Jajaran Perusahaan Kunci di Balik Pabrik Baterai Mobil Listrik Pertama RI

Jajaran Perusahaan Kunci di Balik Pabrik Baterai Mobil Listrik Pertama RI
info gambar utama

Kabar baik kembali dimiliki Indonesia, walau di tengah pusaran situasi pandemi nyatanya tidak menghalangi negeri ini untuk menjajaki langkah mega bisnis yang diyakini dapat membuat tanah air akan semakin diperhitungkan keberadaannya di mata dunia.

Industri komponen kendaraan listrik nyatanya merupakan sektor yang dapat menjadi harapan baru bagi Indonesia, terutama untuk ikut menunjukkan kejayaan di antara keunggulan yang dimiliki negara lain. Bukan kali pertama terdengar, isu pembangunan pabrik baterai untuk kendaraan listrik sejatinya sudah sering kali diberitakan sejak tahun 2020 lalu.

Melansir GridOto, Awalnya dikabarkan ada 4 perusahaan mobil listrik dunia yang terpikat akan Indonesia sebagai lokasi didirikannya pabrik baterai yang menjadi komponen paling penting dan utama dalam kehadiran mobil listrik.

Adapun 4 perusahaan yang dimaksud yaitu Contemporary Amperex Technology (CATL) asal China, Badische Anilin-und Soda-Fabrik (BASF) asal Jerman, pabrikan mobil listrik bergengsi Tesla besutan Elon Musk (AS), dan LG Energy Solution yang berasal dari Korea Selatan.

Saat ini, babak baru dari rencana investasi yang dimiliki oleh jajaran perusahaan di atas datang dari pihak LG Energy Solution. Tahap pembangunan perdana (groundbreaking) dari pabrik listrik hasil kerja sama LG dengan Indonesia ini dikabarkan akan dimulai pada bulan Juli 2021 mendatang.

"LG ini sudah mulai groundbreaking bulan Juli, paling lambat Agustus awal sudah kita bangun, ini bukan cerita dongeng, ini sudah kita lakukan," ungkap Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, dalam Rakornas dengan HIPMI secara virtual, Sabtu (19/6/2021).

100 Tahun Mobil Listrik Dunia, dari Tesla hingga Tucuxi Dahlan Iskan

Perjalanan panjang kerja sama Indonesia dengan LG

Jokowi Moon Jae In
info gambar

Masih melansir sumber yang sama, bukan semata-mata melalui waktu yang singkat dan berjalan dengan mudah, kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan LG berawal dari kunjungan Presiden Joko Widodo ke Busan, Korea Selatan, dan bertemu dengan Presiden Moon Jae In. Pada pertemuan itu selanjutnya memunculkan gagasan kerja sama tersebut dan melalui berbagai penjajakan, studi, serta negosiasi.

Berlanjut di tahun 2020, tepatnya pada tanggal 18 Desember akhirnya ditandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) mengenai kerja sama tersebut, yang dalam prosesnya melalui 25 kali revisi dokumen yang juga dikonsultasikan dengan Menteri BUMN, Erick Thohir.

"Ini merupakan salah satu proses penyusunan dokumen terpanjang yang pernah dijalankan Kementerian Investasi atau BKPM. Perlu 15 kali rapat intensif. Baik di tingkat pimpinan maupun di tingkat teknis. Kami sangat menghargai dedikasi tim yang luar biasa," ungkap Bahlil.

Saat ini, proyek baterai mobil listrik yang terjalin antara Indonesia dengan LG diketahui akan berlokasi di kawasan Deltamas, Karawang, Jawa Barat. Disebutkan bahwa nilai investasi yang diterima Indonesia diperkirakan mencapai 9,8 miliar dolar AS atau setara Rp142 triliun.

Adapun kehadiran pabrik baterai mobil listrik ini digadang-gadang sebagai pabrik baterai mobil listrik pertama dan terbesar di kawasan Asia, serta diharapkan dapat membuat Indonesia menjadi pemain yang berperan penting dalam pasokan komponen baterai untuk keberadaan mobil listrik di seluruh negara.

Terlepas dari pembangunan yang akan terealisasi dalam waktu dekat, muncul pertanyaan soal siapa pihak yang nantinya akan bertanggung jawab penuh atas keberadaan pabrik baterai mobil listrik ini di tanah air, dan siapa saja sebenarnya pihak konsorsium LG yang terlibat dan berasal dari Korea Selatan? Berikut jawabannya.

Tesla Siap Bangun Pabrik Baterai Mobil Listrik di Indonesia

Indonesia Battery Corporation, buah kolaborasi 4 BUMN tanah air

Pembentukan IBC
info gambar

PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) merupakan pihak yang akan bertanggung jawab atas pengelolaan industri baterai terintegrasi dari hulu sampai ke hilir di tanah air, termasuk dalam hal ini pabrik baterai mobil listrik yang akan dibangun atas kerja sama dengan pihak LG.

Pendirian IBC diumumkan oleh Menteri BUMN, Erick Thohir pada tanggal 26 Maret 2021 yang diresmikan melalui konferensi pers secara virtual. Dijelaskan, bahwa IBC merupakan bentuk holding company yang terdiri atas kolaborasi antara 4 BUMN di Indonesia.

Adapun 4 BUMN yang dimaksud ialah PT Indonesia Asahan Alumunium (INALUM) atau dikenal juga sebagai MIND ID, serta anak usahanya yaitu PT Aneka Tambang (ANTAM), selain itu ada pula PT Pertamina dan PT PLN.

Mengenai kepemilikan saham, Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik, Agus Tjahajana Wirakusumah, mengungkapkan 4 BUMN tersebut mendapatkan persentase kepemilikan saham yang sama yaitu masing-masing sebesar 25 persen.

"Porsi kepemilikan saham masing-masing BUMN pada konsorsium IBC adalah sebesar 25 persen dengan tujuan untuk menjaga netralitas dan akuntabilitas, mendorong sinergi dan penyelarasan sepanjang ekosistem EV baterai," ungkap Agus, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Februari lalu.

Ongkos Jakarta-Bali Hanya Rp200 Ribu, Indonesia Siap Jadi Pemain Utama Mobil Listrik

Deretan perusahaan di balik konsorsium LG

Kendaraan listrik dengan rangkaian baterai besutan LG Chem
info gambar

Jika sebelumnya ada pihak yang bertangung jawab sepenuhnya dari dalam negeri yang dikelola langsung oleh negara melalui jajaran BUMN, kali ini pihak kunci yang tak kalah penting ialah pemberi dana investasi yang berasal dari Korea Selatan, yaitu konsorsium pihak LG.

Adapun konsorsium LG yang menjajaki kerja sama dalam pembangunan pabrik baterai mobil listrik di Indonesia terdiri dari berbagai anak perusahaan LG Holding itu sendiri, dan beberapa perusahaan yang berasal dari industri serupa di Korea Selatan, yaitu LG Energy Solution, LG Chem, POSCO, dan Huayou Holding.

LG Energi Solution walau masih terbilang baru didirikan pada tahun 2020, namun keberadaannya dibuat khusus sebagai perusahaan split off dan berada di bawah naungan LG Chem (Chemical) sebagai salah satu produsen baterai mobil listrik terbesar di dunia.

Adapun POSCO yang juga berasal dari Korea Selatan memiliki riwayat sebagai produsen baja mentah terbesar keempat dengan nilai pasar terbesar di dunia dalam rentang tahun 2010-2015. Sedangkan Huayou Holding pada dasarnya merupakan perusahaan produsen nikel dan kobalt asal China yang ikut bergabung pada konsorsium LG untuk berinvestasi membangun baterai mobil listrik di Indonesia.

Sejauh ini, rencana dalam pembangunan pabrik listrik yang akan dijalankan disebut akan memiliki kapasitas produksi baterai mencapai 10 gigawatt hour (GWh), yang nantinya akan dipakai untuk kendaraan listrik besutan Hyundai.

Mengenal Hyundai Ioniq, Mobil Listrik Termurah di Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini