Legenda 99 Kera Santri Penjaga Petilasan Sunan Kalijaga di Cirebon

Legenda 99 Kera Santri Penjaga Petilasan Sunan Kalijaga di Cirebon
info gambar utama

Kawasan Cirebon, Jawa Barat telah terkenal sebagai destinasi religi bagi masyarakat Islam Indonesia. Sejumlah situs bersejarah cukup banyak ditemukan di daerah Pantura Jawa Barat ini.

Salah satunya adalah Situs Taman Kera Kalijaga di Jalan Pramuka Rt 08 Rw 03 Kelurahan Kalijaga Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon. Dari informasi yang didapat, petilasan Kalijaga ditemukan sekitar abad ke 7 Masehi.

Taman Kera Kalijaga ini merupakan salah satu peninggalan Sunan Kalijaga (Raden Mas Said). Di Tempat ini, pengunjung dapat melihat monyet ekor panjang secara langsung.

Banyak mitos beredar seputar keberadaan kera-kera yang mendiami petilasan tersebut. Konon, kera-kera di komplek jejak petilasan Sunan Kalijaga itu dulunya manusia yang dikutuk menjadi seekor kera.

Diriwayatkan dari cerita turun menurun, monyet-monyet yang mendiami hutan situs seluas 1.200 meter persegi itu jelmaan dari para santri pengikut Sunan Kalijaga.

Baca juga Mantra Perlindungan Diri Karya Kanjeng Sunan Kalijaga

Bambang Mas Adiningrat, Kuncen Situs Kramat Sunan Kalijaga, mengisahkan, dahulu kala, Sunan Kalijaga banyak menghabiskan waktu berdakwah di daerah Kalijaga, Cirebon. Sekarang, nama tempat itu berada di Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.

Sembari berdakwah, Sunan Kalijaga pun berguru kepada Sunan Gunungjati. Ketekunan dan kesabaran menyebarkan ilmu dan syiar Islam kepada masyarakat, membuatnya semakin banyak murid dan pengikut.

Tapi tidak semua santri atau pengikut Sunan Kalijaga penurut. Suatu ketika di hari Jumat, Sunan Kalijaga pernah mengingatkan para santrinya untuk segera bersiap menunaikan salat Jumat.

Tidak mengindahkan panggilan gurunya, santri-santri terus asik bermain dan mencari ikan di sungai. Hingga waktu Salat Jumat selesai, santri-santri itu masih bermain.

“Murid-muridnya tak mau mendengar perintah Sunan Kalijaga untuk melaksanakan Salat Jumat. Di dalam hati Sunan, orang yang tidak salat Jumat bagaikan seekor kera. Seketika murid-muridnya itu berbulu seperti monyet,” kisahnya yang dikutip dari Jawapos.

Sementara itu, salah satu Kuncen Keramat Sunan Kalijaga, Raden Edi membantah bahwa para santri itu dikutuk. Namun suara hati dari salah satu wali itu didenger oleh sang pencipta

"Jadi bukan dikutuk oleh Kanjeng Sunan, beliau tidak pernah mengucapkan mengutuk santri tersebut. Namun, mungkin rupanya suara hati Kanjeng Sunan didengar dan langsung dikabulkan oleh Allah SWT," jelasnya.

Sunan Kalijaga, lanjut Raden Edi, tidak bisa mengutuk karena beliau adalah manusia bisa, sama seperti yang lainnya.

"Yang bisa mengutuk hanya Allah SWT, segala sesuatu yang terjadi semata-mata atas seijin NYA," tegasnya.

99 kera penjaga petilasan

Kawasan hutan ini tidak hanya menyimpan sejarah dan nilai religinya. Di kawasan yang tak jauh dari perumahan elit tersebut juga terdapat puluhan kera jenis ekor panjang, keberadaan puluhan kera justru menjadi daya tarik.

Setiap hari, puluhan kera mendapat makan dari para pengunjung. Kera-kera itu silih berganti memperebutkan makanan dari pengunjung.

Puluhan kera ekor panjang yang ada di sekitar petilasan Kalijaga ini dianggap sebagai santri sang wali. Yang menarik, jumlah kera tersebut tidak pernah berubah yakni 99 ekor.

Sunan Kalijaga akhirnya menugaskan kera tersebut untuk menjaga situs. Hal yang menarik adalah 99 kera tersebut jumlahnya tidak berubah.

Jika ada kera yang meninggal, selalu ada kera yang melahirkan sehingga tidak menambah maupun mengurangi jumlah kera. Kera tersebut hingga saat ini dianggap liar dan menjadi daya tarik pengunjung ke Situs Kalijaga.

“Liar saja mencari makan di pemukiman kadang genting rumah warga dibuka hanya untuk mencari makan saja,” sebut Juru kunci Situs Taman Kera Kalijaga Cirebon RM Mashudi.

Disebutkan para kera ini terdiri dari dua kelompok kawanan di sebelah utara dan selatan. Uniknya kera-kera tersebut seakan-akan mengerti akan batas wilayah mereka.

Kera-kera dari kelompok selatan tidak mau membaur dengan kera-kera dari kelompok utara dan begitu pula sebaliknya. Pada waktu-waktu tertentu, mereka pun terlibat dalam tawuran.

Baca juga Damar Malam, Tradisi Selikuran Masyarakat Islam Cirebon

Mereka berteriak-teriak seakan-akan saling mengejek lalu baku hantam dan baku gigitpun terjadi. Tidak jarang perkelahian antar kelompok ini dapat menimbulkan kematian yang tragis.

Situs Taman Kera dan Petilasan Sunan Kalijaga di Cirebon ini diperkirakan sudah ada mulai abad ke-17. Masyarakat setempat mempercayai bahwa situs ini merupakan petilasan Sunan Kalijaga ketika sang Sunan melaksanakan kegiatan penyebaran agama Islam di daerah Cirebon.

Hingga saat ini belum ada yang berani mencuri atau membawa kera-kera di hutan petilasan Sunan Kalijaga ini karena masyarakat percaya akan mendapat kualat atau mendapat sial.

Hutan Kalijaga merupakan satu-satunya wilayah konservasi hutan yang masih tersisa di Cirebon. Lokasi Situs Kramat Sunan Kalijaga cukup strategis, dari terminal Harjamukti Cirebon dan bandara. Jaraknya hanya sekira 700 meter dari terminal.

“Kalau di bulan Mulud, biasanya banyak dari luar kota untuk berziarah di Situs Kramat Petilasan Sunan Kalijaga. Mereka berdoa dan mau tahu sejarah Sunan Kalijaga di Cirebon, karena beliau itu menantu Sunan Gunungjati,” tuturnya.

Jejak Sunan Kalijaga di Cirebon

Cirebon menjadi salah satu daerah dari sekian daerah yang disinggahi Sunan Kalijaga saat menyebarkan agama Islam. Menurut buku sejarah atau babad yang ada pada dirinya, Sunan Kalijaga sebelumnya menyebarkan agama Islam di Demak terlebih dahulu sebelum datang ke Cirebon.

"Beliau lama berdakwah di Cirebon. Puluhan tahun beliau berdakwah. Dalam babad yang saya pegang itu, sekitar 120 petilasan Sunan Kalijaga berada di sejumlah daerah," kata Raden Edi yang dikutip dari Detik.

Edi mengatakan situs tersebut sudah ada sekitar abad 17-an. Petilasan Sunan Kalijaga, sambung Edi, merupakan tempat tinggal dan persitirahatan Sunan Kalijaga saat berdakwah di Cirebon. Petilasan itu berisi tempat tidur lengkap dengan kelambu.

"Tapi, mohon maaf, petilasannya tidak bisa kita buka untuk umum. Banyak peziarah yang datang dari berbagai daerah. Bisa lebih dari lima bus kalau hari libur," katanya.

Selain itu, dalam situs yang didirikan oleh Sunan Kalijaga tersebut, terdapat masjid, dua buah sumur tua, tempat pesarean serta tempat Sunan Kalijaga bertapa. Ada juga peziarah yang meyakini kawasan Situs Kalijaga Cirebon merupakan makam Sunan Kalijaga itu sendiri.

Pihak pengelola situs tak pernah menarik target pembayaran kepada para pengunjung atau peziarah. Kotak amal bertuliskan seikhlasnya disediakan pengelola situs saat masuk di petilasan.

Baca juga Dibalik Nama ‘Mega Mendung’ Batik Kebanggaan Kota Cirebon

"Yang masih asli di petilasan ini pintu-pintunya. Kalau lainnya sudah kita renovasi, sempat ambruk dulu," ucapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (DKOKP) Agus Suherman menyebutkan akan ada revitalisasi terhadap situs ini. Menurutnya dengan kondisi saat ini saja, situs Taman Kera Kalijaga sudah banyak mendatangkan wisatawan.

"Apalagi kalau ditata lebih cantik, menarik dan dilengkapi fasiitas penunjang untuk membuat wisatawan lebih nyaman," katanya yang dikutip dari Pikiranrakyat.

Dikatakannya, revitalisasi situs Taman Kera Kalijaga rencananya berupa pemugaran lahan parkir, pemagaran kawasan hutan, pembangunan pedestrian yang melintas di dalam hutan, serta penambahan bangku dan toilet yang sesuai standar.

Di dalam area situs itu juga akan dipercantik dengan adanya taman untuk mengakomodir pengunjung yang ingin berswafoto.

"Nantinya akan ada banyak yang akan ditata," katanya.

Menurutnya, anggaran yang dialokasikan untuk revitalisasi sebesar Rp1,5 miliar pada 2020 lalu. Sehingga pada 2021 ini diharapkan sudah bisa dinikmati pengunjung.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini