Tradisi Suku Sasak Lumuri Lantai dengan Kotoran Kerbau untuk Perkokoh Rumah

Tradisi Suku Sasak Lumuri Lantai dengan Kotoran Kerbau untuk Perkokoh Rumah
info gambar utama

Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, salah satu objek wisata yang menjadi tujuan favorit wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara kala mengunjungi Lombok. Para wisatawan yang hadir ke desa tersebut umumnya ingin mengetahui tradisi unik suku tersebut.

Desa Sade berada di tepi jalan poros yang menghubungkan Kota Mataram dengan daerah di bagian selatan Lombok. Dari bandara Praya Lombok Internasional, desa ini bisa dijangkau cukup 25 menit saja.

Dusun ini terkenal dengan rumah adat Suku Sasak dan tradisi-tradisi lainnya yang masih bertahan hingga kini. Salah satu dari sekian tradisi unik yang dimaksud ialah kebiasaan masyarakat Sade melulur lantai rumah dengan kotoran ternak.

Bagi masyarakat sana, kotoran sapi bukan hal yang menjijikkan. Meskipun dilaburi dengan kotoran sapi, tidak tercium aroma tak sedap di desa itu. Kotoran sapi atau kerbau yang masih baru dicampur dengan tanah liat lalu digosokkan ke lantai.

Baca jugaBerkenalan Dengan Suku Sasak dari Dusun Sade Yuk!

Kotoran sapi akan didiamkan selama beberapa jam hingga mengering. Aroma tak sedap pun akan hilang dengan sendirinya. Warga biasa membersihkannya sebulan sekali.

Kotoran sapi untuk melulur lantai harus yang baru keluar, bukan yang sudah berhari-hari mengendap. Di Desa Sade, jangan harap Anda dapat menemukan lantai berkeramik.

Warga asli Suku Sasak di sini masih berpegang kuat pada peninggalan leluhur mereka. Warga disana memang menganut Islam dan percaya jika rumah beralaskan tanah karena suatu saat akan kembali ke tanah.

"Saya sudah melulur lantai rumah sejak kecil. Ya, di sini kan bale tani (rumah tani) semua. Rumah kami dari awal lantainya dari tanah saja. Dan, dulu kan jarang ada semen. Jadi, untuk mengatasi keretakan lantai, ya kami pakai kotoran sapi," tutur Inaq Lip, warga Dusun Ende, mengutip Kompas.

Adapun kotoran ternak yang digunakan sebagai bahan pelulur lantai adalah kotoran yang tidak asal kotoran ternak. Kotoran ternak yang dipilih adalah kotoran kerbau atau sapi. Dan, kotoran ternak tersebut haruslah kotoran pertama ternak, di pagi hari.

Alasannya, kotoran ternak di pagi hari masih segar, tidak menguarkan aroma menyengat dan belum dikerubuti lalat.

"Yang dipilih itu kotoran sapi atau kerbau. Tapi diutamakan kotoran kerbau. Dan, harus diambil pagi-pagi. Harus dipilih kotoran yang pertama, yang masih segar dan yang masih hijau. Kalau yang sudah lama itukan baunya tidak enak dan ada lalatnya," sambung Inak Lip.

Dilakukan saban bulan saat ritual

Dusun Sade yang berdiri sejak 1907 ini memiliki lima bangunan adat utama, yaitu Beruga Sekenam, tempat yang digunakan sebagai tempat musyawarah dalam memecahkan suatu masalah, acara sunatan dan acara pernikahan.

Kemudian ada Beruga Sekebat yang digunakan untuk kegiatan akikah. Ada pula Balai Jajar, Balai Kodong dan Balai Tani, serta lumbung yang bentuknya khas.

Rumah khas suku Sasak memiliki dua ruang yakni ruangan depan untuk orang tua dan anak, serta ruang belakang untuk dapur, tempat tidur gadis dan tempat melahirkan. Selain itu terdapat teras rendah yang memiliki tiga tangga.

Teras rumah yang rendah itu, memiliki arti agar tamu merunduk. Sedangkan arti tiga anak tangga, untuk mengingat Tuhan Yang Maha Kuasa, mengingat ibu dan ayah.

Mayarakat Sade cenderung tidak mempertanyakan tradisi yang sudah mengakar di tempat mereka. Bagi mereka, apapun ajaran peninggalan yang dianggap suci dan sakral oleh nenek moyangnya, semuanya akan tetap dilanjutkan.

Sama halnya dengan memilih kotoran kerbau atau kotoran sapi sebagai bahan melulur lantai rumah. Menurut kepercayaan mereka, melulur lantai rumah dengan kotoran kerbau lebih suci daripada dengan kotoran sapi.

"Orangtua kami juga menganggap kerbau lebih suci dari kotoran sapi, karena kerbau banyak jasa di sawah. Kalau ada upacara ritual dilumuri pakai kotoran kerbau. Sementara untuk sehari-harinya, pakai kotoran sapi dua kali seminggu supaya nggak retak, jika bagian rumah menggunakan semen)," tutur Mujar dalam Suara.com.

Baca jugaGasing Lengker, Inovasi Mainan Tradisional dari Lombok Timur

Warga lain bahkan bilang, bahwa melulur lantai dengan kotoran ternak merupakan bagian dari ritual yang harus dilaksanakan masyarakat Sade, terlebih dahulu sebelum menjalankan beberapa tradisi keagamaan seperti ziarah makam wali dan zikiran di siang hari.

"Misalnya, seperti sebelum berziarah ke Makam Wali Nyatok, sebelum berziarah ke Makam Gunung Kiangan, sebelum berziarah ke Makam Batu Denden dan sebelum mengadakan roah kelemak (zikiran siang hari), masyarakat yang bersangkutan sudah harus melulur rumah mereka dengan kotoran kerbau terlebih dahulu," cerita Senem.

Menurutnya, belumlah dianggap sempurna ziarah atau zikiran mereka jika belum melulur lantai rumah mereka dengan kotoran ternak. Di Dusun Sasak Sade sendiri ada 150 rumah dengan jumlah penduduk sekitar 700 orang.

Selain itu kotoran tersebut dipercaya sebagai simbol kerja keras petani. Karena sebagai besar masyarakat Sasak Ende hidup sebagai petani dan peternak.

Mamfaat kotoran kerbau dan sapi kepada bangunan

Ternyata penggunaan kotoran sapi pada lantai dan dinding di rumah Suku Sasak ini juga punya tujuan lain, yakni kotoran sapi dianggap mengandung zat yang bisa mengusir nyamuk dan memberikan efek hangat di dalam ruangan rumah.

Maklum saja, jika malam hari, udara di desa ini cukup dingin karena dinding dan atap Bale Tani--sebutan rumah untuk Suku Sasak--hanya terbuat dari bambu dan atap jerami.

"Uniknya, karena dibuat dari kotoran kerbau, saat musim hujan rumah jadi terasa hangat. Sebaliknya, saat musim panas rumah terasa adem. Nyamuk-nyamuk juga hilang," jelas pemandu wisata di Dusun Sade.

Mereka juga meyakini kotoran bisa memperkokoh rumah dan tak mudah retak. Kotoran yang dicampur dengan sedikit air, lalu diusap ke seluruh lantai serta dinding menjadikan lantai lebih kesat, mengkilap.

Baca jugaSelain Jadi Tuan Rumah MotoGP 2021, Pesona Lombok Memang Menawan

Tidak heran ketika masuk dalam rumah adat suku Sasak, Anda akan disambut dengan dinginnya lantai yang kesat alias tidak lembab saat diinjak serta nampak mengkilap.

Memang dalam mengepel lantai, para wanita suku Sasak punya trik tersendiri. Dalam proses pelumuran, kotoran sapi yang digunakan adalah yang masih segar. Setelah dicampur air dan dipel, kotoran akan dibiarkan 20 menit agar kering sempurna. Setelah kering, maka lantai akan dibersihkan ulang sampai mengkilap.

Hal lainnya, jika Anda menginjakkan kaki di Dusun Sade, biasanya warga lokal memberi sambutan berupa atraksi budaya menggunakan alat musik Genggong. Kemudian, ada juga atraksi Peresean, yakni adu kejantanan antar dua pria saling memukulkan tongkat rotan dan dilindungi tameng terbuat dari kulit kerbau yang tebal.

Awalnya, acara Peresean digelar oleh warga Sasak sebagai ritual memohon diturunkan hujan. Jika salah satu petarung mengalami luka dan darah banyak bercucuran, itu dipercaya hujan bakal turun.

Lain itu, selama berada di Dusun Sade, Anda juga bisa mencicipi kuliner khas Klepon Kecerit dan Songgak (obat kuat terbuat dari telur ayam kampung dan telur bebek).

Tidak heran dengan beragam tradisi unik ini membuat Dusun Sade jadi destinasi favorit saat berkunjung ke Lombok. Selain bisa melihat keindahan alam, wisatawan juga bisa menambah pengetahuan tentang adat istiadat masyarakat setempat.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini