilmu pengetahuan ini.

Dari kacamata Thomson Reuters, arkeolog-arkeolog Indonesia ini dinilai sangat memberi pengaruh dalam keilmuannya yang dinilai berdasarkan publikasi penelitiannya. Dengan menggunakan Incites Essential Science Indicators—sebuah metode yang dikembangkan institusi tersebut—keempat arkeolog Indonesia itu masuk dalam daftar tokoh berpengaruh dalam 21 bidang ilmu alam dan sosial di dunia.

‘’Semua berkat penemuan Homo floresiensis,’’ syukur Saptomo lewat pesan singkat kepada Kompas pada 15 Desember 2014 silam.

Kalau kata Wahyu, ‘’Liang Bua benar-benar menjadi laboratorium yang lengkap dari masa Pleistosen hingga Holosen.’’

Untuk diketahui, Pleistosen adalah skala waktu geologi yang berlangsung antara 1.808.000 hingga 11.500 tahun yang lalu. Sedangkan Holosen adalah skala waktu geologi yang berlangsung mulai sekitar 10.000 tahun radiokarbon atau kurang lebih 11.430 tahun kalender yang lalu, antara tahun 9560 hingga 9300 SM.

Pada masa Pleistosen adalah masa ditandai dengan mulai mencairnya es di kutub utara karena perubahan iklim. Pada masa ini diketahui kehidupan manusia sudah mulai terdeteksi. Namun penemuan nenek moyang modern yang disebut dengan Homo sapiens--nenek moyang manusia yang ditemukan jauh sebelum Homo floresiensis--baru ditemukan pada masa Holosen.

Kabar Terakhir Kisah Hobbit Homo Floresiensis

Hobbit di Flores
info gambar

Pada bincang Redaksi 11 bertajuk Kabar Terakhir Manusia Katai dari Flores yang diadakan oleh National Geographic Indonesia, dua arkeolog papan atas, Jatmiko dan Thomas Mustika memberikan kisah terkini soal manusia katai (kecil) yang mereka sebut dengan Mama Flo itu.

Disebut Mama Flo karena berjenis kelamin perempuan dan ‘’Flo’’ diambil dari Floresiensis.

Sudah 15 tahun kisah ini terungkap, namun Jatmiko menilai penemuan Mama Flo masih menjadi polemik dan perdebatan yang panjang, seiring dengan masih tersembunyinya misteri kehidupan Mama Flo.

‘’Sampai sekarang pasti banyak dinamikanya. Kita juga bertanya tanya apakah kedatangan manusia modern menyebabkan punahnya manusia Hobbit ini?’’ ungkap Mahadis Yoanata Thamrin selaku Managing Editor National Geographic Indonesia, yang menjadi pilot penerbitan kisah Mama Flo di halaman utama edisi perdana majalah National Geographic Indonesia, April 2005 silam.

Tak heran, majalah itu diketahui menggegerkan Indonesia, meski sebelumnya hasil penemuan ini sudah masuk dalam jurnal ilmiah internasional, Nature.

‘’17 tahun telah berlalu (sejak penelitian ini dijalankan) dan kami telah belajar banyak tentang Liang Bua (tempat Mama Flo ditemukan). Pada kenyataannya tidak semua yang kita pelajari itu mendukung dan cocok dengan apa yang kami pikirkan.’’

‘’Karakteristik batu, Homo floresiensis, dan bagaimana kemungkinan mereka mengenal api. Dan isu tentang kapan si manusia modern awal menjejakan kaki di Flores?’’ jelas Thomas mengenai kebaruan penelitian ini.

Pada 2016, para arkeologi itu memperbaiki penggalian stratigrafi (susunan lapisan batu-batuan dalam kulit bumi) dan kronologi. Dari pertanggalan radiokarbon terhadap sampel arang yang ditemukan mengandung lapisan atau keberadaan Homo floresiensis dan diperkirakan mereka sudah ada sejak 13.000-20.000 tahun yang lalu.

Namun penemuan tersebut tidak senada dengan usia tulang belulang yang sebelumnya ditemukan yang diperkirakan sudah berusia 100.000 hingga 60.000 tahun yang lalu.

Kebingungan semakin bertambah karena menurut Thomas dan Jatmiko, ada rentang waktu krusial yakni 50.000 hingga 12.000 tahun yang lalu. Rentang waktu ini diketahui tidak memperlihatkan keberadaan atau penemuan Homo floresiensis dan fauna.

Oleh karena itu untuk selanjutnya, mereka membutuhkan analisis lanjutan terkait mikromorfologi yaitu kajian dan analisis karakteristik bakteri yang dilihat melalui pengamatan di bawah mikroskop. Hal ini perlu untuk mengisi celah antara penemuan Homo floresiensis dan manusia modern.

--

Sumber: National Geographic Indonesia | Kompas | Rumahpengetahuan.web.id | Media Indonesia | Brainly

--

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini