Cara Masyarakat Desa Citengah Memaknai Sumber Kehidupan Melalui Awi

Cara Masyarakat Desa Citengah Memaknai Sumber Kehidupan Melalui Awi
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #CeritaDariKawanGNFI

Di Kabupaten Sumedang, terdapat sebuah desa, yaitu Desa Citengah. Sebuah desa berbentuk perbukitan seluas 3.030 hektare di ketinggian 501-1000 mdpl. Jika berkunjung ke sana, akses dan kondisi jalan aman dilalui.

Di sepanjang perjalanan, Kawan akan disuguhi wisata Citengah antara lain rekreasi keluarga, seperti Kampung Karuhun, rumah makan dan kolam renang Cibingbin, serta rumah makan dan kolam renang Tirta Sari; wisata ziarah yang terdiri atas Curug Ciparupuyan, Leuwi Konyal dan Cepet, Makam Gorobog, serta Makam Mbah Damas; dan wisata alam yang terdiri atas Makam Dewa, Gua Jepang, Camping Ground, Curug Cadas Bodas, Curug Cikole, Curug Cikupa, Curug Cipohpohan, Perkebunan Teh Margawindu, Curug Cigorobog, Curug Cisurian, Curug Kencana, Curug Cipatrol, Curug Cimeunceuk Bikang, dan Curug Baros.

Kampung ini cukup unik. Di sini hanya ada sekitar 27 kepala keluarga (KK). Rumah-rumah warganya pun masih sangat tradisional, berbentuk rumah panggung, berdinding bilik bambu, dan beralas kayu. Selain itu, kampung ini belum mendapat aliran listrik dari PLN sehingga mengandalkan panel surya sendiri untuk pasokan listriknya.

Dalam kehidupan sehari-hari, secara umum masyarakat Citengah sangat dekat dengan alam. Bagi mereka, alam bukan benda mati, tetapi sesuatu yang hidup dan menghidupi seluruh mahluk di muka bumi. Desa Citengah tak hanya menawarkan kekayaan alam, tetapi juga memiliki berbagai daya tarik lainnya, khususnya adat dan budaya yang berkaitan dengan pohon bambu.

Cerita Ki Madhari: Awi, Sumber Kehidupan

Ki Madhari © Kacapaesan (2020)
info gambar

Kabupaten Sumedang dinobatkan sebagai “Puseur Budaya Sundaatau pusat budaya Sunda. Desa Citengah adalah salah satu wilayah percontohannya karena masih hidup dan berpegang pada kebudayaan tradisional.

Mayoritas dari masyarakat di sana bukan akademisi ilmu kebudayaan sehingga tidak terlalu memahami teori-teori ilmiah. Namun, secara turun-temurun mereka mengetahui bahwa agar hidup harmonis, mereka harus menjaga nilai-nilai yang diajarkan para karuhun atau leluhur.

"Dalam kehidupan sehari-hari, kami tidak bisa dipisahkan dari alam. Dekatnya hubungan kami dengan alam pun tercermin dari nilai-nilai yang terus diturunkan dari generasi ke generasi di Citengah, salah satunya yakni berkaitan dengan bambu," tutur Ki Madhari.

Di berbagai wilayah di Asia, bambu seringkali dianggap sakral, melambangkan keanggunan, kekuatan, kelenturan, daya tahan, dan umur panjang. Begitu pula dengan masyarakat di Desa Citengah, bagi mereka bambu merupakan simbol keharmonisan antara alam dan manusia.

Bambu atau yang biasa disebut awi merupakan tumbuhan yang paling akrab dengan masyarakat di sana. Desa Citengah seperti surga bagi tanaman. Citengah sebagai desa yang berlokasi di daerah pegunungan memiliki awi dengan kuantitas yang tinggi. Di sina, awi mudah ditemukan di berbagai lokasi, seperti di perkarangan, tepi sungai, tepi jurang, atau batas-batas pemilikan lahan.

Bukan hanya satu jenis, pada hampir setiap pelosok desa terdapat banyak rumpun dari berbagai jenis awi. Berdasarkan data Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sumedang tahun 2003 menyebutkan bahwa di Sumedang terdapat sembilan jenis awi yang seluruhnya terdapat di Desa Citengah, yakni awi tali, awi haur, awi gombong, awi surat, awi betung, awi tamiyang, awi ampel hideung, awi tali dan awi wulung.

Eratnya hubungan awi dengan kebudayaan Desa Citengah didorong oleh sifat tanaman ini yang sangat mudah dibudidayakan dan memiliki banyak potensi untuk dikembangkan. Berbeda dengan kayu yang membutuhkan waktu lama untuk tumbuh, awi tumbuh dengan sangat cepat.

Bahkan, ada beberapa jenis awi yang bahkan mampu tumbuh hingga sepanjang 60 sentimeter dalam sehari. Selain itu, awi pun memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan, berupa batang yang kuat serta kulit batang yang mudah dibentuk. Dengan demikian, awi bagi mereka adalah salah satu sumber kehidupan, kekayaan alam yang dapat digunakan untuk berbagai kepentingan, tanpa merusak keharmonisan alam desa.

Hal pertama yang menyebabkan dibudidayakannya awi di Desa Citengah adalah diwariskannya kepercayaan turun-temurun bahwa “ngaruksak daerah mah cukup ku ngaruntagkeun dapur awi na” yang artinya “Jika ingin merusak daerah (alam dan kehidupan) cukup hanya dengan merusak rumpun bambunya."

"Para karuhun kami mewariskan ilmu penggunaan awi dalam kehidupan, yakni pemanfaatan awi sebagai tanaman konservasi karena sistem pengakaran serabut dengan akar rimpang yang sangat kuat," ujar Ki Madhari.

Awi dapat bermanfaat untuk menjaga keutuhan lingkungan hidup, seperti meningkatkan volume air bawah tanah (kelestarian mata air), konservasi lahan, dan penghijauan atau perbaikan lingkungan. Dalam cakupan yang lebih luas pun, dapur awi (rumpun bambu) dapat menjadi kesatuan ekosistem yang memungkinkan jalinan rantai makanan yang saling bersimbiosis.

Awi adalah salah satu sumber daya alam yang memiliki sifat-sifat yang menguntungkan, yaitu batang yang kuat, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk, mudah dikerjakan, dan mudah diangkut. Maka dari itu, selain berfungsi untuk pelestarian lingkungan hidup, awi pun memiliki banyak manfaat lainnya, terutama untuk kehidupan sehari-hari, bahkan dapat berdampak positif terhadap peningkatan perekonomian masyarakat Citengah.

Awi merupakan tanaman yang serbaguna karena seluruh bagiannya, dari mulai akar, daun, iwung (rebung), sampai batang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Citengah. Bagi mereka, iwung atau bambu yang baru tumbuh sering dibuat sayur sebagai pelengkap makanan sehari-hari sedangkan batangnya dimanfaatkan untuk kepentingan industri, seperti untuk alat rumah tangga, kerajinan atau produk dekoratif, alat musik, dan bahkan dapat menjadi bahan bangunan tahan gempa.

Pentingnya peran awi bagi masyarakat Citengah pun dapat dilihat dari cara mereka memperlakukan awi. Mereka tidak sembarangan menebang awi karena memiliki pengetahuan tentang cara mengolah awi yang diwariskan secara turun-temurun.

Awi yang dipilih untuk ditebang biasanya adalah awi yang tumbuh di ketinggian yang tersinari langsung oleh matahari, karena kualitasnya lebih bagus jika dibandingkan dengan awi yang tumbuh di legokan (yang tidak tersinari langsung oleh matahari).

Selain lokasi tumbuhnya, mereka juga memiliki tata cara dalam proses penebangan agar menghasilkan kualitas awi yang tahan lama, yakni dengan cara memperhitungkan cuaca dan waktu penebangan. Pertimbangannya, misalnya tidak menebang awi ketika musim penghujan karena kualitas awi yang ditebang saat itu, tidak akan sebagus dan sekuat pada musim panas.

Masyarakat pun biasanya menebang awi yang sudah tua. Umur awi tersebut biasanya diidentifikasi dari warna daun yang sudah berwarna coklat. Selain itu, waktu yang bagus untuk menebang awi adalah dari pukul 9 pagi sampai pukul 12 siang karena kondisi kadar air di dalam awi tersebut sedang turun. Dengan demikian, awi yang ditebang akan berkualitas bagus dan tahan lama ketika dijadikan berbagai perkakas.

Jejak tak terlupakan

Potret Keindahan Alam Desa Citengah Sumedang | Foto: Sumedang Tandang
info gambar

Dari Desa Citengah, tentu semakin menyadarkan kita bahwa alam memiliki nilai hidup. Alam tidak semata-mata berfungsi untuk dinikmati keindahan bentuknya, tetapi digunakan pula sebagai media pewarisan nilai-nilai kearifan lokal. Alam Desa Citengah mencerminkan dekatnya hubungan masyarakat dengan alam, penghargaan terhadap alam, dan rasa terimakasih pada para karuhun.

“Sahade-hadena imah, nu paling merenah mah imah sorangan”, yang artinya sebaik-baiknya rumah, yang terbaik adalah rumah sendiri. Itulah sebuah ungkapan. Ajaibnya, Desa Citengah, dalam waktu singkat seolah menjelema menjadi rumah bagi Kawan yang berkunjung ke sana. Desa Citengah adalah anugerah dari Sang Pencipta, Sang Pemberi Kehidupan, yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya.*

Referensi: Pemerintah Desa Citengah. 2019. “Profil Desa Citengah”. Sumedang: Kantor Desa Citengah. | Ridwan dan Catur Sutarya. 2018. “Pemberdayaan Masyarakat Desa Dalam Mengembangkan Ekonomi Kreatif di Desa Citengah Kabupaten Sumedang”. Jurnal Riset Akuntansi Kontemporer Vol.10, No. 1. | Sunarya. 2020. Rurukan Adat Nabawadatala. Sumedang: Nabawadatala. | Sunarya, Seniman dan pengembang kesenian songah, Alamat Desa Citengah. | Agus Kusnandar, Pengelola tempat wisata, Alamat Desa Citengah

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BG
KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini