Telur Asin Brebes Dinobatkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia

Telur Asin Brebes Dinobatkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
info gambar utama

Sidang Kementerian Pendidikan Budaya (Kemdikbud) yang dilaksanakan pada 6-9 Oktober 2020 pada akhirnya mengetuk palu bahwa kini telur asin bukan lagi hanya sekadar jadi oleh-oleh khas Brebes, Jawa Tengah. Melainkan kini sudah ditetapkan sebagai Warusan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia.

Penobatan telur asin dalam WBTb ini menambah ‘’koleksi’’ warisan budaya yang Kemdikbud kumpulkan sejak 2013-2020 ini yang sudah ada sekitar 1.239 kebudayaan. Beberapa di antaranya memang datang dari bidang kuliner. Sebelum telur asin, kapurung dari Luwu Utara, ayam betutu dari Bali, dan rendang dari Sumatera Barat sudah lebih dulu dinobatkan sebagai WBTb oleh Kemdikbud.

Dilansir dari CNN Indonesia (15/10/2020), Direktur Perlindungan Kebudayaan, Kemendikbud, Fitra Arda Sambas, menjelaskan syarat untuk mendapatkan status WBTb.

‘’Seperti kita ketahui bahwa Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang akan ditetapkan paling tidak berupa tradisi dan ekspresi lisan, seni pertunjukkan, adat istiadat masyarakat, ritus dan perayaan-perayaan, pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta, dan atau keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional, ungkapnya.

Syarat lain, diungkap Fitra adalah, ‘’Budaya tak benda tersebut dapat berasal dari perseorangan, kelompok orang, atau masyarakat hukum adat.’’

Telur asin juga dipandang sebagai tradisi kuliner yang mengandalkan keterampilan masyarakat secara tradisional untuk mengolah dan menghasilkan produk kuliner yang autentik. Hingga saat ini diketahui bahwa di Brebes, sebagian besar masyarakatnya masih menggantungkan mata pencaharian sebagai pengrajin dan penjual telur asin.

Bagi masyarakat Indonesia, telur asin adalah pangan yang sangat familiar dan keberadaannya tidak melihat status seseorang. Berbagai kalangan akan suka dengan telur bebek yang memiliki tekstur masir ini.

Bukan hanya sebagai bahan pangan favorit, jika kita mengingat dan menelusuri kembali keberadaan telur asin, ternyata makanan kaya akan protein ini pernah mengukir sejarah dengan filosofi nilai kebudayaan yang sangat mendalam.

Sejarah Telur Asin Brebes yang Dulu Dijadikan Sesajen

Telur Asin Warisan Budaya Tak Benda
info gambar

Keberadaan telur asin, khususnya telur asin Brebes ini tidak muncul dalam hitungan dekade, malinkan sudah menjadi makanan tradisional kuno yang sudah berusia ratusan tahun. Keberadaannya memang tidak bisa lepas dari pengaruh masyarakat China.

Faktanya sajian telur asin awalnya dijadikan sebagai bagian dari sembahyang yang ditujukan untuk Dewa Bumi. Disajikan bersama bandeng, daging ayam, babi, arah, dan buah-buahan telur asin dipersembahan pada saat etnis Tionghoa sedang bersembahyang.

‘’Telur bebek yang diolah menjadi telur asin dimaknai sebagai simbol kesuburan. Selain untuk sesaji, telur bebek juga menjadi santapan dalam perayaan imlek,’’ ungkap Wijanarto, sejarawan Brebes, yang dikutip Medcom.id (2/2/2016), yang kini juga menjabat sebagai Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kabupaten Brebes.

Seiring berjalannya waktu, Wijanarto juga menjeaskan bahwa keberadaan telur asin terangkum pengetahuan dan keterampilan tradisional, filosofi kegotongroyongan, serta identitas sosial masyarakat Brebes. Ini karena berkat teknologi pengawetan bahan makanan yang dilakukan para etnis Tionghoa pada telur bebek telah menjadi bagian dari kekuatan untuk bertahan pada masa transisi pasca-kemerdekaan.

‘’Karena kita ketahu, selepas revolusi periode tahun 1945 sampai menjelang 1950, kondisi ekonomi saat itu dalam masa transisi setelah adanya dekolonisasi. Nah, telur asin yang sudah awet ini menjadi bagian ekonomi substansi masyarakat Tionghoa. Lama-kelamaan telur asin ini kemudian memiliki aspek ekonomis. Tahun 1950-an mereka baru memulai untuk mengomersilkan telur asin,’’ tutur Wijanarto dikutip Detik.com (17/10/2020).

Lebih lanjut Wijanarto juga pernah mengungkapkan bahwa asin juga disimbolkan sebagai diplomasi kuliner yang mamdukan keragaman budaya setelah dibawa keluarga peranakan Tionghoa Brebes. Namun, jika melihat jauh lebih dalam, Fitra berpendapat bahwa proses pembuatan telur asin juga merupakan kerja kolegial.

‘’Dari mulai pemilihan telur itik yang berkualitas, pembuatan bahan-bahan untuk pengasinan serta proses pengasinan,’’ jelas Fitra dikutip Food.detik.com (15/10/2020).

Sehingga tak heran kalau telur asin Brebes hingga kini sudah lama dikenal dengan ciri khas tampilan dan rasanya. Meski varian original masih menjadi favorit masyarakat Brebes dan wisatawan domestik lainnya, namun kini masyarakat Brebes juga mulai mengkreasikan telur asin menjadi berbagai varian termasuk telur asin bakar sehingga memberikan pilihan yang menarik untuk dicoba.

Harus Terus Lestari

Telur Asin Warisan Budaya Tak Benda
info gambar

Layaknya warisan lainnya, penobatan telur asin sebagai WBTb diharapkan bukan hanya sekadar titel, melainkan ada harapan. Selain harus terus dijaga sebagai produk kuliner autentik Indonesia, khususnya Brebes, telur asin juga harus dilihat dari nilai makna dan fungsi dari ekosistemnya.

Pembuatan telur asin mesti melibatkan ekosistem yang sehat dari elemen-elemen seperti peternak itik, tenaga kerja pengelola, pihak promosi, ketersediaan paka, juga pelaku ekonomi kreatif. Bukan tidak mungkin kalau telur asin bisa sampai pada level menjadi warisan budaya tak beda dari UNESCO, seperti halnya rending.

Apalagi pemerintah daerah setempat juga dimandatkan untuk melindungi warisan ini sesuai amanat pada Undang-Undang No.5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Didalamnya disebutkan bahwa pemerintah setempat bisa mengalokasikan anggaran untuk pemberdayaan ekosistem budaya, termasuk ekosistem WBTb telur asin.

Makanan favorit siapa, nih?

--

Sumber: Medcom.id | Food.detik.com | CNN Indonesia | Detik.com

--

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini