Kisah dan Makna di Balik 5 Lukisan Raden Saleh yang Mendunia

Kisah dan Makna di Balik 5 Lukisan Raden Saleh yang Mendunia
info gambar utama

Penulis: Nur Annisa Kusumawardani

Semarakkan semangat dan aksi kolaborasi Festival Negeri Kolaborasi live di seluruh kanal media sosial GNFI. Informasi lebih lanjut kunjungi FNK 2021.

Raden Saleh Sjarif Boestaman (1811-1880) atau lebih dikenal sebagai Raden Saleh merupakan seorang pelukis atau seniman beraliran modern pertama di Indonesia. Ia juga menjadi yang pertama pula mengenyam pendidikan seni di Eropa.

Tumbuh di wilayah bekas koloni Belanda di Jawa, sejak muda Saleh telah melihat berburu sebagai hobi favorit penguasa kolonial. Aktivitas ini jugalah yang menjadi inspirasi motif favoritnya dalam melukis.

Singkat cerita, Saleh berhasil mendapatkan dana hibah untuk mendapat pendidikan melukis di Belanda pada tahun 1830. Sosok yang kemudian dijuluki sebagai Der Schwarze Prinz (Pangeran Hitam) ini menjadi wajah pertama Indonesia yang menjejaki bumi eropa untuk belajar seni. Terhitung hampir 23 tahun lamanya Saleh berkelana di Belanda, Jerman, Prancis, Swiss, Italia, dan Skotlandia sebagai seniman lepas.

Lukisan-lukisan Raden Saleh telah tersebar di berbagai penjuru dunia, beberapa bahkan terjual dengan harga miliaran dolar. Selain sebagai pencetus lahirnya aliran orientalis di Jerman, Raden Saleh juga dianggap sebagai bapak seni lukis modern Indonesia.

Memahami Konsep Ekowisata, Liburan dengan Tanggung Jawab pada Lingkungan dan Masyarakat

Lima lukisan Raden Saleh yang Mendunia

Belum dapat benar-benar dipastikan berapa banyak lukisan yang diciptakan Raden Saleh semasa hidupnya. Meskipun begitu, terdapat beberapa lukisan yang dikenal dunia dan mendapat penawaran tertinggi dalam acara lelang. Berikut lima di antaranya.

1. Perburuan Banteng (1855)

Perburuan Banteng (Wild Bull Hunt) | Foto: Wikimedia
info gambar

Lukisan yang juga disebut sebagai "Wild Bull Hunt" atau "La Chasse au Taureau Sauvage" ini merupakan salah satu karya Raden Saleh yang sangat terkenal. Karya ini terjual pada suatu kegiatan lelang di Vannes, Prancis, pada 27 Januari 2018. Dilansir dari Indonesia Expat, lukisan ini dihargai sekitar 7.2 miliar Euro atau sekitar 8.8 miliar dolar USD.

Seperti karya Raden Saleh pada umumnya, lukisan berdimensi 110 x 180 sentimeter ini memiliki tema perburuan yang memperlihatkan konflik antara manusia dan hewan yang liar dan dramatis. Lukisan ini dinilai unik karena melibatkan self-potrait di mana Saleh melukiskan dirinya sendiri di atas kuda cokelat yang gagah.

Lukisan dengan media oil painting ini merupakan pesanan dari seorang pedagang gula dan kopi di abad ke-19 bernama Jules Stanislas Sigisbert Cezart. Karya ini kemudian dijual dan diwariskan ke beberapa generasi, hingga kemudian ditemukan kembali di rumah seorang warga Prancis pada Agustus 2017. Lukisan ini terakhir dimiliki oleh kolektor seni anonim dari Indonesia yang menawarkan harga tertinggi pada kegiatan lelang di Vannes, Prancis.

Dikabarkan, terdapat beberapa karya Raden Saleh yang hilang dalam kebakaran di sebuah pameran seni kolonial di Paris pada tahun 1931. Lainnya, ada sekitar 30 karya Saleh yang dikenal di Indonesia, termasuk enam di antaranya dalam koleksi kepresidenan di Istana Merdeka.

Menikmati Es Krim Tip Top, Kuliner Legendari Yogyakarta Sejak 1936

2. Perburuan Rusa (1846)

Perburuan Rusa (The Deer Hunt) | Foto: Wikimedia
info gambar

Lukisan dengan nama internasional “The Deer Hunt” ini terjual di Singapura seharga 1.8 miliar dolar pada tahun 1996. Karya ini merupakan salah satu lukisan paling simbolis Raden Saleh yang menggambarkan perjuangan untuk bertahan hidup.

Pada era ini, Raden Saleh juga menciptakan berbagai lukisan, antara lain The Lion Hunt (1841), The Bull Hunt (1851), dan juga Fighting the Lion (1870).

3. Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857)

Penangkapan Pangeran Diponegoro (The Arrest of Diponegoro) | Foto: Jakarta Globe
info gambar

Setelah puluhan tahun di eropa, akhirnya Raden Saleh merasa terpanggil untuk kembali ke tanah air. Pada tahun 1851, ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan berkarya di tanah kelahirannya. Di sini, ia mulai mengeksplorasi tema lain dengan mengangkat peristiwa sejarah, salah satunya adalah lukisan yang menunjukkan penangkapan Pangeran Diponegoro pada tahun 1857.

Lukisan ini adalah salah satu yang paling ramai diperbincangkan dan menjadi pemantik diskusi mengenai sikap politik Radel Saleh, serta apakah karya ini menyampaikan pesan anti kolonial. Kini, lukisan ini dipajang di Istana Negara, menjadi salah satu lukisan langka Raden Saleh yang menggambarkan peristiwa sejarah sebagai tema besarnya.

Braga Bandung, Pusat Perbelanjaan Sejak Masa Kolonial Belanda

4. Perburuan Singa (1840 dan 1841)

Perburuan Singa (The Lion Hunt) | Jakarta Globe
info gambar

“The Lion Hunt” menjadi karya Saleh yang tak kalah terkenal dengan lukisan penangkapan Diponegoro. Bahkan, menurut Direktur Nauhaus, lukisan ini dijual seharga hampir dua juta Euro pada tahun 2011.

Dilansir dari Jakarta Globe, terdapat dua versi dari lukisan Perburuan Singa oleh Raden Saleh. Pertama yang diciptakan pada tahun 1840, dan satu yang lain dibuat satu tahun setelahnya dengan komposisi yang lebih matang.

Dilukis ketika Saleh tinggal di Dresden, seri Perburuan Singa menjadi salah satu lukisan adegan berburu yang paling awal diciptakan oleh Raden Saleh. Lukisan-lukisan ini memikat para pecinta seni Jerman, yang saat itu memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang wilayah Timur.

Lukisan Perburuan Singa versi tahun 1840 kini menjadi koleksi pribadi, dengan versi berikutnya dapat dilihat di Museum Seni Nasional Latvia. Lukisan itu berakhir di negara Baltik melalui tangan pedagang Jerman-Baltik, Friedrich Brederlo yang membelinya di Dresden dan kemudian menjualnya di Riga bersama lukisan seniman lain.

Luas Kawasan Mangrove Indonesia dan Upaya Menghadapi Ancaman Kerusakan

5. Singa Terluka (1838)

Singa Terluka (The Wounded Lion) | Jakarta Globe
info gambar

Binatang buas menjadi subjek lukisan favorit Raden Saleh. Beberapa karyanya yang menampilkan singa ialah “The Wounded Lion'' (1838) dan “Head of Lion” (1843). Untuk mempelajari anatomi hewan buas ini, Raden Saleh gemar pergi ke pertunjukan penjinak hewan Henri Martin di Den Haag. Di sini, ia sering menyelinap ke belakang panggung untuk melihat singa dari jarak dekat.

Lukisan ini kini menjadi koleksi permanen Galeri Nasional Singapura. Sedangkan lukisan “Head of Lion” dapat diamati di Museum Lippo di Indonesia. Banyaknya lukisan singa yang ia ciptakan, menjadi dasar dari karya orientalisnya di kemudian hari.

Hidup di era perang, Raden Saleh sering memamerkan semangat perang dalam lukisan Romantisme dan Orientalisnya. Ia meninggalkan warisan dan aset berharga bagi negara dan dunia.

“Karya-karyanya menggambarkan kebanggaan, semangat, dan perjuangan yang mengekspresikan masalah sosial saat ini,” kata Russell Storer, wakil direktur Kuratorial & Koleksi Galeri Nasional Singapura (GNS).*

Referensi: Indonesia Expat | DW | Jakarta Globe | Indonesia Design

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini