Sejarah Kejayaan Garuda Indonesia yang Pernah Kuasai Langit Asia

Sejarah Kejayaan Garuda Indonesia yang Pernah Kuasai Langit Asia
info gambar utama

PT Garuda Indonesia menawarkan program pensiun dini kepada karyawannya. Kondisi ini terjadi akibat dampak darurat kesehatan yang menekan bisnis penerbangan di dunia.

Perusahaan dirgantara milik Indonesia ini memang tidak lepas dari krisis tersebut. Menurut Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra menyatakan, kebijakan ini adalah langkah realistis di tengah situasi pandemi Covid-19.

"Ini adalah langkah berat yang harus ditempuh perusahaan. Namun opsi ini harus kami ambil untuk bertahan di tengah ketidakpastian situasi pemulihan kinerja industri penerbangan yang belum menunjukkan titik terang di masa pandemi Covid-19," ungkap dia dalam pernyataan resmi perusahaan, Jumat (21/5/2021) lalu.

Nantinya mereka akan memangkas jumlah armada pesawat dari sekitar 142 pesawat menjadi 70 pesawat. Saat ini, Garuda hanya mengoperasikan sekitar 41 pesawat akibat pandemi.

Sementara itu tercatat BUMN penerbangan ini memiliki 15.368 karyawan. Jumlahnya tak sepadan dengan volume penerbangan yang justru anjlok hingga 66 persen sejak 2020 lalu.

Ternyata selain masalah pandemi, Garuda Indonesia juga dikabarkan mempunyai utang sekitar Rp70 triliun atau setara 4,9 miliar dollar AS. Angka tersebut meningkat sekitar Rp 1 triliun setiap bulan karena terus menunda pembayaran kepada pemasok.

Perusahaan memiliki arus kas negatif dan utang minus Rp 41 triliun. Kondisi ini bisa membuat bisnis perusahaan berhenti di tengah jalan bila langkah restrukturisasi gagal.

Kondisi ini tentu ironis karena perusahaan dirgantara ini pernah mengharumkan nama Indonesia. Bahkan Garuda Indonesia menjadi penguasa langit asia yang namanya cukup dipertimbangkan.

Baca juga Garuda Indonesia Puncaki Klasemen Punctuality League 2020

Garuda Indonesia penguasa langit Asia

Garuda Indonesia Airways (GIA) merupakan hasil kerjasama dari Koninklijke NederIandsch Indische Luchtvaart Maatschappij atau KNILM yang terbentuk pada November tahun 1928. KNILM pasca RIS mendapatkan kedaulatan menjadi kekayaan Belanda yang diakuisisi pemerintah.

Perjalanan GIA yang pertama adalah untuk mengantar Presiden Soekarno menuju Jakarta pada akhir tahun 1949 menggunakan pesawat Douglas Dakota dengan registrasi PK-DPD. Setelah itu, barulah GIA secara resmi dinobatkan sebagai perusahaan milik negara di tanggal 31 Maret 1950 sesuai Berita Negara RIS No. 136.

Hingga tahun 1953, Garuda Indonesia memiliki 27 pesawat dan juga staf yang profesional. Perkembangan Garuda Indonesia semakin pesat sampai mampu mendatangkan 3 pesawat turboprop dan membuka rute penerbangan menuju Hongkong di tahun 1960-an.

Dalam kurun waktu beberapa tahun selanjutnya, Garuda kembali membawa 3 pesawat jenis Convair 990A, pesawat yang dikenal mempunyai kecepatan tinggi dan teknologi canggih.

Bersamaan dengan didatangkannya pesawat baru tersebut pula Garuda Indonesia melebarkan rute komersialnya hingga ke Amsterdam melalui Kolombo, Roma, Bombay, dan Praha.

Setelah itu, Garuda Indonesia terus berusaha mengembangkan armadanya di Indonesia dengan membeli pesawat dengan jenis dan model baru, serta meningkatkan layanannya ke lebih banyak negara, seperti Amerika dan Eropa.

Status penguasa langit asia bagi pesawat Garuda Indonesia bukan isapan jempol belaka. Mengutip Kompas, masa kejayaan Garuda terjadi pada tahun 1980an.

Armada Garuda Indonesia Airways waktu itu mencapai 79 pesawat, menjadikan Garuda sebagai maskapai penerbangan terbesar di belahan bumi selatan dan kedua di Asia setelah Japan Air Lines.

Direktur Utama Garuda, Wiweko Soepono yang menjabat tahun 1968-1984 menjadi tokoh penting dalam kemajuaan ini. Memang butuh bertahun-tahun untuk membangun reputasi tersebut.

Salah satu yang masih dikenang tentu pengoperasian McDonnell Douglas DC-10 sebagai pesawat kenegaraan. Ini adalah salah satu kebanggan Garuda saat itu.

Pasalnya tidak banyak maskapai yang mengoperasikan jenis pesawat jumbo ini. Sementara DC-10 milik Garuda sudah menghiasi angkasa hingga ke Eropa dan Penjuru Asia. Berkat armada DC-10 saat itu pula Garuda Indonesia menjadi salah maskapai yang disegani dunia.

Baca juga Selamat Datang, A330-900NEO Garuda Indonesia!

Konflik akut hingga hampir bangkrut

Masa kejayaan Garuda dianggap mulai selesai setelah Wiweko yang berhasil mengisolasikan Garuda dari unsur KKN, malah dicopot oleh Presiden Soeharto pada November 1984.

Kepada penggantinya, ia meninggalkan surplus tunai sebesar 108 juta dollar AS plus dana taktis sekitar 4 juta dollar AS, namun uang itu lenyap.

Setelahnya selalu terjadi perselisihan antara manajemen Garuda Indonesia dengan pilot dan serikat pekerjanya. Dimulai dari tahun 1980 dimana mogok kerja pilot pertama kali terjadi.

Kemudian, berlanjut di 2003 dengan adanya mogok awak kabin, menuntut perbaikan gaji. Aksi mogok dilakukan dengan cara menunda jadwal keberangkatan pesawat selama satu jam pada 26 Januari sampai 1 Februari 2003.

Setelahnya mogok terbang oleh pilot Garuda dilakukan pada 2011 karena masalah gaji kembali. Dan terakhir pada 2018 lalu tercatat terjadi pemogokan disertai konferensi pers oleh awak kabin.

Hal ini berdampak pada penurunan average harga jual tiket penumpang dari 6,90 sen dolar AS pada 2016 menjadi sebesar 6,70 sen dolar AS di 2017.

Juga saham Garuda Indonesia dengan kode GIAA yang terus merosot dari harga IPO sebesar Rp750 per lembar saham pada 2011, menjadi Rp 292 per lembar saham pada April 2018.

"Citra buruk perselisihan kerja tersebut sangat merugikan Garuda dalam jangka panjang, sehingga akhirnya baik pilot dan karayawan harus merasakan juga dampak-nya terhadap masa depan mereka sendiri di Garuda," kata politikus Hanura Inas Nasrullah Zubir yang dikutip dari Tribunnews.

Baca juga 3 Tahun Beruntun, Garuda Indonesia Jadi Merek Nasional Terbaik

Seperti diberitakan harian Kompas, 26 Januari 1999, Garuda Indonesia pun pernah hampir bangkrut karena terkena badai krisis moneter. Apalagi saat itu perusahaan terlilit beban utang yang terlampau berat.

Utang yang menggunung ini diperparah dengan kinerja keuangan yang buruk dan banyaknya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Ibaratnya, untuk bernapas pun sulit.

Hingga Agustus 1998, utang Garuda tercatat masih Rp828 miliar ditambah 377 juta dollar AS kepada 50 bank pemerintah dan asing. Bila kurs dollar Rp10.000, berarti total utangnya sekitar Rp4,6 triliun.

Garuda Indonesia yang pernah merugi lebih dari 800 milyar rupiah pada tahun 2004, akhirnya kembali bangkit dengan membukukan keuntungan lebih dari 1 triliun rupiah pada tahun 2009.

Jumlah armada yang tadinya hanya 47 pesawat saat itu sudah mencapai lebih dari 90. Jumlah penerbangan yang tadinya hanya 150-200 penerbangan per hari meningkat menjadi 311 penerbangan per hari.

Semua perbaikan tersebut berbuah sangat manis. Garuda Indonesia mendapatkan penghargaan "The World's Most Improved Airlines" pada tahun 2010 dari SkyTrax dan "maskapai bintang empat" dari SkyTrax London.

Tidak hanya itu, Garuda Indonesia juga dianugerahkan "Airlines Turnaround of The Year" oleh Centre for Asia Pacific Aviation atas keberhasilannya bangkit dari keterpurukan.

Tentunya dengan pengalaman Garuda Indonesia bangkit dari masa-masa sulit. Diharapkan menjadi harapan bahwa maskapai andalan Indonesia ini kembali berjaya di langit dunia.

Baca juga Garuda Indonesia Raih "Emas" di Ajang ASEAN Marketing Summit 2019

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini