Menyelisik Asal Usul Gajah Kerdil yang Disebut Berasal dari Jawa

Menyelisik Asal Usul Gajah Kerdil yang Disebut Berasal dari Jawa
info gambar utama

Gajah kerdil Kalimantan atau gajah pygmi Borneo, sesuai namanya memang mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan subspesies gajah Asia maupun gajah Afrika. Jika Gajah Asia bisa setinggi 3 meter, gajah kalimantan maksimal hanya 2,5 meter. Mungkin jika dibayangkan gajah ini mirip dengan karakter animasi Dumbo dari Disney.

Selain ukuran, ciri-ciri fisik gajah kerdil ini antara lain memiliki ukuran telinga lebar dan ekor panjang yang menyentuh tanah. Kendati ukurannya kecil, gajah Kalimantan sanggup berjalan sejauh tujuh hingga 13 kilometer dalam sehari. Gajah jantan memiliki tinggi badan antara 1,7 hingga 2,6 m, sedangkan gajah betina antara 1,5 hingga 2,5 m.

Gajah Kalimantan juga kurang agresif dibandingkan subspesies gajah Asia lainnya. Pola dan jenis makanan gajah ini hampir menyerupai gajah Asia lainnya. Kendati mengusung nama Kalimantan, World Wide Fund for Nature (WWF) mencatat populasi gajah Kalimantan terbesar ada di wilayah Sabah, Malaysia dengan 1.500 hingga 2.000 ekor. Sementara di Indonesia, gajah Kalimantan hanya ada 30 hingga 80 ekor.

Minimnya populasi gajah Kalimantan membuatnya masuk daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Penyebabnya tak lain karena hilangnya habitat gajah Borneo akibat penebangan hutan dan alih fungsi hutan oleh tangan manusia. Padahal hadirnya gajah di wilayah tersebut menandakan tersedianya sumber daya untuk mendukung kehidupan satwa liar.

Selisik Wisata Alam Terbaik di Pulau Borneo

Gajah betina pada umumnya hidup berkelompok, sedangkan gajah jantan hidup soliter. Mereka bertemu hanya pada saat musim kawin. Gajah hamil hanya dengan satu anak, dengan periode kehamilan sekitar 19-21 bulan. Meskipun ukuran badan mereka kecil, gajah Kalimantan tetap memerlukan habitat yang luas.

Riset yang dilakukan Luke Evan, ekologis dari Sentral Lapangan Danau Girang Malaysia selama 10 tahun mencatat pergerakan gajah Kalimantan menggunakan GPS. Bedasarkan hasil penelitian disimpulkan jika gajah menyukai hutan yang lebih terdegradasi untuk memudahkan pergerakan dan sinar matahari melewati pohon-pohon pendek.

Sinar matahari yang menembus pepohonan memudahkan pertumbuhan tanaman di dekat tanah untuk membantu memuaskan nafsu makan gajah yang besar.

"Ada banyak keuntungan melindungi hutan rimba, akan tetapi kami menemukan bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya membantu untuk gajah," kata Luke, dilansir dari Mongabay.

Benarkah gajah kerdil dari Jawa?

Latar belakang mengenai gajah terkecil di dunia ini masih menjadi misteri. Untuk satu hal, para ilmuwan tidak yakin kapan tepatnya, dan bagaimana caranya gajah kerdil ini sampai ke Pulau Kalimantan dari daerah lain di Asia. Ada sebagian pendapat, gajah kerdil merupakan hewan introduksi, sedangkan pihak lain berkeyakinan bahwa mereka hewan endemik Kalimantan.

Gajah kerdil adalah spesies yang lebih lembut atau kurang agresif daripada gajah Asia dan Afrika. Sifat damai gajah kerdil membuat beberapa ilmuwan percaya bahwa hewan ini mungkin berasal dari gajah yang sudah dipelihara manusia. Hal ini juga bedasarkan catatan sejarah yang ditemukan.

Pada tahun 1750, British East India Trading Company menghadiahkan hewan-hewan tersebut pada Sultan Sulu (Filipina). Sultan Sulu kemudian memelihara di kawasan utara Kalimantan yang saat itu dikuasainya. Bertahun kemudian hewan tersebut hidup meliar kembali. Garis keturunan hewan ini mungkin bisa ditelusuri kembali ke gajah Jawa yang punah pada 1700-an.

"Pengiriman gajah lewat kapal dari satu tempat ke tempat lain di Asia telah berlangsung sejak beberapa ratus tahun yang lalu, biasanya sebagai hadiah di antara para penguasa," ujar Shim Phyau Soon, seorang pensiunan rimbawan Malaysia, menukil Kompas.

"Sangat menarik anggapan bahwa gajah Kalimantan yang tinggal di hutan mungkin merupakan sisa terakhir subspesies yang telah punah di tempat asalnya di pulau Jawa, Indonesia, beberapa abad yang lalu," jelasnya.

Pihak yang lain beranggapan bahwa gajah kerdil merupakan gajah Asia yang sejak masa Pleistosen telah mendiami Kalimantan yang saat itu menyatu dengan Asia. Saat naiknya permukaan laut yang memisahkan Pulau Kalimantan dengan daratan Asia, membuat gajah ini terperangkap di Kalimantan.

Gajah inipun kemudian berevolusi hingga menjadi subspsies gajah Asia yang keempat di samping gajah Sumatra, gajah India, dan gajah Srilanka. Namun, para peneliti belum pernah menemukan fosil gajah di Kalimantan, meskipun fosil dari mamalia besar lainnya seperti orangutan sudah pernah ditemukan.

"Ada juga penelitian yang menunjukan bahwa gajah Kalimantan sangat berbeda dengan gajah Asia lainnya, menunjukan bahwa ada pemisahan kuno, mungkin sekitar 300 ribu tahun yang lalu," kata Benoit Goossens, dari Cardiff University's School of Biosciences.

Goossens mengatakan bahwa ada bukti untuk kedua teori tersebut. Namun rekannya dalam penelitian yang sama, yakni Rita Sharma dari Instituto Gulbenkian de Ciencia (IGC) di Portugal, mengatakan penelitian mereka menunjukan bahwa subspesies ini telah berhasil menjajah Kalimantan sekitar 11.400 sampai 18.300 tahun yang lalu.

Fakta-fakta tentang Taman Nasional Betung Kerihun di Kalimantan

"Periode ini sesuai dengan waktu ketika permukaan laut sangat rendah dan gajah dapat berimigrasi dari Kepulauan Jawa, ke Kepulauan tempat gajah Kalimantan berada kini," katanya.

Baik Kalimantan maupun Jawa, adalah daerah asal yang paling memungkinkan bagi gajah Kalimantan. Laporan berjudul "Origins of the Elephants Elephas Maximus L of Borneo," yang diterbitkan dalam Sarawak Museum Journal menunjukan bahwa tidak adanya bukti arkeologis mengenai keberadaan gajah dalam jangka panjang di Borneo.

"Hanya dengan seekor gajah betina subur dan seekor gajah jantan subur yang dibiarkan tak terganggu di habitat yang cukup baik, secara teori dapat menghasilkan sebuah populasi gajah sebanyak 2.000 ekor selama kurang dari 300 tahun," kata Junaidi Payne dari WWF

Sementara itu pada 2003, peneliti dari WWF dan Columbia University lewat penelitian DNA mitokondria, menyimpulkan bahwa gajah kerdil secara genetika berbeda dari subspesies gajah di Sumatra atau daratan Asia lainya. Kemungkinan asal usulnya yang berasal dari Jawa semakin menjadikan satwa ini sebagai prioritas konservasi.

"Jika mereka memang berasal dari Jawa, kisah menarik ini menjadi pelajaran bagi kita betapa berartinya upaya penyelamatan populasi kecil dari spesies tertentu, yang seringkali dianggap telah punah," ujar Dr. Christy Williams, koordinator WWF untuk program gajah dan badak Asia.

Upaya konservasi

Pada Senin (1/10/2019), seekor gajah kerdil yang terancam punah ditemukan mati di Pulau Kalimantan setelah ditembaki sekitar 70 kali. Pejabat Malaysia mengatakan gading gajah itu hilang setelah serangan brutal oleh pemburu liar.

Bangkai gajah kerdil yang dimutilasi juga pernah ditemukan mengambang setengah tenggelam di sungai. Gajah itu sempat diikat dengan tali pohon di tepi sungai, di negara bagian Sabah di Malaysia.

Laporan ini adalah kematian terbaru seekor gajah kerdil, yang jumlahnya telah berukurang karena menjadi sasaran pemburu. Gading gajah menjadi sasaran pemburu. Gading gajah menjadi buruan sementara perkebunan pertanian meluas ke hutan tempat habitat gajah-gajah itu tinggal.

"Empat atau lima pemburu menggunakan senjata semi-otomatis diyakini telah menyerang makhluk itu dari jarak dekat," lapor surat kabar Star, mengutip sumber anonim yang dilansir dari Beritasatu.

Selain itu serangkaian survei lapangan yang dilakukan sejak Februari 2018 telah mengeksplorasi ancaman yang ada terhadap kelangsungan hidup gajah Kalimantan. Salah satu ancaman utama ialah hilangnya karena perusakan habitat.

Kepopuleran Rangkong Gading dan Mitos Kutukan

Hasilnya menunjukan 16 persen habitat alami gajah Kalimantan telah dihacurkan atau dirusak. Habitat mamalia meliputi 93.800 hektare pada 2007. Antonius dari WWF percaya, bahwa penyebab utama kerusakan habitat gajah di Kalimantan ialah konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Agus Suyitno, staf spesialis spesies lansekap Kayan untuk Gajah, WWF menyebutkan, gajah-gajah di Kalimantan dapat berkembang biak dengan baik. Adapun sisa habitat utama gajah masih dapat dipertahankan. Namun, upaya konservasi harus terus ditingkatkan.

Semua lintas sektor juga perlu terlibat dengan tugas dan fungsi masing-masing, mulai dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, sektor swasta, akademisi, dan kelompok masyarakat. Tujuannya hanya satu, memastikan populasi gajah Kalimantan tetap terjaga dan habitatnya juga tersedia dengan baik.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini