Menilik Potensi Startup Indonesia yang IPO Setelah Bukalapak

Menilik Potensi Startup Indonesia yang IPO Setelah Bukalapak
info gambar utama

Pendanaan atau investasi menjadi hal yang penting bagi kelangsungan perusahaan, terutama bagi perusahaan rintisan atau yang kekinian lebih banyak dikenal dengan sebutan startup. Bukan hanya perusahaan rintisan, perusahaan yang sudah ada jauh sebelum istilah startup populer di sekitar tahun 2000-an sejatinya memang mengandalkan keberadaan investor sebagai salah satu penopang utama.

Dalam dunia bisnis, dana yang bisa dihimpun oleh suatu perusahaan pada dasarnya bukan hanya berasal dari investor yang memiliki uang dan siap memberikan suntikan investasi dalam jumlah besar, kepemilikan pada suatu perusahaan juga bisa mengikutsertakan peran masyarakat lewat sejumlah saham yang dilepas ke publik melalui bursa saham.

Initial Public Offering (IPO) atau penawaran umum saham perdana dapat dikatakan menjadi suatu keputusan besar bagi perusahaan yang mengambil langkah tersebut. Karena berbeda dengan perusahaan yang masih bersifat terbatas, langkah IPO membuat perusahaan menjadi lebih terbuka serta transparan sehubungan dengan keberadaannya yang sudah menjadi hak publik dalam hal ini masyarakat umum pemilik saham.

Seberapa perlu langkah IPO diambil oleh suatu perusahaan terutama yang berbasis startup? Bagi perusahaan umum, hal ini dianggap suatu kemajuan karena dapat memberikan berbagai manfaat bagi kelangsungan bisnis, di antaranya meningkatkan nilai perusahaan, akses lebih besar dalam pendanaan, dan citra yang lebih baik di mata publik.

Namun bagaimana dengan perusahaan startup yang berdasarkan namanya saja masih dilabeli dengan kata ‘rintisan’? Apakah cukup stabil dan menjanjikan untuk mendapatkan kepercayaan publik?

Hal tersebut rupanya mendapatkan jawaban dari investor value Indonesia Lo Kheng Hong, mengutip CNBC Indonesia, Jumat, (9/7/2021), sosok yang acap kali disebut sebagai “Warren Buffett” versi Indonesia di kalangan investor tanah air ini memberikan pandangan mengenai fenomena startup yang berlomba untuk IPO.

Dirinya menyatakan, para investor Indonesia perlu lebih bijak dan berhati-hati dalam menyikapi keikutsertaan startup tanah air yang melantai di bursa saham.

"Perlu bagi calon investor untuk mempertimbangkan dan melihat lagi fundamental satu emiten," ungkapnya.

Pernyataan tersebut diberikan bersamaan dengan langkah IPO yang dilakukan Bukalapak dan sukses menyita perhatian beberapa waktu lalu. Faktanya, keputusan yang diambil Bukalapak sebagai startup unicorn yang melantai di bursa saham diyakini akan membuka jalan bagi deretan startup lainnya untuk melakukan hal serupa baik dalam waktu dekat atau beberapa waku yang akan datang.

Menanti Penuh Harap, Menelusuri Kembali Perjalanan Gojek dan Tokopedia Menuju IPO

Startup yang memiliki potensi dan memberikan sinyal IPO

GoTo, induk perusahaan Gojek dan Tokopedia yang diantisipasi langkah IPO oleh publik
info gambar

Selain Bukalapak, langkah besar IPO yang selanjutnya tak kalah dinantikan oleh publik ialah dua perusahaan besar yang baru-baru ini membentuk entitas bisnis baru dan berhasil menorehkan keberadaannya dalam jajaran startup paling bernilai bahkan di level Asia Tenggara, yaitu GoTo.

Walau belum diungkapkan secara mendetail, CEO Group GoTo yaitu Andre Soelistyo dalam salah satu kesempatan bahkan sempat memberikan sedikit bocoran mengenai rencana IPO yang akan dijalankan.

Melansir Katadata, Andre menyatakan bahwa GoTo akan melaksanakan IPO sebelum akhir tahun 2021 dengan fokus menyasar bursa dalam negeri. Walau tak menutup kemungkinan, pihaknya juga membuka peluang untuk melantai di bursa saham luar negeri seperti AS.

Yang jelas untuk saat ini, publik masih dibuat menanti dengan langkah IPO GoTo yang semakin kencang beredar akan dilakukan dalam waktu dekat.

Menariknya bukan hanya perusahaan startup yang bergerak di bidang marketplace yang memberikan sinyal untuk IPO, beberapa startup dari sektor lain yang juga dianggap memiliki peluang tinggi untuk melakukan hal serupa datang dari startup di sektor agroteknologi, yaitu Sayurbox.

Walau belum terlihat akan terlaksana dalam waktu dekat, rencana untuk melantai di bursa saham memang pernah diungkapkan oleh Co-Founder dan Chief Executive Officer Sayurbox, Amanda Susanti, saat acara Selebrasi Empat Tahun Sayurbox yang digelar pada tanggal 9 Juli lalu.

"Untuk rencana jangka panjang, pasti ya setiap startup punya mimpi IPO, jadi memang salah satu dari mimpi kita, memang arah kita ke sana” ungkap Amanda.

Ambil Langkah IPO, Bukalapak Lepas Harga Mulai Rp750 per Lembar Saham

Startup yang sudah IPO selain Bukalapak

Cashlez, salah satu startup yang sudah IPO pada tahun 2020
info gambar

Bukalapak bukanlah yang pertama. Faktanya, perusahaan yang didirikan pertama kali di Bandung tersebut sudah didului oleh startup lain yang melantai di BEI sejak tahun 2020.

Lebih tepatnya, saat ini sudah ada 3 perusahaan startup yang mencatatkan namanya di pasar saham tanah air, 3 startup tersebut yaitu:

  • PT Yelooo Integra Datanet Tbk (YELO), perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan, industri alat komunikasi dan jasa penyewaan alat teknologi komunikasi.
  • PT Tourindo Guide Indonesia Tbk (Pigijo), perusahaan penyedia platform perencana perjalanan pariwisata atau digital travel.
  • PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (Cashlez), salah satu startup di sektor financial technology (fintech).

Dapat dikatakan suatu kebetulan, karena pada dasarnya ketiga perusahaan tersebut merupakan emiten binaan program IDX Incubator, sebuah program incubator startup yang dimiliki langsung oleh Bursa Efek Indonesia, sehingga ketiga startup yang disebutkan di atas memang sudah memiliki pembekalan untuk menjadi perusahaan yang siap untuk melantai di bursa saham atau IPO bahkan sejak awal kemunculannya.

Startup Fintech Cashlez Resmi IPO

Tantangan dalam melakukan langkah IPO

Traveloka, startup pariwisata yang kerap kali dikabarkan IPO namun memiliki tantangan di tengah situasi pandemi
info gambar

Di balik keputusan IPO yang dilakukan perusahaan startup, ada tantangan yang harus siap dihadapi berdasarkan kondisi pasar dan situasi pandemi yang sedang terjadi.

Salah satunya, menurut Pengamat Bisnis dan Pemasaran Managing Partner Inventure, Yuswohady, ada kondisi khusus bagi para pemilik perusahaan startup di sektor pariwisata untuk kembali menimbang langkah IPO dalam kondisi saat ini.

Mengutip pernyataannya yang dimuat dalam IDXChannel, alangkah lebih baik jika startup yang mengandalkan sektor pariwisata memperhitungkan saat yang tepat untuk mengambil langkah IPO dengan melihat dampak yang akan mempengaruhi keberlangsungan perusahaan pada kondisi tertentu, salah dua di antaranya yaitu tiket.com dan Traveloka.

"Untuk sektor Pariwisata khususnya bagi perusahaan seperti Traveloka dan Tiket.com atau beberapa pelayanan perjalanan penerbangan agak terburu-buru dan untuk timing saat ini belum tepat," jelas Yuswohady.

Bukan tanpa alasan, hal tersebut nyatanya terbukti dengan keberadaan startup pariwisata yang sudah lebih dulu melantai di bursa saham yaitu Pigijo. Per hari ini, Rabu, (14/7), Pigijo yang mencatatkan namanya dengan kode PGJO di BEI terlihat memiliki portofolio merah dengan penurunan nilai sebesar 3 persen.

Maka tak heran, jika situasi tak terduga yang terjadi seperti saat ini kerap kali menjadi salah satu hal yang menjadi tantangan, dan harus diperhatikan bagi para pemilik perusahaan startup dalam memutuskan mengambil langkah IPO di waktu yang akan datang.

Raksasa Teknologi Asia Tenggara, Grab dan Traveloka Siap Melantai di Bursa Wall Street

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini