Melihat Lebih Dekat, 5 Ayam Kampung yang Populer di Indonesia

Melihat Lebih Dekat, 5 Ayam Kampung yang Populer di Indonesia
info gambar utama

Ayam kampung merupakan hewan ternak yang cukup banyak dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah pedesaan.

Dari segi pemeliharaan, budidaya ayam kampung tidak memakan modal yang cukup besar sebab hemat dalam biaya pakan, dapat dipelihara di hampir semua tempat, bahkan pada kondisi lingkungan yang penuh keterbatasan.

Adapun asal muasal ayam kampung berasal dari ayam liar atau ayam hutan. Konon, nenek moyang ayam kampung tersebut sudah ribuan tahun dibudidayakan secara tradisional oleh masyarakat Indonesia.

Pada zaman Kerajaan Kutai saja, ayam hutan sudah dibudidayakan sebagai upeti dari rakyat untuk persembahan bagi raja. Oleh karena citarasa dagingnya disukai raja, kemudian ayam tersebut selalu dipelihara dan diternakkan.

Seiring dengan pekembangan zaman, ayam kampung pun telah tersebar ke seluruh pelosok nusantara. Alhasil, menyebabkan unggas tersebut memiliki keanekaragaman di setiap daerah mulai dari daya produksi daging, telur, warna bulu, suara, dan lain sebagainya. Berikut, rangkuman berbagai jenis ayam kampung yang populer buat Kawan GNFI:

1. Ayam Kokok Balenggek

Seekor pejantan Ayam Kokok Belenggek © Dunia Binatang
info gambar

Ayam kampung asli Sumatera Barat ini pada awalnya ditemukan di Kecamatan Paung Sasaki dan Tigo Lurah, Kabupaten Solok. Menurut masyarakat setempat, Ayam Kokok Balenggek berasal dari keturunan ayam kinantan milik Cindua Mato yang mengawini ayam hutan di Bukit Sirayuah, Kecamatan Payung Sekaki, dan berkembang biak hingga sekarang.

Pemilik ayam kokok balenggek bisa dikatakan beruntung, sebab dapat mendengarkan kokokan merdu dari suara unggas tersebut. Sehingga, keistimewahan dari ayam kampung ini pun menjadikannya sebagai tipe ayam penyanyi yang memiliki suara kokok merdu dan enak didengar.

Kokokan suara ayam kampung tersebut bahkan sudah terdengar sampai ke negara Belanda dan Jepang. Tepatnya ketika insinyur Belanda pada 1981, membawa sepasang ayam kokok balenggek ke negara kincir anginnya karena terkesan dengan suara ayam kampung tersebut.

Lalu pada 1994, ketika Pangeran Akishinonomiya Fumihito dari Jepang terkesan dengan keanggunan ayam tersebut. Adapun ciri dari ayam kokok balenggek, unggas ini memiliki jengger bergerigi berwarna merah, warna bulu punggung yang mengkilap dan warna sayap bervariasi mulai dari hitam, merah, kuning atau putih.

2. Ayam Merawang

Sepasang Ayam Merawang © Ayam Ngampus
info gambar

Masih dari Pulau Sumatera, ayam merawang dari spesies Gallus-gallus, family Phasianidae ini berasal dari Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Menurut masyarakat setempat, ayam merawang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai ayam dwiguna karena mempunyai keunggulan sebagai penghasil daging dan telur.

Bila dibandingkan dengan ayam kampung biasa, produksi telur lebih tinggi rata-rata 165/butir/ekor/tahun, sedangkan ayam lokal lainnya hanya 40-60 butir/ekor/tahun.

Di sisi lain jenis ayam ini memiliki nilai estetika yang tinggi, khususnya untuk masyarakat Tionghoa yang mayoritas di Kepulauan Bangka Belitung.

Keindahannya bisa dilihat dari warna bulu ayam yang coklat merah dan kuning keemasan. Bagian ujung sayap dan ekor berwarna merah. Warna kulit, paruh dan ceker putih atau kekuningan. Jengger jantan berukuran besar, tegak dan bergerigi bagian atasnya.

3. Ayam Kedu

Sepasang Ayam Kedu putih © Zesril Juwito
info gambar

Bermain ke Pulau Jawa, kawan akan melihat ayam kedu yang merupakan ayam kampungnya masyarakat daerah Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Ayam ini diketahui mempunyai keunggulan dalam menghasilkan telur, sehingga diarahkan untuk dipergunakan sebagai ayam petelur yang tercatat dapat menghasilkan 124 butir/ekor/tahun.

Adapun tampilan dari ayam kampung ini berdasarkan warna dapat dibedakan atas dua jenis kedu, yakni ayam kedu hitam dan ayam kedu putih.

Pada ayam kedu hitam, bulu, paruh, kulit dan ceker berwarna hitam. Bila diamati lebih jeli, bulu leher dan punggung pada ayam jantannya ada hiasan warna merah darah atau kuning kemerahan.

Jengger, lidah, dan tenggorokan berwarna kemerahan. Sementara itu, pada ayam kedu putih bulu berwarna putih polos. jengger dan cuping, berwarna merah terang. Paruh berwarna putih, kuning kadang kala ada yang kehitaman.

4. Ayam Cemani

Seekor pejantan Ayam Cemani © Bombastis
info gambar

Ayam ini masih berasal dari daerah Kedu, Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Bedanya dengan ayam kedu maka ayam cemani memiliki penampilan sosok tubuh hitam legam, termasuk paruh, kuku, telapak kaki, lidah, telak bahkan daging serta tulangnya juga hitam.

Keunggulan dari ayam cemini dapat dilihat dari hasil produksi telurnya yang tinggi untuk ukuran ayam kampung, sehingga dimanfaatkan sebagai ayam tipe petelur.

Sesuai dengan tujuan pemeliharaannya, ayam cemani dapat menghasilkan sebanyak 56-77 butir/ekor/tahun. Sementara itu, apabila ayam tersebut dipelihara intensif dalam kandang baterai maka produksinya dapat 215 butir/ekor/tahun dengan berat sebesar 41-49 g per butir.

Disamping itu, tujuan penggunaan ayam cemani juga banyak digunakan masyarakat setempat untuk keperluan upacara ritual adat dan dipercaya berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit.

Ayam cemani tidak bersifat endemik karena jenis ayam ini juga ditemukan di India dan bahkan dibudidayakan di Florida, Amerika Serikat (AS), tepatnya oleh Greenfire Farm.

Harga ayam cemani di AS berkisar sekitar 2,78–5,6 juta rupiah per ekor. Sedangkan di Indonesia, seekor anakan ayam cemani harganya mencapai Rp500–750 ribu dan seekor indukan cemani harganya satu juta rupiah sampai belasan juta.

5. Ayam Pelung

Seekor Ayam Pelung pejantan © Wikipedia
info gambar

Ayam pelung yang berasal dari Warung Kondang, Kabupaten Cianjur Jawa Barat ini juga tak kalah dari Ayam Kokok balenggek dari Sumatera Barat.

Dari suara kokonya sangat khas, mengalun panjang, besar, dan mendayu-dayu. Durasi kokok ayam pelung cukup panjang dapat mencapai waktu 10 detik bahkan lebih, itulah sebabnya ayam pelung dapat dikelompokkan dalam ayam berkokok panjang. Uniknya, bila berkokok leher ayam ini pun dilengkungkan ke bawah bahkan kadang-kadang sampai menyentuh tanah.

Keistimewahan suara dari ayam kampung ini pun sudah banyak membius hati penggemar dari luar daerah Cianjur. Penyebarannya sudah meluas ke berbagai daerah sekitar Bandung, Bogor, Sukabumi, dan daerah lainnya.

Sehingga, ayam ini juga dikenal sebagai ayam kontes yang pertunjukannya pernah diadakan oleh pemerintah maupun inisiatif perhimpunan penggemar ayam pelung.

Selain unjuk gigi dari alunan suara, ayam pelung juga dapat dimanfaatkan sebagai ayam penghasil telur dan daging. Hal ini karena perkembangan pertumbuhan ayam pelung yang pesat serta produksi telurnya yang tinggi.

Adapun ciri dari ayam pelung, yakni mempunyai warna bulu campuran merah dan hitam. Bentuk cakarnya panjang dan besar dengan warna bervariasi dari hitam, kuning, atau putih kekuning-kuningan. Jenger pada umumnya berbentuk tunggal, berdiri tegak dan bergerigi seperti gergaji. Kepala berbentuk oval, cuping telinga merah dihiasi oleh warna putih di bagian tengah.

==

Sumber Referensi:

Buku Sukses Budi Daya Ayam Kampung | Buku Ayam Burgo Ayam Buras Bengkulu | Kompas.com

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini