76 Rumah Gadang Tua Menghiasi Perkampungan Adat di Nagari Sijunjung

76 Rumah Gadang Tua Menghiasi Perkampungan Adat di Nagari Sijunjung
info gambar utama

“Selamat Datang di Kawasan Perkampungan Adat Nagari Sijunjung”, begitulah sekiranya sambutan awal ketika memasuki perkampungan ini. Tak jauh dari gerbang, kita akan menjumpai patung perempuan berpakaian adat yang dikenal dengan sebutan Puti Junjung.

Jika Kawan berdiri persis di dekat patung yang menjulang setinggi lima meter tersebut. Maka, tampaklah sederetan rumah gadang yang tertata rapi di sepanjang sisi kanan dan kiri jalan.

Kampung yang berlokasi di Jorong Padang Ranah Sijunjung, Sumatra Barat ini memang terkenal sebagai nagari yang masih punya banyak rumah gadang tua.

Rumah-rumah ini dibangun pada abad ke-14 dan ditempati oleh beragam masyarakat dari suku Minang, mulai dari suku Chaniago, Piliang, Malayu, Tobo, Panai sampai Malayu Tak Timbago.

Menariknya lagi, Kampung Adat ini memilik total 76 rumah gadang tua yang bahan bangunannya masih menggunakan material lokal, seperti kayu dan bambu.

Melihat arsitektur bangunan rumah gadang sijunjung

Salah satu rumah gadang yang berada di Nagari Sijunjung © Canro S/Shutterstock
info gambar

Dari segi bentuk bangunan, arsitektur rumah gadang di Kampung Adat Nagari Sijunjung merupakan tipe rumah gadang yang tergolong kecil. Bentuk bangunannya memiliki konsep persegi panjang dengan jumlah ruangan rumah gadang bisa sampai lima ruang.

Kayu menjadi salah satu material yang digunakan pada bangunan tersebut. Hal ini bisa terlihat dari tiang atau tonggak penyangga bangunan rumah gadang. Selain kayu, bambu juga menjadi material yang digunakan sebagai dinding, atap, dan lantai rumah gadang.

Khusus untuk material lantai rumah gadang maka saat ini penggunaan bambu mulai digantikan oleh papan dari kayu surian atau kayu dari pohon kelapa.

Layaknya lantai rumah gandang, saat ini penggunaan material penutup atap yang dulunya terbuat dari ijuk juga sudah tergantikan dengan seng. Hal ini dikarenakan material tradisional ijuk membutuhkan waktu lama dalam proses pembuatannya dan semakin sedikit orang yang mampu merakitnya.

Tidak ada bangunan rangkiang di halaman rumah gadang

Dari 76 rumah gadang di Kampung Adat Nagari Sijunjung, tidak ada satupun berdiri bangunan rangkiang di halamannya. © NGI
info gambar

Tidak seperti kebanyakan rumah gadang di Sumatra Barat. Deretan 76 rumah gadang di Kampung Adat Nagari Sijunjung ini tidak ada satupun berdiri bangunan rangkiang di halamannya.

Rangkiang sendiri memiliki bentuk seperti rumah kecil yang digunakan untuk menyimpan padi. Walaupun tidak memiliki rangkiang, rumah gadang ini menyimpan hasil panennya dibawah lantai rumah yang tinggikan.

Padi hasil panen itu dimasukkan di bawah lantai kemudian ditutup dengan tikar. Tumpukan padi itu kadang juga sebagai pengganti kasur. Bahkan, konon katanya apabila tidur di atas tumpukan padi bisa sebagai terapi kesehatan.

“Ciri khas memang disimpan di bawah lantai. Mayoritas memang kayak gini, tak ada rangkiang. Apabila perlu padi tinggal dibuka tikar lalu ambil. Kalau punya saya ini ada sekitar 60 goni (karung),” kata Yeni pada langgam (13/11/2019)

Masuk daftar warisan dunia UNESCO

Pada 2015 perkampungan Adat Nagari Sijunjung secara resmi masuk dalam daftar tentatif warisan dunia UNESCO. © NGI
info gambar

Nagari Sijunjung yang berjarak 122 kilometer dari Padang ini merupakan salah satu contoh perkampungan adat di Indonesia. Deratan 76 bangunan rumah gadangnya ini dapat menjadi penawar rindu dari eloknya rumah gadang di negeri tanduk kerbau.

Keindahan dan sejarah yang ada di Kampung Adat Nagari Sijunjung pun membuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menetap daerah tersebut sebagai kawasan cagar budaya nasional.

Tak hanya itu, pada 2015 perkampungan Adat Nagari Sijunjung juga masuk dalam daftar tentatif warisan dunia UNESCO. Tujuannya sendiri adalah untuk melestarikan rumah gadang dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

==

Sumber Referensi:

Kemendikbud.go.id | Langgam.id | Laporan Green Architecture

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini