Jogja jadi Embrio Kebangkitan Nasional, Sultan HB X Wajibkan Lagu Indonesia Raya

Jogja jadi Embrio Kebangkitan Nasional, Sultan HB X Wajibkan Lagu Indonesia Raya
info gambar utama

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X mewajibkan semua ruang publik di daerahnya memutar lagu kebangsaan Indonesia Raya tiap hari pukul 10.00 WIB sejak Kamis, (20/5/2021). Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang semangat nasionalisme.

Aturan baru tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 29/SE/V/2021 tentang 'Memperdengarkan Lagu Indonesia Raya' yang diteken Sultan HB X pada Selasa (18/5).

"Lagu Kebangsaan Indonesia Raya satu stanza agar diperdengarkan setiap pukul 10.00 WIB atau setiap pagi saat memulai aktivitas kegiatan," kata Sultan, Selasa (18/5).

SE tersebut ditujukan kepada Bupati/Walikota se-DIY, pimpinan perwakilan instansi pemerintah pusat, instansi pemerintahan di lingkungan Pemda DIY, pimpinan BUMN dan BUMD, serta pimpinan perusahaan swasta.

Raja Keraton Yogyakarta ini juga meminta setiap orang yang hadir pada saat lagu Indonesia Raya diperdengarkan atau dinyanyikan agar berdiri tegak dengan sikap hormat.

"Wajib berdiri tegak dengan sikap hormat," kata Sultan dalam SE itu.

Dirinya berharap seluruh masyarakat Yogyakarta untuk membangkitkan Gerakan Indonesia Raya Bergema. Layaknya saat perjuangan Serangan Oemoem 1 Maret 1949 yang mampu membawa inspirasi semangat kebangsaan yang hidup di hati masyarakat luas.

"Kalau dulu digemakan oleh samangat kebangsaan autentik, kini kita menggemakan semangat kebangsaan baru abad millenial agar benar-benar mau membangun jiwa ragaku demi Tanah Airku, tanah tumpah darahku dan di sanalah aku berdiri seraya berseru Indoensia bersatu," kata Raja Keraton Yogyakarta ini.

Baca juga Sisi Humanis Sri Sultan HB IX, Raja yang Sederhana dan Merakyat

Gerakan Indonesia Raya Bergema

Gerakan Indonesia Raya Bergema dimunculkan sejumlah elemen masyarakat di Yogyakarta yang tergabung dalam Forum Rakyat Yogya Untuk Indonesia (For You Indonesia) bersama Pemda DIY, Keraton Yogyakarta, serta Kadipaten Pakualaman. Sebagai sarana kampanye berkelanjutan menggelorakan nasionalisme.

Menurut Ketua Sekber Keistimewaan DIY, Widihasto Wasana Putra, menjelaskan bahwa Lagu Kebangsaan Indonesia Raya (LKRI) bisa menjadi pintu masuk mengajak publik semakin menghayati nilai-nilai kebangsaan yang dirasa mulai luntur.

Selain itu ide ini muncul karena adanya kecenderungan menguatnya isu-isu sektarian. Senada dengan yang disampaikan Gubernur DIY Sri Sultan, dia mengatakan pemutaran lagu kebangsaan itu dilakukan untuk meningkatan kesadaran masyarakat soal pentingnya nasionalisme.

"Perlu sebagai bentuk terobosan untuk menggelorakan nasionalisme rakyat. Kontinu setiap hari penting karena untuk menancapkan sikap nasionalistik perlu metode repetisi," ungkapnya dalam Kompas.com, Kamis (20/5).

Awalnya pihaknya mengusulkan ide pemutaran lagu Indonesia Raya pada 16 April 2021.

"Puasa hari ke empat kami sowan ke Kraton dan menyampaikan gagasan tersebut ke Sultan," tuturnya.

Kemudian terjalinlah diskusi. Dia menceritakan, Sultan tidak mempermasalahkan dan setuju mewujudkan itu di DIY.

Ketua Departemen Politik dan Advokasi Masyarakat (Denpom) For You Indonesia, Widihasto Wasana Putra, mengatakan setelah gerakan itu dicanangkan, lagu Indonesia Raya akan berkumandang di ruang-ruang publik seperti instansi pemerintah, instansi swasta, lembaga pendidikan, hingga pusat perbelanjaan setiap pagi.

Widihasto juga mengaku telah berkomunikasi dengan sejumlah rektor perguruan tinggi, asosiasi perhotelan, serta sejumlah pengelola pusat perdagangan.

"Kami terus menjalin komunikasi dengan banyak pihak termasuk menguatkan kota lain di Indonesia melakukan hal serupa," ujarnya.

Baca juga Jadah Tempe, Camilan Favorit Sri Sultan Hamengkubuwana IX

Embrio Kebangkitan Nasional dari Yogyakarta

Berbicara tentang Kebangkitan Nasional, tidak mungkin lepas dari peran Budi Utomo. Sementara itu gerakan Budi Utomo tentu tidak mungkin terlepas dari sosok inisiatornya, yaitu Wahidin Sudirohusodo.

Nama Dokter Wahidin Sudirohusodo tidak bisa dilepaskan sebagai perjuang kemerdekaan Republik Indonesia. Dokter kelahiran kelahiran Desa Mlati, Yogyakarta, ini memegang peranan penting dalam sejarah bangsa.

Ia bukan dokter yang hidup untuk memperkaya diri. Wahidin peduli pada orang-orang yang disebut bumiputra atau oleh orang-orang Belanda sering disebut sebagai Inlander.

Wahidin ingin para bumiputra terdidik dan bisa maju dengan jalur sekolah. Usaha itu setidaknya sudah dilakukan Wahidin sejak 1906 dengan berkeliling Pulau Jawa menggalang dana pendidikan.

“Wahidin Sudirohusodo terlebih dahulu telah mengambil inisiatif untuk membantu anak-anak pribumi guna memperoleh pendidikan yang lebih baik,” tulis Anhar Gonggong dalam Muhammad Husni Thmarin (1985:15), yang dikutip dari Tirto.

Dr Wahidin memang melihat salah satu cara untuk melepaskan rakyat dari penderitaan adalah melalui pendidikan. Dr Wahidin ingin agar rakyat diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengenyam pendidikan di sekolah.

Agar dapat membuat sekolah, cara yang ditempuh Wahidin adalah dengan menghadap para bupati yang pada kenyataannya susah diharapkan. Namun, Wahidin terus mempropagandakan ide-idenya khususnya soal pendidikan bagi bumiputra.

Baca juga Alasan Sri Sultan Hamengkubuwono Menjadi PNS Pertama di Indonesia

Barulah saat bertemu pelajar Di STOVIA gagasan Dr Wahidin diterima dengan tangan terbuka. Dia lalu menganjurkan para pelajar STOVIA agar mendirikan organisasi yang bertujuan untuk memajukan pendidikan bagi rakyat Indonesia.

Gagasan Dr Wahidin inilah yang mendorong terciptanya Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908. Budi Utomo adalah organisasi modern pertama yang lahir di Indonesia. Walau bukan pendirinya, Dr Wahidin Sudirohusodo selalu dikaitkan dengan berdirinya Budi Utomo.

Soetomo tidak akan lupa pertemuannya dengan Wahidin, saat ia masih kuliah di Sekolah Dokter Jawa alias School tot Opleiding voor Indisch Artsen (STOVIA) di Kwitang, Jakarta, pada 1907.

“Penghabisan tahun 1907, datanglah dokter Wahidin Sudirohusodo Almarhum ke Jakarta untuk mengaso dari perjalanannya kemana-mana guna mendirikan studiefond, agar anak-anak (Indonesia yang cerdas) bisa meneruskan pelajarannya,” kata Soetomo pada 1934, yang diabadikan dalam buku Kenang-kenangan Dokter Soetomo (1984:165-167) yang disunting Paul van der Veur, menukil Tirto.

Sejarah mencatat Wahidin sebagai penggagasnya. Setelah Boedi Oetomo berdiri di Jakarta pada 20 Mei 1908, di Yogyakarta Boedi Oetomo cabang Yogyakarta berdiri setelah sembilan hari kemudian, dan Wahidin jadi ketuanya.

Inilah organisasi modern pertama yang lahir di Indonesia. Karena itu, tanggal lahir Budi Utomo, 20 Mei, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Wahidin Sudirohusodo sendiri wafat pada tanggal 26 Mei 1917. Jasadnya kemudian dimakamkan di desa Mlati, Yogyakarta.

Baca juga Fakta-fakta Sri Sultan Hamengku Buwono IX, sang Raja Jogja

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini