Bersama Literasi Anak Banua, Pemuda Asal Kalsel Tingkatkan Literasi Daerah 3T Indonesia

Bersama Literasi Anak Banua, Pemuda Asal Kalsel Tingkatkan Literasi Daerah 3T Indonesia
info gambar utama

Penulis: Nur Annisa Kusumawardani

Gabung Telegram Kawan GNFI untuk dapat informasi seputar program dan tulisan terbaru Good News From Indonesia.

Pada perkembang zaman yang semakin modern ini, penting bagi kita untuk terus meningkatkan literasi. Di beberapa daerah, masih banyak anak-anak yang tertinggal dalam bidang literasi atau bahkan tidak mendapatkannya.

Melihat situasi tersebut, Alvian Wardhana seorang pemuda asal Kalimantan Selatan mendirikan Literasi Anak Banua. Ialah sebuah komunitas anak muda yang bergerak dalam meningkatkan kemampuan literasi anak, khususnya di wilayah 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal) di Indonesia.

Kepada Kawan GNFI, Vian -sapaannya- bercerita mengenai semangat dan impiannya dalam meningkatkan literasi di Indonesia. Tak lupa juga, lika-liku yang dilewatinya hingga mencapai titik saat ini.

Jiwa kerelawanan telah terpatri dalam diri Vian sejak belia. Ketika usia empat tahun, ia telah terlibat dalam penggalangan dana untuk anak-anak korban musibah tsunami Aceh di tahun 2005 silam. Sejak saat itu, berbagai kegiatan kerelawanan ia ikuti. Hingga akhirnya kini, ia telah mendirikan sekaligus mengembangkan Komunitas Literasi Anak Banua.

Tanggapan Guru Setelah Diberi Laptop Pelajar oleh Pemerintah

Petualangan bersama komunitas yang awalnya bernama Pemuda Perintis Asa ini berawal di tahun 2018. Saat itu, ia berkesempatan untuk mengajarkan materi tentang Hari Anak Nasional sekaligus mengajak anak-anak di desa untuk bermain.

Lalu, ia menemukan bahwa ternyata banyak dari anak-anak tersebut belum dapat membaca dengan lancar. Kesadaran ini membuat Vian dan tim ingin membantu anak-anak untuk meningkatkan kemampuan literasi mereka.

Vian bersama para anggota Komunitas Literasi Banua kemudian mencoba untuk melakukan identifikasi bagaimana masalah ini muncul. Seketika, berbagai problematika pun muncul di permukaan. Mulai dari minimnya akses terhadap ilmu dan buku bacaan, tenaga pengajar yang kurang kompeten, hingga tidak meratanya kesempatan pendidikan bagi anak-anak desa.

Tumbuh dan terus menebar kebaikan

Salah Satu Kegiatan Bersama Siswa | Dokumentasi Pribadi/Alvian Wardhana
info gambar

Diawali dengan pendekatan kepada masyarakat setempat, kemudian menerima penolakan, keraguan, hingga dukungan dari warga sekitar, kini Literasi Anak Banua telah memiliki dua kegiatan inti yang menjadi program kerja utama komunitas tersebut.

Pertama, kegiatan rutin yang terbagi atas dua kegiatan besar, yaitu pemberian les gratis akademik dan non akademik. Vian menyebutkan bahwa dalam kegiatan ini anak-anak akan dibagi menjadi kelompok kecil. Kemudian, mereka akan belajar dengan memaksimalkan berbagai cara penyerapan informasi seperti konsep audio, visual, dan kinestetik. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk mengulang pelajaran di sekolah.

Meningkatkan potensi siswa menjadi tujuan utama bagi les non akademik. Di sini, mereka akan belajar berpuisi, menari, menciptakan karya seni, hingga memaksimalkan potensi olahraga seperti berenang.

Kedua, melalui one way project. Kegiatan ini dilaksanakan tiap tahun atau sesuai kebutuhan. Misalnya, kegiatan Banua Dongeng atau pembukaan donasi, pembagian masker reusable, dan pendonasian buku-buku ke anak-anak desa.

Upaya Akbar Al Ayyubi Menjaga Suku Asli Pulau Komodo dari Pengungsian

Merangkul dan menumbuhkan komunitas lain

Alvian Wardhana bersama Para Siswa | Dokumentasi Pribadi/Alvian Wardhana
info gambar

Vian ingin kebaikan yang dibawa oleh Literasi Anak Banua dapat turut membawa kebaikan lainnya. Salah satunya melalui program pemberdayaan dengan basis kemandirian anak muda.

Vian percaya bahwa anak muda memiliki potensi dan berdaya. Bersama Literasi Anak Banua, ia turut memberdayakan anak desa untuk mandiri dan bisa bertumbuh. Kini, Literasi Anak Banua ikut membawa ruang-ruang perubahan lain melalui komunitas baru yang muncul. Seperti Ruang Disabilitas Banjarmasin, Tradisional Game Returns, dan masih banyak lagi.

Literasi Anak Banua berfokus dalam meningkatkan literasi di daerah 3T, khususnya bagi masyarakat dan suku anak dalam yang belum banyak terekspos dengan pendidikan. Kini, komunitas ini telah menjangkau lebih dari 14 desa di 3 kabupaten, dengan lebih dari 1800 anak-anak yang terdampak.

Adib Budiono dan Inovasinya Membuat Masker Bagi Tunarungu

Meraih penghargaan Ashoka Changemaker dan Diana Award 2021

“Ada satu hal yang benar-benar aku pegang. Dulu, aku pernah diremehkan dalam kegiatan provinsi dan nasional karena aku adalah anak desa,” kata Vian ketika ditanya salah satu peristiwa yang memicunya untuk mendirikan komunitas Literasi Anak Banua.

Lebih lanjut, Vian menjelaskan ketika berbicara tentang anak daerah atau anak desa, sering kali muncul tentang keterbatasan. Sayangnya, orang jarang membicarakan tentang potensi dan kemampuan.

Vian percaya bahwa setiap anak terlahir dengan kemampuan masing-masing yang begitu hebat. Itulah yang memperkuat niat Vian untuk terus membantu mereka, anak-anak di daerah 3T.

Berbagai apresiasi dan penghargaan baik nasional maupun internasional telah Vian peroleh. Di antaranya Ashoka Changemaker, sebuah penghargaan bagi anak muda yang membuat perubahan bagi sekitarnya dan Diana Award penghargaan paling bergengsi yang dapat diterima oleh anak muda berusia 9--25 tahun untuk aksi sosial atau pekerjaan kemanusiaan mereka.

Melalui ini, Vian bertekad untuk menyuarakan hak dan aspirasi anak-anak hingga ke dunia internasional, tidak terbatas hanya di pemerintah lokal saja.

“Lakukan saja walau sekecil apapun, karena kita nggak tahu apakah langkah ini akan berdampak besar atau seperti apa. Hasil itu akhir. Sekarang tentang bagaimana memulai satu langkah saja,” pungkas Vian.*

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini