SD di Lombok Barat Jadi Sekolah Pertama yang Dibangun dari Bata Sampah Plastik

SD di Lombok Barat Jadi Sekolah Pertama yang Dibangun dari Bata Sampah Plastik
info gambar utama

Sudah bukan lagi menjadi hal asing, keberadaan sampah terutama yang terdiri dari bahan plastik sejak dulu hingga kini dapat dikatakan sebagai permasalahan umum di berbagai negara, termasuk Indonesia sendiri.

Masih memiliki tugas besar dalam menghadapi persoalan sampah di negeri ini. Di saat yang bersamaan, GNFI sendiri bukan baru sekali dua kali membahas mengenai berbagai persoalan sampah yang dihadapi semua pihak dari waktu ke waktu.

Tapi tentunya, di balik kondisi tersebut tetap ada secercah pemberitaan positif yang dapat menjadi harapan akan pengelolaan sampah di Indonesia, yaitu tentang bagaimana ragam upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak dalam menangani limpahan ton sampah plastik yang tak terhingga keberadaannya, menjadi sesuatu yang berguna dan memiliki nilai tersendiri.

Bukan angan-angan belaka, pelaksanaan hal tersebut nyatanya sudah kerap beberapa kali terbukti secara nyata, salah satunya lewat upaya yang berjalan dalam pembangunan Sekolah Dasar (SD) di salah satu wilayah Indonesia, yaitu di Lombok Barat (NTB).

Inovasi Paving dari Sampah Plastik

Sekolah berkonsep zero-waste

Kabar mengenai pemanfaatan sampah plastik menjadi sesuatu yang bermanfaat datang dari wilayah Dusun Medas Bentaur, Desa Taman Sari, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat.

Di wilayah spesifik tersebut, ada sebuah sekolah yang mendapat keistimewaan pembangunan kembali setelah tragedi gempa berkekuatan 6,4 skala richter pada tahun 2018, yang mengguncang sekaligus meluluhlantakkan sejumlah bangunan, salah satunya SDN 04 Medas.

Semakin istimewa, karena setelah tiga tahun berselang dari tragedi kelam yang terjadi, pembangunan hampir seluruh bagian dari SDN 04 Medas seperti yang telah disebutkan sebelumnya menggunakan bahan bangunan yang tak biasa, yaitu berupa susunan bata yang dibuat dari pengolahan sampah plastik (ecobrick).

Melansir Radar Lombok, pembangunan SD yang ecobrick ini sejatinya diprakarsai oleh Classroom of Hope, organisasi non-provit asal Australia yang kerap melakukan gerakan pendirian sarana pendidikan di berbagai negara.

Bekerja sama dengan Pelita Foundation Lombok dan Pemprov NTB, pihak Classroom of Hope akhirnya menunjuk Block Solutions, perusahaan konstruksi bangunan rumah berbasis ramah lingkungan yang berasal dari Finlandia, untuk menggarap pembangunan SDN 04 Medas menggunakan bahan daur ulang sampah plastik tersebut.

Di Finlandia, bata ecobrick sudah lazim digunakan sebagai pondasi utama pada rumah atau hunian tempat tinggal.

Penggunaan bata ecobrick pada SDN 04 Medas menjadikan sekolah ini sebagai sebuah proyek percontohan sekaligus menjadi sekolah pertama di Indonesia yang dibangun dengan menerapkan sistem ramah lingkungan dan berkonsep zero-waste.

Berlatih Mengolah Sampah Organik Jadi Produk Zero Waste

Kualitas bangunan yang dibangun dari bata ecobrick

Bangunan SDN 04
info gambar

Menyoal ketahanan bata ecobrick, pada dasarnya material ini memiliki bentuk dan cara pemasangan layaknya balok lego, dengan bagian tengah yang memiliki lubang sebagai tempat untuk penempatan besi pengait.

Sebelum disusun, pada bagian dasar akan dipasang pelat besi untuk penjepit bata sekaligus sebagai elemen dasar penguat bangunan.

Sementara dari segi keunggulan, bata ecobrick memiliki bobot lebih ringan, harga yang terjangkau, serta material yang diklaim dapat bertahan hingga 100 tahun, sebagaimana usia plastik untuk dapat terurai.

Dari segi keamanan, dapat dipastikan bahwa bangunan yang dibuat dengan bata ecobrick ini tahan akan guncangan gempa.

"Jikalau nanti terjadi bencana alam seperti gempa, jadi dia (bangunan) akan tetap bergoyang tetapi elastis. Jadi anak-anak kalau berada di dalam ruangan mempunyai kesempatan untuk menyelamatkan diri," jelas Maksun, Kepala Sekolah SDN 04 Medas, seperti yang diwartakan Kompas.com.

Secara lebih detail dalam pengelolaan bahan baku sampah plastik yang dimaksud, disebutkan bahwa butuh sebanyak dua hingga tiga ton sampah yang diolah menjadi bata untuk membangun tiap satu ruang kelas berukuran 6x10 meter yang ada di SDN 04 Medas.

Soal proses pembangunan, pendirian sekolah ini juga terbilang memangkas waktu yang cukup signifikan karena material ecobricks hanya perlu dirakit menggunakan tangan layaknya lego.

Hal tersebut dikonfirmasi oleh Gubernur NTB, Sitti Rohmi Djalilah, saat meninjau pembangunan SDN 04 Medas di bulan Juni 2021 lalu.

“Alhamdulillah, kita dapat memanfaatkan sampah dan menjadi sumber daya untuk kita semua, penggunaan bata ecobrick ini sangat ringan, murah, aman saat gempa dan sangat cepat membuatnya. Sekolah ini saja merakit bloknya seperti lego hanya butuh waktu 5 jam, paling lama mebutuhkan waktu 1 minggu 10 hari,” jelas Rohmi dalam laman resmi Pemprov NTB.

Perihal keberadaan bata yang masih didatangkan dari Finlandia, Pemprov NTB nyatanya menindaklanjuti hal tersebut melalui rencana dan kemungkinan kerja sama dengan pihak Block Solutions di waktu yang akan datang, untuk membangun pabrik bata ecobrick di wilayah setempat.

“Insya Allah, rencana kita ke depannya akan dibangun pabrik untuk menghasilkan blok plastik, untuk mengakomodir pengelolaan sampah plastik di NTB,” pungkasnya.

Produk Pengganti Plastik untuk Selamatkan Bumi

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini