Etnobotani, Rahasia Kecantikan Wanita Suku Baduy

Etnobotani, Rahasia Kecantikan Wanita Suku Baduy
info gambar utama
Gabung ke Telegram Kawan GNFI, follow Instagram @kawangnfi dan Twitter @kawangnfi untuk dapat update terbaru seputar Kawan GNFI.

Di tengah kepungan hutan beton yang diisi mal dengan beragam diskon serta apartemen dengan harga selangit, terkadang kita masih melihat warga suku baduy melintas di pinggir jalan, tak beralas kaki, mengenakan baju kain sederhana, berikut ikat di kepalanya. Kalau ditanya, mereka menjawab hendak menjual madu atau mengunjungi saudara di kota.

Orang Baduy menyebut diri mereka 'Urang Kanekes' atau 'Orang Kanekes'. Kata 'baduy' merupakan sebutan dari peneliti Belanda, mengacu pada kesamaan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang gemar berpindah-pindah.

Suku Baduy bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Pemukiman mereka berjarak sekitar 40 kilometer dari Rangkasbitung, pusat kota di Lebak, Banten.

Dikutip dari laman Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak, suku Baduy terbagi dua, yaitu Baduy luar dan dalam. Lalu apa yang membedakannya? Secara penampilan, suku Baduy dalam memakai baju dan ikat kepala serba putih, sedangkan suku Baduy luar memakai pakaian hitam dan ikat kepala berwarna biru.

Kepercayaan Suku Baduy

Potret suku baduy | Foto: CNN Indonesia
info gambar

Menurut kepercayaan yang mereka anut, Suku Baduy mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Adam dan keturunannya, termasuk Suku Baduy, mempunyai tugas bertapa demi menjaga harmoni dunia.

Disiapkan Langsung Oleh Tetua Adat, Ini Elemen Pakaian Adat Baduy yang Dikenakan Presiden Jokowi

Oleh sebab itu Suku Baduy sangat menjaga kelestarian lingkungannya dalam upaya menjaga keseimbangan alam semesta. Tak ada eksploitasi air dan tanah yang berlebihan bagi mereka. Cukup adalah batasannya.

Suku Baduy sangat bersahabat dengan alam. Hal ini terlihat dari lokasi dimana mereka tinggal. Lingkungan tempat tinggal mereka yang terpencil dan berada ditengah-tengah pegunungan, perbukitan rimbun, serta hutan lebat dengan sungai dan anak sungai, juga hamparan kebun dan ladang (huma) sehinga sulit dijangkau oleh transportasi.

Etnobotani sebagai bahan kosmetik

Dwi Mulyani
info gambar

Etnobotani dari bahasa Yunani ethnos, yang berarti orang dan tumbuhan-tumbuhan adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dan lingkungan tumbuhannya. Konservasi dan pelestarian tumbuhan berbasis kearifan lokal masyarakat Baduy, sudah tercermin dari cara hidup yang masih tradisional dan sederhana, seperti melakukan budidaya, reboisasi, dan melakukan tebang pilih supaya hutan tetap terjaga keseimbangannya.

Masyarakat Baduy mengangap bahwa wilayah mereka adalah sebagai inti jagat, dianggap memiliki hak untuk tetap terpeliharan dan tidak tergangu oleh perubahan. Gangguan itu akan membuat ketidakseimbangan alam semesta, termasuk diri mereka sendiri.

Mereka pun memanfaatkan etnobotani tumbuhan dalam kehidupan kesehariannya, termasuk dalam kebersihan dan kosmetik kecantikan. Dengan begitu, wanita Suku Baduy tetap terawat untuk menjaga kecantikan mereka meskipun tidak menggunakan kosmetik yang ada di pasaran.

Seperti yang di tulis dalam penelitian Aisyah Silmi Kaffah dalam skripsi yang berjudul, Etnobotani Tumbuhan Bahan Kosmetik Suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar Di Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Provinsi Banten tahun 2019.

Mengunjungi Perkuburan Tua Peninggalan Belanda yang Penuh Sejarah

Dalam penelitiannya, Aisyah menyebutkan bahwa masyarakat Baduy Dalam memanfaatkan daun dengan persentase sebesar 35 persen. Tumbuhan yang dimanfaatkan daunya sebagai bahan kosmetik tradisional di antaranya sirih, kecombrang, ki-caang, aren, pegagan, padi, pacar kuku, kersen, belimbing wuluh, dan pandaan.

Kemudian, masyarakat Baduy Luar menggunakan organ daun dengan persentase sebesar 49 persen. Tumbuhan yang dimanfaatkan daunya sebagai bahan kosmetik tradisional di antaranya sirih, kecombrang, padi, pacar kuku, kersen, dan belimbing wuluh.

Daun adalah organ tumbuhan yang sering dimanfaatkan salah satunya sebagai bahan kosmetik. Hal ini karena daun memiliki kandungan yang berkhasiat.

Selain daun, masyarakat Suku Baduy juga memanfaatkan umbi-umbian untuk dijadikan bahan kosmetik, seperti umbi bukung. Berdasarkan kandungan, umbi bakung memiliki kandungan yang dibutuhkan untuk menutrisi kulit.

Cara masyarakat Baduy memanfaatkan tumbuhan

Ilustrasi Wajah Wanita Baduy Sumber | Foto: Shutterstock.com
info gambar

Para wanita Suku Baduy memanfaatkan tumbuhan menjadi bahan kosmetik dan kesehatan. Misalnya saja untuk merawat rongga mulut, mereka menggunakan sabut kelapa sebagai pengganti sikat gigi. Kemudian untuk menghilangkan bau mulut, mereka menggunakan daun sirih yang direbus untuk berkumur.

Gunawan Maryanto dan Keberhasilan Raih Piala Citra Lewat Film Tanpa Dialog

Tak hanya itu, para wanita Suku baduy juga merawat bibir, wajah, dan tubuh mereka dengan bahan alami. Untuk bibir, mereka memanfaatkan buah galuga. Lalu, untuk masker wajah mereka menggunakan buah asam jawa dan beras yang dipercaya dapat menghilangkan bekas jerawat, mencerahkan wajahm dan menghilangkan flek hitam.

Kemudian untuk perawatan tubuh sebagai pengganti sabun, mereka menggunakan batang honje yang dimemarkan hingga menjadi serabut, kemudian digosok ke bagian tubuh

Kosmetik tradisional mulai ditinggalkan

Sayangnya, pengaruh dari penyebaran pengetahuan lokal di Baduy Luar lebih rendah. Hal ini yang membuat sebagian masyarakat, terutama anak muda tidak mengerti cara penggolahan dan pemanfaatan tumbuhan yang berpotensi sebagai bahan kosmetik. Ada sebagian dari mereka yang lebih memilih menggunakan kosmetik di pasaran karena lebih praktis.

Wilayah Baduy Luar mempunyai aturan adat yang longgar dibandingkan Baduy Dalam. Maka, tidak ada aturan atau larangan dalam menggunakan tumbuhan sebagai bahan kosmetik. Sehingga, peran orang tua dalam penyampaikan pengetahuan lokal tentang pemanfaatan tanaman pun berkurang.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RR
KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini