Inilah Daftar Negara dengan Indeks Transisi Energi Terbaik di ASEAN 2021

Inilah Daftar Negara dengan Indeks Transisi Energi Terbaik di ASEAN 2021
info gambar utama

Sebagaimana yang kita ketahui, penggunaan energi fosil tanpa batas sangat berkontribusi pada kenaikan suhu bumi, polusi udara, dan sejumlah krisis lingkungan lainnya. Dilansir dari Pwypindonesia.org (22/11/2020), penggunaan energi fosil telah mencapai 84% dari penggunaan energi global.

Di Indonesia, bahan bakar tak terbarukan tersebut telah menjadi penyumbang terbesar emisi CO2 dari total emisi Gas Rumah Kaca (GRK) nasional. Konkretnya, sepanjang tahun 2012-2017 Indonesia tercatat telah mengalami peningkatan emisi CO2 sebesar 18% karena emisi dari pembangkitan listrik, sektor industri, dan transportasi.

Sehingga, menurut Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa, transisi energi adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa diabaikan. Sebab upaya peralihan energi dapat berdampak bagi pemulihan lingkungan. Selain itu, transisi energi juga memiliki harga yang lebih kompetitif dan berkelanjutan ketimbang energi fosil.

”Pengoptimalan sumber energi terbarukan juga akan menciptakan industri baru yang mendukung pertumbuhan ekonomi hijau, membuka lapangan kerja, dan menarik investasi,” kata Fabby, pada iesr.or.id (14/3/2021).

Oleh karena itulah, manfaat ganda dari peralihan energi telah menjadi agenda dan strategi pembangunan banyak negara dunia. Untuk mengetahui kemajuan pengembangan energi terbarukan tersebut maka diperlukan analisis data tentang Energy Transition Index (ETI).

ETI terbentuk atas tiga elemen performa sistem, yakni keamanan dan akses terhadap pasokan energi, keberlanjutan lingkungan, serta pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Selain itu, sejumlah kesiapan transisi juga menjadi indikator, seperti modal dan investasi, struktur sistem energi, serta komitmen dan regulasi. ETI yang menjangkau 115 negara tersebut digambarkan dengan skor berskala 0-100 poin.

Dalam laporan Forum Ekonomi Dunia (WEF) pada April 2021, tercatat Swedia menjadi negera terdepan dalam penggunaan energi terbarukan atau peringkat 1 dari 115 negara dunia, dengan indeks transisi energinya hingga 87 poin. Sementara untuk kawasan Asia Tenggara, Singapura menjadi negara yang menduduki peringkat pertama.

Lebih lanjut, dalam tulisan ini GNFI akan menyajikan daftar 8 besar negara di Asia Tenggara yang menjadi pelaku transisi energi pada 2021.

Baca Juga: Wujud Nyata dari SDGs, Inilah 4 Desa Mandiri Energi di Indonesia

Indeks transisi energi negara kawasan ASEAN 2021 © GNFI
info gambar

1. Singapura

Di kawasan ASEAN, Singapura menjadi negara terdepan dalam penggunaan energi terbarukan. Sedangkan secara global, negara makmur tersebut menempati peringkat 21 dari 115 negara dunia dengan indeks transisi energinya mencapai 67 poin.

Salah satu wujud sinergitas Singapura dalam transisi energi dapat dilihat dari pembangunan pembangkit listrik tenaga suryanya, yang terhitung ada 13 ribu panel di permukaan laut. Dengan kemampuan menghasilkan listrik hingga lima megawatt, panel surya tersebut dapat memberikam daya setidaknya bagi 1.400 rumah susun sepanjang tahun.

2. Malaysia

Selanjutnya, peringkat kedua ditempati oleh negeri jiran, Malaysia, dengan indeks transisi energinya tercatat 64 poin. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 39 dari 115 negara dunia.

Salah satu wujud sinergitas Malaysia dalam upaya transisi energi dapat terlihat pada pembangunan panel suryanya. International Renewable Energy Agency (IRENA) bahkan sampai menunjuk Malaysia sebagai negara tenaga surya fotovoltaik (PV) terbesar di ASEAN pada 2019.

3. Thailand

Kemudian, peringkat ketiga ditempati oleh Thailand dengan indeks transisi 60 poin. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 55 dari 115 negara dunia.

Salah satu wujud sinergitas Thailand dalam upaya transisi energi dapat terlihat pada pembangunan pembangkit listrik tenaga hibridanya, yang sedang terpasang sekitar 144 panel surya di waduk di provinsi timur laut Ubon Ratchathani. Menurut Rencana Pengembangan Energi Thailand, pembangkit listrik tersebut bertujuan untuk mencapai 35% energi dari bahan bakar non-fosil pada 2037.

4. Vietnam

Berikutnya, peringkat keempat ditempati oleh Vietnam dengan indeks transisi energi 57 poin. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 65 dari 115 negara dunia.

Salah satu wujud sinergitas Vietnam dalam upaya transisi energi dapat terlihat pada peningkatan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berskala besarnya hingga lebih dari 5 Giga Watt (GW) pada 2019. Kapasitas tersebut diprediksi akan ditingkatkan lagi pada akhir tahun 2021, yakni hingga mencapai 10 GW.

5. Filipina

Tercatat Filipina menempati peringkat kelima sebagai negara transisi energi di ASEAN. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 1 dari 115 negara dunia dengan indeks transisi energinya tercatat 57 poin.

6. Indonesia

Selanjutnya peringkat keenam ditempati oleh Indonesia dengan indeks transisi energi mencapai 56 poin. Sedangkan secara global, Indonesia menempati peringkat 71 dari 115 negara dunia.

Dilansir dari Mediaindonesia.com (9/12/2019), salah satu wujud sinergitas Indonesia dalam upaya transisi energi dapat terlihat pada pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Mauhalek di Desa Mauhalek, Kecamatan Lasiolat, Belu, Nusa Tenggara Timur sejak 2015.

7. Brunei Darussalam

Sebesar 95 persen dari total ekspor Brunei Darussalam adalah komoditi minyak bumi serta gas. Meskipun begitu, negara ini tetap mengupayakan transisi energi. Tercatat Brunei menduduki posisi keenam dalam hal penggunaan energi terbarukan.

Brunei memiliki indeks transisi energi hingga 54 poin dan menempatkannya di posisi ketujuh di Asia Tenggara. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 82 dari 115 negara dunia.

8. Kamboja

Terakhir, peringkat kedelapan ditempati oleh Kamboja dengan indeks transisi energinya mencapai 52 poin. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 93 dari 115 negara dunia

Dilansir dari CNBC Indonesia.com (23/10/2020), salah satu wujud sinergitas Kamboja dalam transisi energi dapat dilihat dari pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berskala kecilnya, yakni 60 Mega Watt (MW).

==

Sumber Referensi:

Pwypindonesia.org | iesr.or.id | wartaekonomi.co.id | ofiskita.com | Tempo.co | Mediaindonesia.com | Kompas.com | CNBC Indonesia.com | Laporan Forum Ekonomi Dunia (WEF)

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini