Nyangku Panjalu, Tak Sekadar Tradisi Adat Tapi juga Aset Budaya

Nyangku Panjalu, Tak Sekadar Tradisi Adat Tapi juga Aset Budaya
info gambar utama

Indonesia memiliki beragam budaya yang tersebar di berbagai daerah. Salah satunya nyangku panjalu, upacara adat yang dilaksanakan di Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat.

Upacara nyangku adalah rangkaian prosesi adat penyucian benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora, Prabu Sanghyang Borosngora dipercaya sebagai penyebar agama Islam pertama di wilayah Panjalu. Upacara adat ini biasa dilakukan setiap bulan Maulid.

Menurut sesepuh panjalu, yaitu Atong Tjakradinata, nyangku berasal dari bahasa Arab, yaitu yanko yang berarti membersihkan. Yang dibersihkan pada nyangku ialah pusaka Prabu Borosngora. Selain membersihkan benda-benda pusaka, ini juga bermakna bahwa orang Panjalu harus membersihkan pula jiwanya, seperti dilansir dari Kompas.

Upacara ini dilakukan dengan cara mengeluarkan benda-benda pusaka yang disimpan di Bumi Alit, sebuah tempat penyimpanan khusus. Ada banyak sekali benda pusaka di sana, salah satunya pedang pemberian Sayyidina Ali, sahabat Nabi Muhammad. Pedang itu diberikan saat Prabu Borosngora pergi ke Makkah. Namun, selain itu terdapat juga benda pusaka seperti keris-keris.

Baca jugaDamar Malam, Tradisi Selikuran Masyarakat Cirebon

Gerbang alun-alun borosngora
info gambar

Proses upacara Nyangku

Upacara ini dimulai dengan mengeluarkan benda-benda pusaka di Bumi Alit, kemudian pusaka tersebut dibungkus kain dan digendong layaknya seorang bayi. Lalu, rombongan para pembawa benda pusaka ini berjalan beriringan menuju Nusa Gede, yakni sebuah pulau kecil yang mengambang di tengah Situ Panjalu untuk melakukan ziarah ke makam leluhur Panjalu di pulau tersebut.

Yang diperbolehan membawa benda-benda pusaka ini hanyalah kaum pria keturunan Prabu Borosngora, dan mereka juga yang bisa masuk ke bangunan di Nusa Gede. Biasanya, para rombongan pembawa benda pusaka menggunakan perahu yang sudah disiapkan di setiap sisi Situ Lengkong Panjalu. Selain membawa benda pusaka tadi untuk berziarah ke makam, di sana juga mengambil air untuk proses mencuci benda-benda pusaka tersebut.

Baca jugaMelihat Benteng Peninggalan Kolonial Belanda di Indonesia

Selain Situ Panjalu, masih ada juga sumber mata air lain yang biasanya digunakan saat nyangku, yakni Cipanjalu, Pasanggrahan, Karantenan, Kapunduhan, Kubangkekong, Kulah Bongbang Kancana.

Setelah proses ziarah dan pengambilan air dari mata air, para rombongan bergegas menuju alun-alun panjalu untuk melakukan penjamasan dengan mencuci benda-benda pusaka tadi. Para rombongan berjalan dari Situ Lengkong Panjalu tadi, dan mereka telah disambut oleh orang-orang yang menyiapkan sebuah panggung yang terbuat dari bambu .

Kemudian, benda-benda pusaka tersebut dicuci di atas panggung bambu itu. Setelah beres dicuci, benda-benda itu dikeringkan dengan cara di asapi. Asap itu menerbarkan aroma yang wangi, kemudian setelah selesai dikeringkan benda pusaka tersebut diganti kain pembungkusnya.

Biasanya orang-orang sangat ramai untuk menyaksikan proses mencuci itu dari dekat sehingga sangat berdesakkan, dan ada juga sebagian orang yang mengambil air dari cucian benda pusaka tersebut yang katanya mempunyai manfaat. Namun, itu kembali pada diri kita sendiri. Selanjutnya, setelah selesai proses pencucian dan membungkus kembali benda pusaka itu, benda-benda pusaka tersebut dikembalikan ke tempat awalnya di Bumi Alit.

Baca JugaGunongan Aceh, Bermakna Tanda Cinta di Pusat Kota

Momen sambung silaturahmi

Selain menjadi upacara rutin tahunan mencuci benda-benda pusaka, kegiatan nyangku ini juga menjadi momentum menyambung kembali tali kekeluargaan khususnya masyarakat panjalu. Karena dengan adanya kegiatan ini, para masyarakat panjalu yang sedang diluar kota pulang untuk melihat upacara ini sehingga bisa bertemu dengan sesama masyarakat lain.

Namun, semenjak adanya COVID-19, kegiatan Nyangku inipun tidak seramai sebelum-sebelumnya, dan hanya melaksanakan nyangku oleh orang-orang tertentu saja supaya tidak mengundang perkumpulan banyak orang.

Walaupun begitu, masyarakat di sana tetap melaksanakannya dengan protokol kesehatan yang ada dan turut melestarikan budaya yang sudah menjadi tradisi. Dengan tetap melestarikan budaya, tentu juga menjadikan diri kita untuk terus melindungi budaya Indonesia yang aset negara.*

Referensi: Merdeka.com | Kompas.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FE
KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini