Seni Hidup Bahagia, Suatu Cara Untuk Mencapai Kehidupan yang Lebih Damai

Seni Hidup Bahagia, Suatu Cara Untuk Mencapai Kehidupan yang Lebih Damai
info gambar utama

Penulis: Habibah Auni

Sudah menjadi hal yang wajar ketika orang-orang ingin diterima di lingkungan. Mengingat, penerimaan merupakan pintu pertama dalam relasi sosial sehingga bisa melanjutkan hubungan pertemanan hingga ke jenjang berikutnya. Yang pada akhirnya akan tumbuh rasa aman dan tentram dalam batin.

Akan tetapi, pada kenyataannya, tidak semua orang atau lingkungan mau menerima diri Kawan secara penuh. Tak jarang saat berada di lingkungan, ada satu atau dua orang yang pasti menolak keberadaan Kawan, sekeras apa pun Kawan berusaha.

Menerima kenyataan ini, Kawan pun mulai mempertanyakan kapasitas diri, menyalahkan diri atas mengapa tidak bisa memenuhi ekspektasi orang-orang, dan merasa sangat buruk sekali dengan diri sendiri. Ini pun membuat kondisi mental Kawan semakin terpuruk.

Meniti jalan kebahagiaan

Ilustrasi | Foto: Unsplash
info gambar

Ditolak memang rasanya sangat menyakitkan. Selain berakibat pada kesehatan mental, penolakan berimbas pula pada kesehatan fisik, produktivitas, hingga kehidupan Kawan secara paripurna. Sehingga, mengkhawatirkan rasa penolakan sangat berbahaya untuk kehidupan dan masa depan Kawan.

Maka dari itu, tak ada salahnya untuk meniti jalan hidup bahagia, untuk kehidupan yang lebih damai. Menjadi pribadi yang bahagia di sini bukan berarti mengabaikan hak-hak orang lain, melainkan mengubah sikap menjadi tidak terlalu memedulikan ekspektasi sosial.

Belajar Rasa Toleransi Agama dari Masyarakat Pulau Dewata

Dengan memulai jalan hidup kebahagiaan, Kawan tidak akan lagi menyalahkan diri Kawan tatkala penampilan Kawan kurang sesuai dengan tren masa kini. Tidak merasa rendah diri ketika Kawan tidak bisa menjadi yang terbaik di usia muda. Lantaran, yang menentukan kesuksesan Kawan tak lain adalah diri Kawan sendiri.

Tambah lagi, Kawan bisa menjadi pribadi yang produktif dan bahagia tanpa perlu merasa tidak aman. Orang-orang sekitar pun akan merasakan perubahan pada diri Kawan, dan merasa takjub dengan ketegasan pada diri Kawan. Tak dipungkiri, jika suatu saat nanti Kawan mendapatkan banyak kesempatan kerja atau hal-hal lainnya.

Bagaimana cara menjalani hidup kebahagiaan?

Setelah dipikir baik-baik, ternyata bersikap apa adanya mendatangkan banyak manfaat untuk pelakunya, baik secara psikologis maupun mental. Melihat hal ini membuat diri Kawan tertarik untuk melakukannya, bukan? Oleh karena itu, berikut beberapa cara untuk menjalani hidup kebahagiaan.

Sadarilah bahwa semua orang menilai atau menghakimi orang, termasuk Kawan sendiri

Ilustrasi | Foto: Unsplash
info gambar
Belajar Daring Selama Pandemi, Kesehatan Mata Anak Memburuk

Ini sudah menjadi naluriah kebanyakan orang, dan tak bisa dipungkiri lagi. Saat bertemu orang-orang baru, otak Kawan sudah mendapatkan kesan pertama dari penampilan mereka. Kemudian secara tidak sadar, otak Kawan akan mengelompokkan orang-orang tersebut ke dalam kategori ‘aman’ atau ‘tidak aman’. Biar Kawan tahu, siapa saja orang yang membahayakan Kawan dan mana yang sebaliknya.

Maka itu, tidak ada yang masalah dengan menilai orang-orang baru. Namun, jangan sampai penilaian ini membuat diri Kawan terburu-buru menganggap mereka sebagai sesuatu yang negatif, karena bisa saja yang terjadi malah sebaliknya. Bisa jadi, Kawan menyesali pilihan Kawan lantaran terlambat mengetahui betapa baiknya orang-orang ini.

Berhenti berpikir kalau Kawan itu orang penting di kehidupan orang lain

Ilustrasi | Foto: Unsplash
info gambar

Pada dasarnya, manusia merupakan makhluk hidup yang lebih mementingkan egonya sendiri. Dengan kata lain, memikirkan hak atau kehidupan orang lain menjadi prioritas sekian, tentunya setelah memenuhi ego pribadi.

Oleh karena itu, ini bisa menjadi landasan berpikir Kawan kalau sesungguhnya diri Kawan itu tidaklah sepenting yang Kawan pikirkan. Ketika Kawan tidak sengaja berbuat salah, bisa saja bukan kepribadian atau perilaku Kawan yang salah, melainkan di diri lawan bicara Kawan. Begitu pula ketika karakter Kawan dikritik, Kawan kurang disukai lingkungan, dan beberapa hal kurang mengenakkan lainnya.

Fokus pada keinginan Kawan, bukan yang orang lain inginkan

Kebanyakan orang menghabiskan waktu hidupnya untuk mengejar pengakuan orang lain atau ekspektasi sosial, seperti menjadi pribadi yang sukses, membuat orang kagum, dikenal sebagai pribadi yang baik dan sempurna, dan hal-hal menyenangkan lainnya.

Nah, belum tentu semua ini bisa membuat diri Kawan bahagia. Bisa saja, ini malah menjadi bumerang ke diri Kawan sendiri di masa yang akan datang. Maka itu, ada baiknya Kawan fokus pada hal-hal yang diinginkan, bukan yang orang lain inginkan. Sehingga, Kawan pun bisa menjalani hidup dengan rasa penuh bahagia dan damai.

Bersikap apa adanya terhadap kelemahan yang kerap kali membuat Kawan mengalami penolakan

Ilustrasi | Foto: Unsplash
info gambar
Kebiasaan Buruk WFH yang Harus Dihindari

Barangkali ada beberapa dari Kawan yang kerap kali dikritik, diremehkan, atau direndahkan atas sikap, pilihan hidup, atau kemampuan diri Kawan. Nah, sebaiknya Kawan tidak terlalu memusingkan hal ini, karena ini sama saja dengan mengikuti kemauan orang-orang, melihat diri Kawan terpuruk atau jatuh.

Ketimbang memperbaiki kelemahan diri Kawan secara terus-menerus, namun pada kenyataannya tidak kunjung “membaik” di mata orang-orang, ada baiknya Kawan lebih fokus pada kelebihan Kawan. Berhentilah mencoba menjadi orang lain. Coba kenali siapa diri Kawan, dan maksimalkan potensi dan bakat Kawan.

Dengan fokus menempa kelebihan Kawan, lama-kelamaan diri Kawan akan melaju secara pesat. Kawan pun akan bersikap apa adanya dengan kelemahan diri Kawan, karena kelebihan Kawan yang menonjol telah menutupi kelemahan diri Kawan.

Berhenti bergaul dengan orang-orang toxic

Pernah bertemu dengan orang-orang yang suka membandingkan nasib hidup Kawan dengan diri mereka? Atau pernah merasa, ternyata ada orang-orang yang tidak suka melihat Kawan maju dan berkembang? Jika iya, berarti benar, Kawan sudah pernah bertemu dengan orang-orang toxic.

Segera untuk menjauhi orang-orang seperti ini. Mereka secara sadar ingin memengaruhi diri Kawan agar berada di bawah kendali mereka. Mereka tidak menginginkan Kawan bahagia, dan hanya memedulikan diri mereka sendiri. Bahkan, di momen paling bahagia Kawan pun, orang-orang ini ‘mencoba’ menghabiskan energi Kawan.*

Referensi:Gramedia | Ideapod | LovePanky.com

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini