Legenda Tendangan Bima dan Pesona Ombak Awan Gunung Ireng

Legenda Tendangan Bima dan Pesona Ombak Awan Gunung Ireng
info gambar utama

Kawan GNFI, selain banyaknya lokasi wisata pantai, Gunungkidul juga dikenal memiliki lokasi wisata alam pegunungan dengan pemandangan yang memesona. Salah satunya adalah Puncak Gunung Ireng, di Gunungkidul.

Selain menyajikan pemandangan yang menakjubkan, Gunung Ireng yang juga disebut sebagai Gunung Batok atau Bukit Ireng, juga menyimpan mitos atau legenda. Nama Gunung Ireng sendiri berasal dari bahasa Jawa bermakna Gunung Hitam. Itu karena pada puncak gunung terdapat bebatuan berwarna hitam.

Tak seperti pegunungan atau perbukitan pada umumnya, pada puncaknya tak banyak tumbuh pepohonan. Sejauh mata memandang, hanya bebatuan hitam yang melapisi puncak gunung yang membentang dari timur ke barat.

Wisatabaru.com menulis, Gunung Ireng berada di Dusun Srumbung, Desa Pengkok, Kecamatan Pathuk, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Untuk mencapainya, kawan GNFI hanya perlu menempuh perjalanan sekitar 30 menit dengan jarak 12,9 kilometer dari Yogyakarta, melalui jalur Pleret-Pathuk dan Patuk-Dlingo.

Gara-gara tendangan Bima

Dari sisi geologi, seperti diceritakan pada laman Yogyes.com, Gunung Ireng merupakan bagian dari gunung api purba pada masa Miocene, yang ada sekitar 5-23 juta tahun yang lalu.

Gunung api ini meletus dan kehilangan bentuknya, namun sisa-sisa gunung tersebut masih bisa kawan GNFI lihat hingga saat ini. Sisa-sisa gunung api inilah yang membentuk beberapa formasi batuan vulkanis di kawasan Pathuk, termasuk Bukit Nglanggeran yang ada di sebelah utara Gunung Ireng.

Akan tetapi masyarakat sekitar masih meyakini mitos atau legenda soal terbentuknya gunung ini. Konon, puncak berwarna hitam dari gunung tersebut akibat ulah Raden Bratasena alias Bima, salah satu pendekar Pandawa dalam tokoh pewayangan yang terkenal kuat dan mudah marah.

Diceritakan, saat itu Bima marah karena melihat sekumpulan monyet yang asyik bermain di atas Gunung Merapi. Bima bermaksud menendang monyet-monyet nakal tersebut, namun tendangannya justru meleset dan mengenai bebatuan besar di puncak gunung Merapi.

Bebatuan ini pun terbang jauh hingga ke kawasan Gunungkidul, menumpuk dan menjadi sebuah gundukan yang saat ini dikenal sebagai Gunung Ireng.

Pesona ombak awan

Sebagai tujuan wisata pegunungan, Gunung Ireng tentunya menawarkan pemandangan alam yang menyegarkan mata. Hamparan sawah luas di sekitar kawasan ini nampak memesona di tengah-tengah pedesaan.

Saat ini, para pelancong yang menyambangi puncak memiliki tujuan khusus, yakni melihat matahari terbit (sunrise) dan melihat keindahan awan yang bergulung bak ombak lautan yang bergerak dari utara ke selatan.

Sementara, keindahan langit jingga saat matahari terbit terpancar dari langit sebelah timur yang kontras dengan panorama kabut yang menyelimuti puncak gunung. Suhunya pun sejuk, kawan, menjadikan para pengunjung betah berlama-lama di puncaknya.

Untuk menikmati panorama itu, pengunjung tak perlu berdiri berlama-lama, karena di puncak Gunung Ireng tersedia cukup banyak tempat duduk-duduk pengunjung untuk sekadar melepas penat.

Rute dan akomodasi

Bagi kawan GNFI yang ingin melancong ke sana, ada banyak jalan menuju Gunung Ireng. Patokannya cuma satu, yakni perempatan Radio GCD. Jika kawan berkendara dari arah Wonosari, beloklah ke kiri. tapi jika datang dari arah Yogyakarta, silakan belok kanan.

Dari perempatan Radio GCD, lanjutkan perjalanan menuju Desa Pengkok, dan cari kantor Balai Desa Pengkok. Tak jauh dari situ, kawan akan menemui pertigaan Kebon Kuning. Ambil arah kanan hingga tiba di gapura Gunung Ireng yang berwarna hijau.

Objek wisata Gunung Ireng ini dikelola oleh penduduk sekitar. Untuk menuju puncak gunung, kawan tak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk menebus tiketnya, pun begitu dengan ongkos parkir kendaraan.

Sambil menikmati panorama alamnya, kawan bisa membawa perbekalan secukupnya, karena tak banyak warga yang menjual makanan di sekitar kaki gunung. Sebagai catatan, perjalanan menuju puncak gunung cukup menguras tenaga, jadi persiapkan fisik dengan baik, ya.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini