Serangga Tonggeret dan Nyanyian Orkestrasi Penanda Peralihan Musim

Serangga Tonggeret dan Nyanyian Orkestrasi Penanda Peralihan Musim
info gambar utama

Selama dua bulan terakhir warga Amerika Serikat dihebohkan dengan munculnya fenomena kemunculan serangga jenis tonggeret atau di sana disebut Cicada. Fenomena kemunculannya sangat istimewa karena jenis ini termasuk tonggeret periodik yang muncul hanya setiap 17 tahun sekali.

Kemunculan tonggeret biasanya dimulai sekitar pertengahan Mei dan berlangsung hingga akhir Juni. Sebagian orang menganggap invasi serangga sebagai gangguan, sementara yang lain menyambutnya sebagai keajaiban alam.

Suaranya yang khas menjadi salah satu tanda serangga ini muncul dari tempat persembunyian di bawah tanah. Lima belas negara bagian di AS akan gaduh mendengar paduan suara tonggeret ini yakni di Delaware, Georgia, Illinois, Indiana, Kentucky, Maryland, Michigan, North Carolina, New Jersey, New York, Ohio, Pennsylvania, Tennessee, Virginia, dan Virginia Barat , serta di Washington, DC.

Fenomena yang muncul di AS terutama wilayah timur adalah jenis tonggeret periodik yang kemunculan terakhirnya tahun 2004 dalam jumlah masif. Para ahli serangga di AS menyebut tonggeret yang akan muncul tahun ini sebagai Brood X, yang keluar tiap 17 tahun sekali.

Baca juga 3500 Hz dari Kota Tertua di Indonesia

Dilansir dari Kompas, di tahun 2022 dan 2023 tidak akan muncul fenomena Brood ini. Baru di tahun 2024 para ahli memperkirakan akan muncul 2 jenis sekaligus yaitu Brood XIII yang periodenya 17 tahun sekali dan Brood XIX yang periodenya 13 tahun sekali.

Setelah dewasa, Brood X akan menjelma menjadi serangga bersayap yang panjangnya sekitar 3cm dengan mata menonjol, badan gelap, dan sayap tembus pandang.

Tapi mereka hanya berumur selama dua hingga empat pekan, meski ini merupakan salah satu masa hidup terlama dari serangga mana pun di dunia.

"Menjelang Tahun Baru, mereka akan berada 20 - 30cm di bawah tanah dan bertahan selama 17 tahun ke depan dengan menghisap akar pohon." Ucap Dr Gene Kritsky, dari Universitas Mount St Joseph di AS yang dilansir dari BBC.

Poin penting untuk diperhatikan: selama ini, tonggeret tidak melakukan hibernasi, mereka hanya tumbuh sangat lambat. Mereka belum cukup dewasa untuk berkembang biak, jadi mereka bersembunyi dan tumbuh - selama lebih dari satu dekade.

Tonggeret dan kisah unik mereka di dunia

Bersumber dari penelitian Arunika Anggradewi (2008), di Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor menyebutkan lebih dari kurang 2500 spesies tonggeret di seluruh dunia. Sebagian besar serangga ini hidup di daerah tropis dan subtropis.

Di Indonesia, jumlah spesies tonggeret mencapai 235 jenis. Spesies ini dapat kita temui di beberapa pulau di Indonesia meliputi, Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, dengan ketinggian 200-1400 mdpl.

Banyak nama untuk tonggeret. Di Jepang disebut semi, di Perancis disebut cigale, di Spanyol disebut cigarre, sedangkan di Indonesia sendiri juga beragam namanya, masyarakat Sunda menyebut cengreret dan orang Jawa mengenalnya sebagai garengpung.

Di sejumlah daerah di kawasan timur Indonesia masyarakat ada yang mengenal sebagai sikada, yang kemungkinan pelafalan dari nama latinnya sebagai binatang famili cicadedae (keluarga jangkrik) dari ordo hemiptera.

Tonggeret, serangga bermata merah, dengan bentuk sekilas mirip lalat tetapi lebih besar, ukurannya bisa seujung jari tangan hingga sebesar jempol kaki orang dewasa. Sayapnya kokoh dan tembus pandang, sehingga semua vanasi atau petulangnya terlihat jelas.

Tonggeret memiliki siklus hidup yang panjang, fase nimfanya menghabiskan waktu sekitar 6-7 tahun dalam tanah. Selama masa perkembangannya, tonggeret mengalami 4 kali ganti kulit walaupun terkadang ada yang mengalami 5 kali ganti kulit tergantung jenis individunya.

Baca jugaCamilan Serangga dan Rahasia Fantastis di Baliknya

Pergantian kulit nimfa menjadi dewasa umumnya terjadi pada saat setelah hujan. Waktu yang mereka butuhkan untuk ganti kulit kurang lebih satu jam atau kadang-kadang lebih.

Ada tiga jenis tonggeret berdasarkan siklus hidupnya, yaitu: tongeret tahunan, periodik, dan protoperiodik. Tongeret tahunan siklus hidupnya terjadi dalam waktu setahun dan muncul tiap tahun. Jenis ini yang banyak hidup di Indonesia dan jadi penanda musim.

Dikutip dari Kompas, Michael Raupp, ahli entemologi dari Universitas Maryland, menyatakan keluarnya tonggeret dalam jumlah masif juga strategi bertahan hidup spesies ini. Dengan keluar bersamaan dalam jumlah besar, tentu memberi kesempatan bagi serangga penyintas yang selamat untuk terus berkembang biak

Menurut Dr Sih Kahono, ahli serangga di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong, tonggeret memang sering terdengar saat cuaca mulai panas dan curah hujan sedikit. Tonggeret menyukai temperatur hangat, 24 – 30OC, untuk tumbuh optimal.

‘Pada kondisi itu nimfa – tonggoret yang alat reproduksinya belum berkembang sempurna dan tidak bersayap – tumbuh jadi dewasa. Itu ditandai dengan munculnya sayap dan alat reproduksi yang telah sempurna,’ ungkap doktor ekologi serangga alumnus Kanazawa University, Jepang itu.

Beberapa saat setelah tumbuh dewasa, tonggeret terbang dan hinggap di dahan pepohonan. Saat itulah ia mulai bersuara. Suara hanya dihasilkan oleh tonggeret jantan.

Mereka mengeluarkan suara nyaring untuk menarik perhatian tonggeret betina supaya mau diajak kawin. Selain itu suara nyaring tonggeret juga berfungsi sebagai senjata menghadapi musuh.

‘Tonggeret adalah serangga yang memiliki suara paling keras di antara jenis-jenis serangga lainnya. Selain untuk mencari pasangan, suara itu juga berguna menakut-nakuti burung yang akan memangsanya,’ kata Purnama Hidayat PhD, ahli serangga di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat.

Orkestrasi tonggeret dan tanda peralihan musim

Kemunculan tonggeret identik dengan bunyi laksana orkestra alam. Getaran gendang tersebut yang menimbulkan bunyi dan dapat didengar manusia. Nyanyian serentak para pejantan ini anggap saja sebagai orkestra alami musisi versi serangga.

Tonggeret mampu menghasilkan suara nyaring lantaran memiliki tymbal yang terdapat dalam perut. Organ itu berupa membran yang dilengkapi oleh otot-otot penggerak. Ketika otot-otot itu digerakkan membran akan bergetar.

Getaran itulah yang menghasilkan suara. Suara itu bisa semakin keras karena perut tonggeret memiliki rongga udara yang berfungsi seperti amplifier. Rongga itu memperkuat suara yang dihasilkan oleh getaran tymbal.

Suara senandung tonggeret dipengaruhi oleh fluktuasi cuaca. Secara umum, tonggeret menyukai sinar matahari dan kehangatan, tetapi terlalu banyak panas atau terlalu dingin akan sedikit mengganggu mereka. Spesies yang berbeda lebih suka waktu yang berbeda dalam sehari, dan masing-masing 3.000 spesies memiliki suara yang berbeda.

Baca jugaPotret Kumbang Tanduk, Ikon Museum Serangga

Alasan mengapa suara senandung itu begitu keras adalah karena suara tersebut dapat menghalangi predator. Kelompok tonggeret paling keras adalah yang berkala yang muncul setiap 13 tahun dan yang muncul setiap 17 tahun, mungkin karena jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang tahunan.

Serangga ini sempat dahulu setia memberi isyarat perubahan musim dengan suaranya yang keras di sudut-sudut desa. Di masa pancaroba dari musim hujan ke kemarau atau dari kemarau ke musim hujan, dahulu tonggeret memberi tanda dengan cara mengeluarkan suara khas sepanjang hari.

Saat ini penggunaan nyanyian tonggeret sebagai pertanda musim kemarau tiba mulai pudar lantaran populasinya langka. Petani kesulitan menemukan serangga bersuara nyaring itu.

"Waktu saya SMP, 1967, tonggeret dapat dengan mudah ditangkap di belakang rumah. Kini, mendengar suaranya saja susah,’ tutur Kahono yang dikutip dari Trubus.

Menurut kelahiran Klaten, Jawa Tengah itu, tonggeret langka lantaran habitatnya tergusur. Mereka menyukai hidup di daerah yang memiliki banyak pohon dan bertanah lembap. Sebab, hampir seluruh kehidupan tonggeret dihabiskan di dalam tanah. Mereka menyantap cairan yang ada dalam akar-akar pohon sebagai makanan.

Ketika pepohonan banyak ditebangi dan kondisi tanah kering-kerontang populasi tonggeret pun anjlok karena sulit bertahan hidup. Kalaupun ada, petani sekarang meragukan kemampuan tonggeret mendeteksi kedatangan kemarau.

Sebab, selang beberapa pekan setelah garengpung ramai berkicau hujan justru kerap turun. Menurut Kahono perubahan iklim menyebabkan tonggeret tidak lagi dipercaya petani.

Sebenarnya tonggeret tetap bersuara saat cuaca meningkat panas. Namun karena perubahan iklim yang tidak menentu, musim bersuara tonggeret pun ikut berubah.

Dulu, saat pergantian musim kemarau dan hujan relatif teratur, suara tonggeret bisa dinikmati dengan teratur – di penghujung musim hujan. Kini, ketika terjadi perubahan iklim, bunyi tonggeret pun tak lagi rutin setahun sekali.

"Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu, bisa jadi dalam setahun tonggeret bersuara lebih banyak ketimbang dulu. Sehingga kebiasaan petani setiap tahun menandakan suara tonggeret sebagai awal kemarau meleset,’ ungkap Kahono.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini