Belajar Daring Selama Pandemi, Kesehatan Mata Anak Memburuk

Belajar Daring Selama Pandemi, Kesehatan Mata Anak Memburuk
info gambar utama

Selama pandemi, banyak orang lebih banyak berkegiatan dari rumah, termasuk anak-anak. Meski tidak bepergian merupakan salah satu cara untuk mencegah Covid-19, nyatanya ini juga menimbulkan masalah baru seperti peningkatan screen time alias waktu di depan layar gawai, yang pada akhirnya menimbulkan gangguan penglihatan.

Mengutip Katadata.co.id setidaknya terdapat 68.729.037 murid yang belajar di rumah selama pandemi. Anak-anak ini sudah tak lagi pergi ke sekolah dan mengakses pembelajaran video, audio, teks, dan latihan mandiri dari rumah dengan memanfaatkan platform digital.

Para dokter mengatakan anak-anak mengalami penglihatan yang lebih buruk selama pandemi. Banyak anak mengalami sekolah virtual dan ini menimbulkan lebih banyak kasus miopi.

Miopi atau biasa disebut rabun jauh merupakan kelainan refraksi mata. Ini terjadi karena mata tak bisa memfokuskan cahaya pada retina. Jika anak mengalami miopi, penglihatannya akan kabur ketika melihat benda-benda yang jaraknya jauh.

“Kita tahu bahwa fokus dari dekat dan tidak berada di luar telah meningkatkan tingkat miopi,” kata Julia A. Haller, kepala oftalmologis di Rumah Sakit Mata Wills di Philadelphia.

Peningkatan kasus miopi pada anak

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal JAMA Ophthalmology, para peneliti di Tiongkok mengamati tingkat miopi pada lebih dari 120 ribu anak-anak yang tinggal di rumah selama pandemi dan menemukan prevalensi pada anak-anak usia 6 hingga 8 tahun meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan lima tahun sebelumnya.

Megan Collins, dokter mata anak di Johns Hopkins Wilmer Eye Institute di Baltimore, mengatakan anak-anak yang dia temui dengan miopi baru atau lebih buruk sering kali adalah anak-anak yang bersekolah di sekolah virtual.

“Saya telah melihat beberapa anak yang lebih muda tahun lalu ketika saya melihat mereka, mereka tidak memiliki kelainan refraksi yang signifikan,” ujar Megan. “Tidak ada yang membutuhkan kacamata. Dalam setahun mereka telah mengalami perubahan yang cukup besar dalam visi mereka.”

Allison Babiuch, dokter mata anak di Klinik Cleveland di Ohio, Amerika Serikat, turut melaporkan peningkatan serupa. Allison mengatakan bahwa banyak anak datang dengan penglihatan yang lebih buruk.

“Ada alasan mengapa kami tidak ingin orang memiliki miopia tinggi,” kata Allison. Ini karena pasien dengan miopi tinggi berisiko lebih besar mengalami lubang atau robekan retina, serta kondisi seperti glaukoma dan katarak.

Glaukoma adalah gangguan penglihatan yang ditandai dengan terjadinya kerusakan saraf mata, seringkali disebabkan oleh tekanan tinggi pada mata. Sedangkan katarak adalah penyakit ketika lensa mata menjadi keruh dan berawan.

Masalah kesehatan penglihatan selama pandemi

Tak hanya miopi, dokter mata juga melaporkan lebih banyak kasus ketegangan mata digital pada anak. Seperti dilansir Wall Street Journal, ada banyak anak mengeluhkan penglihatan kabur, sakit kepala, dan kelelahan mata.

Judith Lavrich, asisten profesor klinis di Rumah Sakit Mata Wills di Philadelphia, dan rekannya mensurvei 110 anak dalam lima bulan. Anak-anak berusia 10 hingga 17 tahun yang sebelumnya tidak memiliki masalah penglihatan, memiliki sekolah virtual mulai dari tiga hingga 10 jam sehari.

Kata Judith, mayoritas anak-anak memiliki gejala mata akut dan ini mengkhawatirkan. Gejalanya termasuk sakit mata, sakit kepala,hingga kata-kata seolah bergerak sendiri. Setengah dari peserta penelitian mengaku lebih sering menggosok mata, kekeringan, sensasi benda asing di mata, bahkan hingga robek dan terbakar.

Menjaga kesehatan mata di tengah belajar daring

Untuk menjaga kesehatan mata anak di tengah program belajar daring sekaligus memperlambat perkembangan miopi adalah mengajak anak untuk beraktivitas di luar ruangan dan mendorong mata untuk melihat benda-benda jauh, setidaknya satu jam sehari.

Dokter spesialis mata, dr. Andito Keshavamurthi Adisasmito, menyarankan anak mengikuti metode 20:20:20. “Ini maksudnya setiap 20 menit melihat layar, anak harus dihentikan selama 20 detik dan disuruh melihat objek yang jauh sepanjang 20 kaki (6 meter).”

Andito menyarankan untuk anak-anak yang belajar secara daring agar menyesuaikan kecerahan dan kontras layar, posisi tubuh yang baik, dan pemilihan layar semakin besar semakin baik.

Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI menyarankan agar posisi duduk anak depan layar tidak membungkuk, selalu gunakan kacamata bila memang anak memiliki mata minus, mengatur jarak mata dengan layar 30-50 cm, pastikan cahaya cukup, dan ajak anak-anak beristirahat dengan green time atau beraktivitas di luar rumah sambil melihat pemandangan hijau seperti daun, rerumputan, atau pohon sambil melakukan aktivitas fisik.

Baca juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini