Peringatan Hari Puisi Nasional, 3 Lagu Ini Diangkat dari Puisi Sastrawan Indonesia

Peringatan Hari Puisi Nasional, 3 Lagu Ini Diangkat dari Puisi Sastrawan Indonesia
info gambar utama

Penulis: Ega Krisnawati

Indonesia mengenang karya para penyairnya dengan memperingati Hari Puisi Nasional. Peringatan Hari Puisi Nasional jatuh pada 28 April setiap tahunnya. Hari Puisi Nasional erat kaitannya dengan sastrawan tanah air, yaitu Chairil Anwar.

Penghormatan terhadap karya puisi para sastrawan tanah air juga dilakukan oleh para musisi Indonesia. Penghormatan itu dilakukan dengan cara mengubah syair puisi menjadi sebuah lagu. Proses pengubahan bentuk karya sastra puisi menjadi bentuk lagu dinamakan musikalisasi puisi.

Syair tiap bait puisi, nantinya akan ditambahkan alunan nada di dalamnya. Menurut laman Mousaik, puisi milik Chairil Anwar, Wiji Tukul, hingga Sapardi Djoko Damono dikemas secara apik menjadi sebuah lagu. Lagu apa saja yang diangkat dari puisi para sastrawan Indonesia?

1. Lagu Rindu oleh Banda Neira (diadaptasi dari puisi karya Subagio Sastrowardojo)

Banda Neira | Foto: CNN Indonesia
info gambar

Lagu yang diadaptasi dari puisi Rindu karya Subagio Sastrowardojo ini, rilis sejak 13 April 2013 lalu. Banda Neira adalah sebuah grup musik yang dibentuk oleh Rara Sekar dan Ananda Badudu.

Dikutip dari laman Ensiklopedia Sastra Indonesia, Subagio Sastrowardojo dikenal sebagai penyair yang juga menulis cerpen dan esai. Ia lahir pada 1 Februari 1924 di Madiun, Jawa Timur, dan meninggal di Jakarta pada usia 72 tahun, 18 Juli 1996.

Karya Subagio yang berbentuk kumpulan puisi, yaitu Simphoni (1957), Daerah Perbatasan (1970), Keroncong Motinggo (1975), Buku Harian (1979), Hari dan Hara (1982), Simponi Dua (1989), serta Dan Kematian Makin Akrab (1995).

Ketika puisi Rindu sudah menjadi lagu, Kawan akan mendengarkannya dalam rentang waktu lima menit. Sayangnya berdasarkan pernyataan dari Instagram resmi Banda Naira, baik Rara Sekar dan Ananda Badudu tidak lagi meneruskan karyanya untuk Banda Neira.

2. Lagu Bunga dan Tembok oleh Merah Bercerita (diadaptasi dari puisi karya Wiji Thukul)

Merah Bercerita | Foto: Sesaji Bunyi
info gambar

Wiji Thukul lahir pada 26 Agustus 1963 di Kampung Sorogenen, Solo, Jawa Tengah. Wiji Thukul, dikenal sebagai penyair pelo (cadel).

Ia mulai menulis puisi ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan mulai tertarik pada dunia teater ketika di sekolah menengah pertama (SMP). Sementara itu, dikutip dari Cultura.id Merah Bercerita adalah band dengan aliran musik Poem Rock dari Solo.

Band ini terbentuk sejak 2004 dan beranggotakan Fajar Merah pada vokal dan gitar, Yanuar Arifin pada bass, dan Lintang Bumi pada drum. Merah Bercerita gemar membuat karya musikalisasi puisi dari karya sastrawan Indonesia.

3. Lagu Engkau Menunggu Kemarau oleh AriReda (diadaptasi dari puisi karya Abdul Hadi WM)

AriReda| Foto: Tirto.d
info gambar

Abdul Hadi W.M dengan nama lengkap Hadi Widji Muthari, dikenal sebagai penyair, budayawan, dan cendekiawan muslim yang lahir pada tanggal 24 Juni 1946 di kota Sumenep, Madura. Ia berasal dari kalangan keluarga muslim yang taat beribadah. Ayahnya seorang muslim Tioghoa dan ibunya masih keturunan keluarga Keraton Surakarta.

Abdul Hadi W.M. juga dikenal sebagai seorang editor buku, pengulas, dan penerjemah karya-karya sastra Islam dan karya sastra dunia. Sejumlah karya milik Abdul Hadi W, di antaranya Sastra Sufi: Sebuah Antologi (terjemahan dan esai, 1985), Ruba'yat Omar Khayyam (terjemahan dan esai, 1987), dan Kumpulan Sajak Iqbal: Pesan kepada Bangsa-Bangsa Timur (terjemahan puisi dan pembahasan, 1986).

Lagu Engkau Menunggu Kemarau yang dinyanyikan oleh AriReda dipublikasi di kanal INDO FOLK pada tahun 2017. Duet AriReda terbentuk pada 1982. Mereka adalah Ari Malibu dan Reda Gaudiamo.

AriReda biasanya tampil di acara-acara kampus untuk menyanyikan balada dari John Denver maupun Simon dan Garfunkel. Mereka mulai menyanyikan puisi-puisi pada tahun 1987 saat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, mengajak Ari dan Reda untuk menyanyikan puisi Sapardi.

AriReda aktif berkarya, hingga pada 14 Juni 2018, Ari meninggal dunia di usia 57. Ia meninggal dunia karena kanker kerongkongan. Hingga saat ini Reda masih terus berkarya, tapi dengan format yang berbeda.*

Referensi:Tirto.id |Mousaik | Gus Mus | Ensiklopedia Sastra Indonesia

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini