Menyambangi Keanekaragaman Hayati Tanpa Batas di Garis Terluar Indonesia

Menyambangi Keanekaragaman Hayati Tanpa Batas di Garis Terluar Indonesia
info gambar utama

Pada 22 Mei lalu diperingati sebagai Hari Keanekaragaman Hayati Internasional. Seperti yang Kawan ketahui, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang beragam, seperti banyaknya spesies tumbuhan dan hewan. Untuk merayakan hari tersebut, yuk, kita jalan-jalan ke benteng terluar Pulau Kalimantan!

Kalimantan merupakan pulau terbesar kedua di Indonesia sekaligus menduduki posisi pulau terbesar ketiga di dunia. Kalimantan pernah dijuluki sebagai paru-paru dunia karena memiliki ekosistem lestari, dengan hutan yang asri dan keanekaragaman yang terjaga.

Ada banyak sekali jenis hewan maupun tumbuhan yang hanya ditemukan di Pulau Kalimantan. Contohnya Bekantan, Ikan Pesut, Pohon Ulin, dan Anggrek Hitam. Selain itu, Kalimantan juga memiliki jenis tumbuhan endemik yang dipercaya dapat menyembuhkan kanker, lho! yakni Bajakah.

Nah, tingkat keanekaragaman hayati ini harus dijaga. Salah satu upaya pelestariannya adalah dengan membentuk kawasan konservasi. Ada banyak sekali jenis kawasan konservasi. Mulai dari cagar alam, taman hutan raya, taman wisata alam, dan taman nasional. Kali ini, kita akan berkunjung ke kawasan benteng pertahanan terluar Pulau Kalimantan, yaitu Taman Nasional Kayan Mentarang.

Baca jugaNyangku Panjalu, Bukan Sekadar Tradisi Adat Tapi juga Aset Budaya

Berada di Kalimantan Utara

Taman Nasional Kayan Mentarang | Foto: Nusapedia.com
info gambar

Di Indonesia sendiri, setidaknya terdapat 51 taman nasional yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Kalimantan memiliki delapan taman nasional yang berdiri, termasuk Taman Nasional Kayan Mentarang sebagai taman nasional terbesar dengan luas mencapai 1.2 juta hektare.

Taman Nasional Kayan Mentarang merupakan salah suatu taman nasional yang berdiri di provinsi Kalimantan Utara. Letak taman nasional ini berbatasan langsung dengan Malaysia di sebelah utara dan menguasai dua kabupaten, yaitu Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan.

Dilansir dari Kayan Mentarang National Park, dulunya Taman Nasional Kayan Mentarang merupakan cagar alam yang kemudian diubah menjadi taman nasional pada 7 Oktober 1996. Hal ini didasari oleh Taman Nasional Kayan Mentarang yang memiliki tingkat keanekaragaman tinggi, dan di beberapa daerah masih bermukim masyarakat tradisional yang harus diberi perhatian.

Taman Nasional Kayan Mentarang adalah taman nasional pertama di Indonesia yang dikelola secara kolaboratif. Itu artinya, taman nasional ini dikelola dengan melibatkan pemerintah, pihak swasta, organisasi konservasi, dan masyarakat adat setempat.

Baca juga Selain Candi, Ini Rekomendasi Tempat Menarik di Magelang

Kawasan taman ini terbentang pada pegunungan Belayan-Kaba dengan ketinggian sekitar 300 hingga 200 mdpl. Di tengah taman nasional, berdiri Gunung Siho yang memiliki tinggi mencapai lebih dari 2000 mdpl. Selain itu, terdapat Gunung Makita yang terletak di selatan dekat batas terluar dengan ketinggian mencapai 2.987 mdpl, dan menjadi gunung tertinggi kedua di Borneo.

Lereng gunung di Taman Nasional Kayan Mentarang memiliki kemiringan lebih dari 40 persen dan diperkirakan 86 persen wilayahnya terdiri dari timbunan karang atau batu meramorfis, sedangkan yang lainnya adalah materi gunung berapi dengan timbunan batuan gamping.

Menurut Departemen Kehutanan dalam buku yang berjudul ''Rencana Pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang 2001-2025'', hutan yang memenuhi Taman Nasional Kayan Mentarang didominasi oleh suku Moraceae atau nangka-nangkaan dan Dipterocarpaceae, atau yang lebih dikenal sebagai pohon penghasil kayu.

Peran pohon-pohon ini adalah sebagai rumah dan penyedia makanan bagi satwa, serta dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai pemenuhan kebutuhan rumah tangga.

Macam tumbuhan dan satwa di Taman Nasional Kayan Mentarang

Sejumlah tumbuhan khas juga tumbuh di wilayah hutan Kayan Mentarang. Antara lain Anggrek Hitam, Kantung Semar, Rafflesia, Rotan, dan Meranti. Selain itu, terdapat pula Gaharu dan Bajakah yang memiliki kayu beraroma khas yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional.

Beberapa jenis satwa yang ditemui pada Taman Nasional Kayan Mentarang, seperti Kijang, Banteng, Babi Hutan, Owa, Lutung Bangat dan ratusan jenis burung. Tercatat setidaknya terdapat lebih dari 337 jenis burung yang telah teridentifikasi. Burung-burung unik yang dapat ditemui di antaranya Ayam Hutan, Enggang Jambul Hitam, Enggang Gading, dan jenis Enggang lainnya.

Rangkok Badak | Sumber: www.kayanmentarangnationalpark.com
info gambar

Bicara soal Lutung Bangat, hewan ini merupakan hewan endemik Pulau Kalimantan Utara. Bahkan, diilustrasikan sebagai logo Taman Nasional Kayan Mentarang. Namun, sekitar tahun 2000-an, terjadi penurunan populasi hingga mencapai 50-80 persen.

Hal ini disebabkan akibat perburuan liar yang terjadi karena keberadaan bezoar stone di dalam perut Lutung Bangat, yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Langkah yang dilakukan untuk mencegah ancaman penurunan populasi ini adalah dengan pengelolaan kolaboratif antara masyarakat dan tenaga pengaman hutan, yang tersebar di sepanjang wilayah Taman Nasional Kayan mentarang.

Wah, semoga Lutung Bangat bisa berumur panjang, ya!

Baca jugaKeindahan Pantai Srakung yang Diapit Dua Tebing di Gunungkidul

Karena kawasannya yang sangat luas, pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang dibagi menjadi tiga wilayah pengelolaan, yaitu Seksi Wilayah Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I, SPTN II, dan SPTN III. Dari tiga wilayah ini setidaknya ada 20 daya tarik wisata alam dan 10 daya tarik wisata budaya di Taman Nasional Kayan Mentarang.

Salah satu yang terkenal dari SPTN wilayah II tepatnya di Desa Apau Ping adalah Padang Rumput Long Tua. Di sana, Kawan bisa melihat kehadiran banteng yang hampir punah, langsung di habitat aslinya. Selain itu, di Padang Rumput Long Tua juga dijumpai kijang, rusa, bekantan, hingga burung enggang.

Wah, banyak sekali, ya, keanekaragaman hayati yang memenuhi Taman Nasional Kayan Mentarang. Ini adalah gambaran kecil dari kawasan konservasi terluas yang terletak di jantung Borneo, sebagai benteng lestari pertahanan Indonesia yang harus dijaga.

Pengelolaan secara kolaboratif ternyata cukup efektif dalam upaya pelestarian kekayaan alam yang ada di Taman Nasional Kayan mentarang. Semoga kawasan ini tetap lestari dan tetap menjadi jantung Borneo untuk selamanya.

Setelah pandemi berakhir, jangan lupa berkunjung kemari, ya, Kawan!

Referensi:Buku Rencana Pengelolaan Taman Nasional Kayan mentarang 2001-2025 | Buku Studi Penyusunan Rencana Operasional Pengembangan 3A di KSPN Kayan Mentarang dan Sekitarnya, Provinsi Kalimantan Utara | www.kayanmentarangnationalpark.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NW
KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini