Melihat Industri Buku di Indonesia dari Masa ke Masa

Melihat Industri Buku di Indonesia dari Masa ke Masa
info gambar utama

Penulis: Habibah Auni

Buku adalah jendela dunia. Begitu serangkaian kata bijak yang sering kita dengar. Dengan buku, manusia dapat memahami seluk-beluk alam semesta, bahkan sampai ke tempat yang sulit dijangkau.

Menjadi diri seutuhnya membutuhkan kontemplasi panjang, pengalaman yang tidak sedikit, dan pengetahuan seluas samudra. Di sinilah buku mengambil peran, menceburkan manusia ke dalam air pengetahuan melalui beribu baris kata sarat akan makna.

Diperlukan berjuta-juta buku untuk dapat mencerdaskan seluruh insan Indonesia. Sebab gap antara populasi Indonesia dengan jumlah buku, mengakibatkan terjadinya ketimpangan pengetahuan antar lapisan masyarakat.

Industri buku hadir menjawab kebutuhan masyarakat akan informasi, data, dan pengetahuan. Sektor industri ini menjadi salah satu tonggak kelahiran cendekiawan yang akan membesarkan bangsa dan negara. Bagaimana perjalanan industri buku di Indonesia?

Industri buku masa silam

Ilustrasi | Foto: Unsplash
info gambar

Semua dimulai dari masa penjajahan Belanda yang berkeinginan untuk menjalankan misi 3G (Gold, Glory, dan Gospel). Dengan membawa mesin cetak, seorang misionaris gereja menjejakkan kakinya di tanah pertiwi dengan harapan dapat menyebarluaskan agamanya di Indonesia.

Namun, tak disangka mesin cetak yang dibawa si misionaris gereja belum bisa menghasilkan lembaran-lembaran yang mencukupi kebutuhan dakwahnya. Tak putus akal, ia pun mencoba menambahkan tiga mesin cetak. Nahas, terbentur masalah yang sama lantaran jumlah SDM yang kurang dalam mengoperasikan mesin cetak.

Cerita beralih pada akhir abad ke-19, di mana orang Tionghoa dan Melayu berinisiatif membangun penerbit dan percetakan. Mereka menerbitkan berbagai produk cetakan (berita, cerita, pamflet, dan brosur) dalam bahasa Tionghoa dan Melayu.

Saat itu, pihak Belanda juga membangun industri penerbit dan percetakan. Kebanyakan produk cetaknya berupa brosur, pamflet, atau surat kabar yang ditranslasi dari Belanda ke Melayu.

Masyarakat pribumi pun tak mau kalah dengan Tionghoa, Melayu, dan Belanda. Bermodalkan sedikit mesin cetak, masyarakat pribumi mulai menerbitkan buku-buku yang memakai bahasa daerah.

Usaha merintis industri buku oleh masyarakat pribumi pun terbayarkan. Karena pada tahun 1950-an, banyak industri penerbitan yang bermunculan di Pulau Jawa. Di tahun 1950, IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) mempunyai 13 anggota penerbitan. Lalu, pada tahun 1955, pemerintah Republik Indonesia mengambil alih industri penerbitan buku milik Belanda.

Pada masa-masa itu, pemerintah mewajibkan industri buku untuk mencetak buku yang murah agar banyak masyarakat yang membeli dan membaca buku. Dalam mencapai hal ini, pemerintah menyalurkan subsidi pada semua industri buku yang ada.

Industri buku sekarang

Ilustrasi | Foto: Unsplash
info gambar

Industri buku terus mengalami perkembangan hingga masa sekarang. Diketahui per tahun 2015, Indonesia sudah mempunyai 1.328 anggota penerbitan Ikapi dan 109 anggota penerbitan non-Ikapi.

Namun jumlah penerbit yang aktif memproduksi minimal judul buku per tahun hanya 711 unit. Dilansir dari VOA Indonesia, penerbit yang benar-benar produktif mencetak lebih dari 200 judul buku per tahun hanya 3 persen saja. Belum lagi tiap judul buku hanya menerbitkan 3.000 eksemplar.

Hal ini disebabkan oleh masyarakat Indonesia yang rata-rata hanya membeli 2 judul buku per tahun. Ditambah lagi, kebanyakan buku yang terjual adalah buku yang bertema pendidikan, karena untuk kepentingan pengadaan buku di sekolah. Hal ini menerangkan bahwa industri buku sedang berada di ambang batas.

Kehadiran Pandemi Covid-19 turut memperparah kondisi industri buku. Berdasarkan survei IKAPI pada 100 responden pada 16-20 April 2020 lalu, penjualan toko buku mengalami penurunan. Hal ini disebabkan banyak hak, mulai dari melemahnya marketing, pengadaan buku ke sekolah, proyek pengadaan buku dengan dinas perpustakaan, hingga berhentinya beberapa penerbit sementara waktu.

Menjemput cahaya

Ilustrasi | Foto: Unsplash
info gambar

Indonesia memiliki 200an juta penduduk dan pangsa buku dalam negeri sekitar Rp14,1 triliun setiap tahun. Ini menjadi pertanda baik bahwa industri buku di Indonesia mempunyai potensi untuk bangkit dan berjaya.

Sudah saatnya industri buku mengintip celah di balik awan, melihat mana jendela rumah yang bisa disinari. Tidak menutup mata, putus asa, dan terjebak dalam “musibah” yang akut melanda.

Peradaban sekarang diwarnai teknologi, dan kedatangan pandemi memperkuat identitas ini. Ditambah lagi dengan milenial yang merupakan digital native. Maka, industri buku di Indonesia bisa beradaptasi, beradaptasi, kemudian mengambil alih kendali zaman.

Industri buku dapat merambah ke seluruh penjuru dunia digital. Menerbitkan bukunya dalam bentuk elektronik, lalu menjualnya di aplikasi resmi yang bisa diakses banyak orang seperti Google Play Book.

Dilansir dari Media Indonesia, IKAPI dapat bekerja sama dengan Kemenparekraf untuk membantu penerbit dalam menjual buku dalam bentuk digital. Kemudian memberikan insentif seperti kupon atau voucher untuk membantu penjualan penerbit.

Nah, itu dia sejarah singkat dan perkembangan industri buku hingga kini. Apakah Kawan GNFI tergerak untuk memajukan industri buku dengan membeli dan membaca buku? Yuk, alokasikan uang Kawan GNFI untuk membeli buku. Ilmu dan manfaat sudah menanti Kawan!*

Referensi: kumparan | Media Indonesia | PakarKomunikasi.com | VOA Indonesia

Baca Juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini